oleh

Bangkit Ditengah Pandemi Covid- 19, RSUD Baubau Tingkatkan Mutu Pelayanan Buat Masyarakat Nyaman

Kasamea.com BAUBAU

Tak ingin menunggu atau menunda waktu lebih lama, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Kota Baubau, dr Lukman SpPD, segera berbuat dan terus berbenah. Setelah melakukan evaluasi pada sistem pelayanan juga manajemen, dr Lukman bersama tim unit kerja yang solid, kini fokus bekerja profesional memaksimalkan peningkatan mutu pelayanan dan perbaikan sistem manajerial.

Selain penataan secara internal, RSUD Baubau juga membangun, lebih menguatkan kembali kepercayaan masyarakat. Salah satunya dengan menggelar sosialisasi layanan kesehatan RSUD Baubau.

Sosialisasi digelar di Kecamatan Bungi dan Sorawolio, selama dua hari, Selasa – Rabu (10 – 11 November 2020), melalui tiga Narasumber: dr Hasrida Hamid (Kabid Rekam Medis), Nuraisyah SKep Ners (Kabid Perawatan), Rasifa SKm (Kabid Pelayanan).

Baca juga ⬆

Menjelaskan tentang standar operasional prosedur (SOP), gambaran pelayanan di rumah sakit yang populer disebut rumah sakit palagimata tersebut.

Sosialisasi di dua Kecamatan hinterland ini dilakukan semata untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Kota Baubau.

Usai sosialisasi, Kepala Bidang Rekam Medis, dr Hasrida Hamid, menjelaskan, beberapa poin yang disampaikan dalam Sosialisasi, terkait layanan di RSUD Baubau. Poli apa saja yang sudah dibuka, dokter spesialis yang sudah memberi layanan, juga adanya perubahan sistem layanan, selama pandemi covid 19 ini.

Sosialisasi di aula kantor Camat Bungi

Hasrida mengatakan, beberapa bulan terakhir, karena covid 19, masyarakat merasa takut berobat, dirawat di RSUD Baubau. Terlebih RSUD Baubau ditunjuk oleh Gubernur Sultra sebagai RS rujukan covid 19, yang tak hanya melayani pasien Baubau, melainkan juga untuk wilayah Kepulauan Buton.

Hasrida memastikan, RSUD Baubau menerapkan standar pelayanan covid 19 sesuai protokol, dengan memisahkan pasien covid 19 dan non covid 19. Sebisa mungkin, secepat mungkin diketahui pasien positif covid 19 atau tidak.

RSUD Baubau memastikan pasien non covid 19 aman dari sebaran covid 19, karena sudah dilakukan deteksi awal, juga protokol pelayanan yang tepat.

“Intinya mengubah image yang ada di masyarakat, yang takut berobat,  dirawat di RSUD,” jelas Hasrida.

Upaya memutus rantai sebaran covid 19, RSUD Baubau benar-benar menerapkan standar protokol, juga telah menyiapkan ruang isolasi covid 19 sementara, yang sebelumnya sudah digunakan untuk merawat dan menyembuhkan pasien covid 19. Disusul pembangunan sarana ruang isolasi standar covid 19, lengkap dengan fasilitasnya, yang rencananya beberapa bulan kedepan (tahun 2021) sudah bisa difungsikan.

Hasrida mengungkapkan, Direktur yang baru, dr Lukman SpPD, tidak menetapkan banyak visi. Namun Kepemimpinannya menitikberatkan pada kemajuan RSUD Baubau. Diantaranya, mengubah sistem informasi, juga perubahan pelayanan.

“Jadi memang pak Direktur tekankan itu, karena memang mempengaruhi betul, baik tidaknya pelayanan yang diberikan di rumah sakit kita,” ungkapnya.

Sosialisasi di aula kantor Camat Sorawolio

Saat ini, lanjut Hasrida, RSUD Baubau memiliki dua Dokter Obgyn (akronim dari obstetri dan ginekologi). Dengan predikat ‘SpOG’ Spesialis Obstetri dan Ginekologi, yang secara keseluruhan, Dokter Obgyn merupakan tenaga medis profesional yang menangani kesehatan reproduksi wanita, kehamilan, dan kelahiran.

Namun dua dokter ini tak hanya menjalankan tugasnya di RSUD Baubau, tetapi juga memberikan layanan di rumah sakit lainnya, di wilayah Kepton. Sebab di Kepton sendiri, hanya ada dua dokter ‘SpOG’ dimaksud.

“Jadi harus berbagi jam layanan dengan rumah sakit lain, karena jam layanannya tinggi sekali. Dan juga karena jumlah ibu hamil yang mau melahirkan itu banyak,” kata Hasrida.

Pandemi covid 19 saat ini,  semakin banyak yang harus ditangani oleh Dokter Spesialis Obgyn. Dua Dokter Spesialis Obgyn untuk melayani wilayah Kepton, tentu tidak memadai.

“Jadi Dokter (Spesialis Obgyn, red) yang di RSUD itu sama dengan Dokter yang di rumah sakit Siloam. Pasien di rumah sakit Siloam tidak mungkin tidak dilayani. Sama halnya di RSUD,” ucapnya, ditemui, Rabu (11/11/20).

Lebih lanjut, Hasrida juga menyebutkan, ada beberapa Dokter Spesialis lainnya, yakni, dua Dokter Spesialis penyakit dalam ‘SpPD’. Salah satunya adalah Direktur RSUD, dr Lukman SpPD. Dengan tugas dan tanggung jawab sebagai Direktur, secara langsung juga berkurang jam layanan yang diberikan sebagai Dokter.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, atau Jardiovaskuler, Dokter Bedah Nulut adalah Dokter Gigi Spesialis yang menangani penyakit pada mulut, gigi, rahang, dan lidah, khususnya dengan operasi Spesialis Bedah Mulut.

Ada juga Dokter Urologi, adalah Dokter Spesialis yang mempelajari ilmu tentang sistem saluran kemih (Urologi). Ilmu Urologi adalah bidang kedokteran yang fokus pada diagnosis dan pengobatan penyakit saluran kemih, baik pria maupun wanita urologi, khusus untuk batu ginjal dan saluran kemih.

Patologis Klinisi adalah cabang Spesialis kedokteran yang memberi perhatian lebih khusus pada diagnosis penyakit melalui analisis laboratorium atas cairan tubuh; darah, urin, dan jaringan, menggunakan piranti kimiawi, mikrobiologi, hematologi dan patologi molekuler.

Yang terbaru di RSUD Baubau adalah adanya Dokter Spesialis Paru. Dokter Spesialis Paru adalah seorang dokter ahli yang menangani penyakit dan gangguan pada paruparu dan saluran pernapasan bagian bawah.

Hasrida yang sebelumnya menjabat Kepala Puskesmas di Kota Baubau, menambahkan,
untuk SOP pelayanan RSUD, Direktur sudah menekankan untuk tidak lagi menggunakan sistem tulis menulis memakai kertas, dan pakai ballpoint. Era teknologi sudah semakin maju, RSUD memberlakukan sistem fingerprint. Untuk menjamin para pegawai bisa hadir tepat waktu, dan dengan begitu, pelayanan juga bisa lebih cepat dilakukan.

Terkait shift jam kerja, kata Hasrida, masih berjalan normal.Perawat RSUD Baubau tidak bermasalah. Jumlahnya cukup. Ditengah pandemi covid 19 ini  diberlakukan petugas bekerja 6 jam dalam sehari.

“Untuk covid 19 harus banyak tim yang jaga. Jadi memang selain Pegawai RSUD, kita juga merekrut dari luar, dan meminta bantuan juga dari Dinkes untuk relawan,” jelasnya.

Hasrida kembali memastikan, untuk sistem layanan yang diterapkan ditengah pandemi covid 19, sesuai protokol kesehatan. Sejak pertama masuk mendaftar untuk berobat, sudah dilakukan rapid tes, untuk mengetahui kondisi tubuh reaktif atau non reaktif.

“Jadi sudah dipilah sejak awal. Sehingga pada saat TCM kita sudah tau mana yang positif, dan mana yang negatif covid 19,” tambah Hasrida.

Alumni Universitas Indonesia ini, memastikan, pasien positif covid 19 langsung menjalani isolasi, sedangkan pasien suspect covid 19 juga dipisahkan. Agar tidak bergabung bersama pasien tanpa gejala covid 19.

RSUD Baubau menyiapkan ruang suspect covid 19, dan ada ruang pasien yang sudah terkonfirmasi positif covid 19. Terpisah.

Hasrida juga menjelaskan tentang sarana prasarana RSUD Baubau, yang kini memiliki gedung baru Keidananan, untuk pasien kelas I, II, dan III. Dengan adanya sarana prasarana ini, pasien bisa mendapatkan pelayanan yang  lebih baik lagi. Lebih nyaman, sesuai standar.

“Ada beberapa rawat inap yang disatukan, karena kita kan rumah sakit rujukan, harus disiapkan juga yang suspect tadi. Jadi butuh ruangan, itu yang kita satukan.  Misalnya bedah dan interna, kita satukan, lantai 1 untuk interna, lantai 2 untuk bedah,” urai Hasrida.

Sampai saat ini, pasien di RSUD Baubau tidak ada yang ditolak.  Ruangan masih memadai.

Memastikan RSUD Baubau adalah pilihan tepat dan nyaman untuk berobat, berkonsultasi, atau perawatan medis, Hasrida memaknai kenyamanan pasien, adalah pelayanan yang diberikan harus cepat. Mulai dari pendaftaran, pasien tidak lama menunggu, sampai dengan mendapat pelayanan pun tidak harus menunggu lama didepan poli.

Kemudian mengantri obat, juga tidak terlalu lama. Dan pada saat pasien dirawat, ada ruangan tersendiri, ruang privasi, tidak bercampur aduk.

Untuk pasien kelas III, layanannya digabung dalam satu ruangan, dengan delapan tempat tidur. Tetapi pasien tetap mendapat privasi, karena ada tirai yang betul- betul bisa digunakan sebagai pemisah antara pasien yang satu dengan pasien lainnya.

“Kalaupun di Bangsal, pasien punya ruang privasi. Kami bisa menjamin privasi pasien terjaga,” semangatnya.

Hasrida juga memastikan, tak ada perbedaan pelayanan atau perlakuan pada pasien umum atau peserta BPJS. Semua diberi pelayanan yang sama.

Perserta BPJS kelas II, kelas III semua mendapat pelayanan sesuai hak mereka. Pasien BPJS kelas I dilayani di ruang kelas I, begitu juga pasien kelas III, diberi layanan di kelas III. Yang membedakan hanyalah ruangan pelayanan.

“Itu saja yang berbeda, ruangannya. Tetap dilakukan visite. Yang umum juga, kalau dia pilih kelas III, ya kita layani di kelas III,” urainya.

Hasrida berharap, pihaknya, para Dokter, tenaga kesehatan, Pegawai / Karyawan RSUD Baubau semua merasa bangga memiliki RSUD. Kebanggaan ini diwujudkan, diimplementasikan dalam memberikan pelayanan terbaik. Ini adalah pesan Direktur RSUD Baubau, dr Lukman SpPD.

Ia juga berharap, seluruh masyarakat Kepton, khususnya Kota Baubau, juga merasakan kebanggaan yang sama, memiliki RSUD Baubau.

“Itu misi besar kita, menjadikan kebanggaan bersama, kita memberikan pelayanan yang lebih baik, dan masyarakat juga merasa memiliki, tidak perlu takut ke RSUD, tidak perlu takut dengan covid 19. Jadi arahnya kesitu,” tegas Hasrida, penuh optimisme.

[RED]

Komentar

News Feed