oleh

Bentrok HMI-Sat Pol PP Bau-Bau “Coreng” Peringatan Kemerdekaan RI


BAU-BAU

Lomba Gerak Jalan Indah (GJI) yang diselenggarakan selama 3 hari (13-15 Agustus 2019) oleh Pemerintah Kota Bau-Bau, dalam rangka memperingati Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia diwarnai bentrok antara Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Bau-Bau dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kota Bau-Bau, Kamis (15/8). Kala itu puluhan pengurus, anggota HMI turut menjadi peserta Lomba GJI, sedangkan personil Sat Pol PP Kota Bau-Bau tengah dalam tugas pengamanan, penertiban, pengawasan jalannya Lomba GJI.

Wakil Walikota Bau-Bau La Ode Ahmad Monianse SPd yang merupakan Alumni Kader HMI sangat menyayangkan kejadian tersebut. Ia menilai, tak sepantasnya Lomba GJI dimanfaatkan untuk aksi unjuk rasa.

Terlebih kata Monianse, Kader HMI adalah Kader Bangsa Indonesia, pemakna doktrin Keislaman dan Keindonesiaan.

“Itu harus utuh (memaknai, menghayati, mengamalkan doktrin Keislaman dan Keindonesiaan, red). Hari ini disaat kita merayakan hari Kemerdekaan, mereka mau nodai dengan sikap seperti itu, masih banyak hari kalau mereka mau demo,” kata Monianse prihatin.

Terlihat kala itu, Monianse berupaya melerai, mencegah reaksi berlebihan dalam bentrok, ditengah terik mentari yang menyengat.

Monianse menegaskan, Ia tidak alergi terhadap aksi unjuk rasa. Namun menurutnya, etisnya, unjuk rasa dilakukan pada situasi, kondisi, serta momentum yang tepat, bukan dalam momentum hikmad, euforia, sakral, semangat patriotisme peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Silakan mau demo, tapi jangan gunakan panggung seperti ini. Saya tidak alergi dengan demo. Saya sesalkan mereka salah membaca momen. Ini perayaan rakyat Indonesia, HMI itu kader Bangsa, masa Bangsanya dia tidak hargai, itu yang saya sesali,” kata Monianse.

Salah seorang Kader HMI Cabang Bau-Bau Derwin menyebutkan, bentrok dipicu Personil Sat Pol PP Kota Bau-Bau yang mengambil atribut, yang digunakan barisan GJI HMI Cabang Bau-Bau dalam melakukan variasi barisan.

“Kalau memang dilarang mengapa tidak sejak awal atribut kami diambil. Kami merasa terdiskriminasi, mengapa barisan lain bisa bervariasi kami tidak bisa. Itulah mengapa teman-teman terprovokasi” jelasnya.

[RIDWAN – editor LAMIM]

Komentar

News Feed