oleh

Dapat Dana Hibah MBKM, UM Buton Genjot Sarjana Siap Kerja

Rektor UM Buton, Dr Alzarliani

Kasamea.com BAUBAU

Universitas Muhammadiyah Buton (UM Buton) tahun ini mendapatkan dana hibah program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sekitar Rp 100juta, dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). MBKM merupakan
implementasi kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 3 Tahun 2020.

Dua Fakultas UM Buton yang mendapat kepercayaan dalam mengelola, merealisasikan dana hibah MBKM adalah Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), program studi (Prodi) Ilmu Hukum dan Ilmu Pemerintahan.

Rektor UM Buton, Dr Alzarliani mengungkapkan, saat ini kedua Prodi tersebut telah menyusun kurikulum, juga melengkapi dokumen pendukung bantuan dana hibah. Termasuk MoU (memorandum of understanding) dengan instansi yang akan bekerjasama dalam program MBKM.

Kata Alzarliani, misal Fakultas Hukum MoU dengan Pengadilan Negeri, dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN), atau kantor Imigrasi. FISIP sendiri, menjalin kerjasama dengan Universitas Sinjay dalam hal pertukaran mahasiswa.

Alzarliani menjelaskan, dari delapan semester yang dijalani mahasiswa dalam perkuliahan, pada semester lima, mahasiswa diharuskan belajar diluar bidang studi yang diprogram. Atau belajar diluar kampus.

“Walaupun demikian (dana hibah dikelola Prodi Ilmu Hukum dan Ilmu Pemerintahan, red), kita tetap mengikutkan semua prodi yang ada di UM Buton,” terangnya.

Melalui MBKM ini, Alzarliani berupaya mendorong, agar setelah meraih gelar S1, mahasiswa UM Buton memiliki kemampuan kreatif dan berinovasi, sehingga mampu serta siap berkompetisi, siap kerja, berdaya saing.

“Dengan pendalaman ilmu yang baik, diluar Prodi yang mereka program, InsyaAllah mereka mampu memenuhi permintaan pasar. Supaya mahasiswa tidak menganggur, bisa bekerja dimana saja, karena memiliki ilmu yang cukup luas,” semangatnya.

Menurut Alzarliani, selama ini cukup banyak Alumni yang kurang siap berkompetisi, karena ilmunya sangat terbatas. Oleh karena itu diberikan kebebasan tiga semester untuk belajar diluar Prodi.

Contoh mahasiswa Fakultas Pertanian, untuk memperdalam ilmu manajemenbpembiayaan, mahasiswa tersebut bisa kuliah memprogram bidang studi Prodi Akutansi di UM Buton.

“Sehingga dia lebih perdalam ilmu akutansinya. Sehingga betul betul ilmunya lebih luas, dan kita ikuti capaian pembelajarannya. Jadi memang MBKM harus butuh proses, butuh pendalaman yang kuat,” terangnya.

Melalui MBKM juga, lanjut Alzarliani, pihaknya mendorong agar mahasiswa bisa magang selama enam bulan (20 SKS) di salah satu instansi disana selama enam bulan. Jadi mahasiswa bukan hanya menjalani perkuliahan, tetapi ada pula ilmu yang mereka dapatkan saat magang. Butuh pendalaman yang kuat, kesepahaman, baik oleh Perguruan Tinggi (PT), maupun instansi tempat magang mahasiswa tersebut.

Bahkan kalau bisa, kata Alzarliani, setelah meraih gelar Sarjana, mahasiswa bisa diterima di tempatnya magang. Ini menguntungkan bagi mahasiswa.

Dari delapan program yang masuk dalam MBKM, UM Buton saat ini
melirik implementasi kewirausahaan, kemanusiaan, pertukaran pelajar, ada penelitian.

“Ini program spektakuler dari Mas Nadiem, suka atau tidak suka PT harus mengikuti. Karena ini kebijakan pemerintah, yang membutuhkan stamina yang kuat untuk mempersiapkannya,” tuturnya.

Keinginan kuat untuk mengimplementasikan MBKM, Alzarliani menguraikan, tetap harus disertai dengan program secara holistik, tak hanya persiapan kurikulum, juga pemahaman secara umum dari mahasiswa. Termasuk dengan Kaprodi, harus memiliki pemahaman yang secara menyeluruh terkait program MBKM. Tidak mencaplok, melainkan, ilmunya harus dimiliki. Sehingga memudahkan dalam mengimplementasikan MBKM.

Alzarliani melengkapi, bahwa saat ini pihaknya melalui Prodi Ilmu Pemerintahan, tengah menggenjot kerjasama dengan Universitas Sinjay. Telah ada MoU antara UM Buton dengan Universitas Sinjay, kini ditindaklanjuti antar Fakultas, dan akan ada pertukaran pelajar. Mahasiswa UM Buton ke Universitas Sinjay.

“Harapan kami terimplementasinya MBKM ini, bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas, yang punya kreativitas, inovatif, bisa bersaing, dan siap bekerja dimanapun mereka berada. Tidak lagi menganggur karena mereka sudah miliki multi disiplin ilmu,” pungkas Alzarliani.

[RED]

Komentar

News Feed