Pemerintah Kota Baubau melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana, terus mengintensifkan upaya percepatan penanganan stunting melalui kegiatan Fasilitasi Pengelolaan Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT), yang menyasar 40 Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB). Program berbasis pemberdayaan masyarakat ini difokuskan pada penguatan edukasi gizi keluarga melalui pemanfaatan bahan pangan lokal bergizi, guna menekan angka stunting secara signifikan di negeri Sara Patanguna.
Program DASHAT difokuskan pada keluarga yang masuk kategori berisiko stunting, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, baduta, balita dengan status gizi di bawah garis merah pada Kartu Menuju Sehat (KMS), hingga calon pengantin. Pemkot menilai intervensi terhadap kelompok sasaran tersebut menjadi langkah strategis, untuk mencegah terjadinya kekurangan gizi kronis sejak dini di lingkungan keluarga.

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk, Penyuluhan, Penggerakan, dan Keluarga Berencana, Suciati, mengatakan, pelaksanaan DASHAT di 40 Kampung KB merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan intervensi gizi secara langsung dan berkelanjutan di tengah masyarakat. Menurutnya, program tersebut tidak hanya fokus pada penanganan stunting yang telah terjadi, tetapi juga menyasar keluarga yang memiliki risiko stunting.
“Melalui kegiatan ini masyarakat diberikan pemahaman mengenai stunting, cara penanganannya, hingga praktik penyajian menu sehat dan bergizi dengan memanfaatkan bahan lokal yang tersedia di lingkungan sekitar,” ujar Suciati usai kegiatan fasilitasi, Senin 25 Mei 2026.
Kegiatan dikemas melalui sosialisasi dan edukasi oleh pakar kesehatan dan ahli gizi. Dikenalkan bagaimana mengolah berbagai bahan pangan lokal seperti daun kelor, ikan, telur, tempe, dan bahan sederhana lainnya, menjadi menu sehat dengan kandungan protein dan nutrisi seimbang yang mudah diterapkan di rumah tangga.
Suciati menjelaskan, pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi salah satu fokus utama program karena dinilai lebih mudah dijangkau masyarakat. Pemkot ingin membangun pemahaman bahwa makanan bergizi tidak harus mahal, melainkan dapat disiapkan dari bahan sederhana yang tersedia di sekitar rumah, selama memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Kegiatan fasilitasi tersebut diikuti sekitar 240 peserta yang mewakili 40 Kampung KB di Kota Baubau. Setiap Kampung KB menargetkan sedikitnya 10 keluarga berisiko stunting untuk mendapatkan pendampingan intensif melalui program tersebut.
Kedepannya, akan dilanjutkan dengan pendampingan lapangan bersama Tim Pendamping Keluarga (TPK), kader PKK, serta tenaga gizi, guna memastikan menu yang dipraktikkan memenuhi standar kecukupan gizi dan higienitas pengolahan makanan.
Selain bertujuan memperbaiki status kesehatan keluarga, program DASHAT juga diharapkan mampu membangun kemandirian pangan masyarakat, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pengembangan dapur sehat berbasis pangan lokal. Pemerintah Kota Baubau optimistis sinergi lintas sektor, dukungan pemerintah kelurahan, kader posyandu, serta partisipasi aktif masyarakat, dapat mempercepat penurunan angka stunting dan melahirkan generasi yang lebih sehat, serta berkualitas di masa mendatang.
(Redaksi)









Komentar