Jejak Kepedulian Polisi, Bhabinkamtibmas di Baubau Bantu Warga hingga ke Tengah Hutan
Di balik rimbunnya pepohonan yang membentang di kawasan hutan Kelurahan Waruruma, Kecamatan Kokalukuna, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, jejak kepedulian seorang anggota Kepolisian Republik Indonesia terukir dalam langkah-langkah sederhana yang penuh makna.
Bukan adegan dalam film atau sinetron. Kisah ini benar-benar terjadi. Seorang Bhabinkamtibmas Polsek Kokalukuna, Polres Baubau, Aiptu I Wayan Marjaya, menembus jalan setapak di tengah hutan demi memastikan seorang warga lanjut usia tetap dapat menjalani hidupnya dengan layak.
Sore itu, Senin, 29 Juni 2026, Aiptu Wayan kembali memanggul bantuan kebutuhan pokok. Perjalanannya tidak singkat.
Usai mengendarai motor dinas dari kantornya dengan jarak tempuh sekitar empat kilometer, Ia harus menempuh jarak sekitar tiga kilometer menuju sebuah kebun di kawasan Jalan Lingkar Bungi–Sorawolio yang masih berada dalam wilayah administratif Kelurahan Waruruma. Di sanalah kakek La Zuza, seorang warga Waruruma, telah bertahun-tahun memilih menjalani hidup seorang diri.

Perjalanan menuju kebun tersebut bukan perkara mudah. Jalan tanah yang sempit berkelok mengikuti kontur perbukitan. Di kanan dan kiri, pepohonan tumbuh rapat membentuk lorong alami yang teduh. Cahaya matahari hanya sesekali menembus celah dedaunan. Udara terasa sejuk, sementara suara burung dan nyanyian serangga bersahutan memecah keheningan hutan.
Alam seolah menyambut setiap langkah Aiptu Wayan yang datang membawa kepedulian.

Perhatian Aiptu Wayan kepada Kakek La Zuza berawal ketika ia mengetahui ada seorang warga yang memilih menetap seorang diri di tengah hutan. Sejak saat itu, rasa iba tumbuh menjadi kepedulian. Baginya, kehadiran polisi tidak hanya diperlukan ketika terjadi pelanggaran hukum, tetapi juga saat masyarakat membutuhkan uluran tangan.
“Bagi saya, masyarakat adalah keluarga. Selama masih diberi kesehatan dan kemampuan, saya akan terus hadir membantu warga yang membutuhkan. Polisi harus hadir bukan hanya ketika ada persoalan hukum, tetapi juga saat masyarakat membutuhkan perhatian dan kepedulian,” tutur Aiptu I Wayan Marjaya.
Sesampainya di kebun Kakek La Zuza, Aiptu Wayan langsung menyapa dari kejauhan.
“Selamat sore, Kakek… saya datang lagi.”
Sapaan itu rupanya begitu akrab di telinga Kakek La Zuza. Dari kejauhan, ia langsung mengenali suara polisi yang mengunjunginya. Senyum hangat pun merekah di wajah lelaki tua itu. Saat itu, ia tengah membersihkan rerumputan di lahan kebunnya, sebelum menghampiri tamunya.
Tanpa banyak basa-basi, Aiptu Wayan menyerahkan bantuan kebutuhan pokok yang dibawanya. Setelah itu, Aiptu Wayan mengajak berbincang. Polisi tersebut menanyakan kondisi kesehatan, aktivitas sehari-hari, hingga memastikan kebutuhan Kakek La Zuza masih tercukupi.
Meskipun percakapan singkat karena Kakek La Zuza lebih lancar berkomunikasi menggunakan bahasa Buton/Wolio, namun percakapan berlangsung hangat dan penuh keakraban, memperlihatkan hubungan emosional yang telah terjalin di antara keduanya.
Bagi Kakek La Zuza, perhatian seperti itu memiliki arti yang sangat besar. Sejak sang istri meninggal dunia, ia memilih tetap tinggal di kebun yang dahulu mereka garap bersama. Di tempat itulah tersimpan begitu banyak kenangan tentang perjuangan hidup bersama perempuan yang dicintainya.
Meski memiliki tujuh orang anak dan enam cucu, Kakek La Zuza merasa lebih nyaman menjalani hari-harinya di kebun. Setiap sudut lahan mengingatkannya pada kebersamaan bersama sang istri. Dengan suara lirih, ia sempat berkisah singkat mengenang masa-masa ketika mereka menanam, membersihkan, dan memanen hasil kebun bersama.
Anak Kakek La Zuza juga membawakan bahan makanan bagi ayah mereka. Namun begitu, Kakek La Zuza tidak mau bergantung pada itu, sebab ia lebih merasa nyaman ketika menggunakan hasil kebunnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Kakek La Zuza menanam pisang, ubi, serta beberapa jenis tanaman buah lainnya, yang bila panen, hasilnya ia simpan untuk makan sehari-hari, dan juga ia jual.
Sementara, untuk mendapatkan air bersih, ia harus berjalan sekitar tiga kilometer menuju sumber mata air yang berada di kaki bukit.
Kehadiran Aiptu Wayan menjadi penyemangat tersendiri bagi Kakek La Zuza. Bukan hanya bantuan kebutuhan pokok yang membuatnya merasa diperhatikan, tetapi juga kunjungan yang sesaat menghapus rasa sepi menjalani kehidupan seorang diri di tengah hutan.
Selama belasan tahun mengemban amanah sebagai Bhabinkamtibmas, Aiptu I Wayan Marjaya memang dikenal dekat dengan masyarakat di Kelurahan Waruruma dan Kelurahan Lakologou, juga di kelurahan lainnya di wilayah hukum Polsek Kokalukuna. Hampir setiap persoalan sosial yang muncul selalu berusaha ia selesaikan dengan pendekatan humanis. Mulai dari menyambangi rumah-rumah warga, membantu membersihkan pohon tumbang, mendamaikan perselisihan rumah tangga, membina remaja, hingga hadir dalam berbagai persoalan sosial lainnya.
Dedikasi Aiptu Wayan selama menunaikan tugas, merupakan potret sejati seorang abdi Bhayangkara.
Pada peringatan Hari Bhayangkara ke-80 tepatnya 1 Juli 2026, Aiptu I Wayan Marjaya menjadi sala satu kandidat penerima penghargaan Kepolisian Republik Indonesia. Sebuah simbol apresiasi, menjadi pengakuan atas totalitas pengabdian kepada masyarakat.
Dalam feature ini, penghargaan sesungguhnya bukan hanya piagam semata yang diterima secara seremonial. Melainkan juga penghargaan yang terpancar dari senyum tulus Kakek La Zuza, setiap kali mendengar sapaan, “Selamat sore, Kakek… saya datang lagi.”
Di tengah derasnya arus kehidupan modern, kisah sederhana ini menjadi pengingat bahwa tugas seorang polisi bukan hanya menjaga keamanan dan menegakkan hukum. Lebih dari itu, menjadi pelindung berarti hadir ketika masyarakat membutuhkan, meski harus menembus jalan setapak di tengah hutan. Sebab, kepedulian yang lahir dari ketulusan akan selalu meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu.












Komentar