Masjid Agung Keraton Buton.
Baubau
Permasalahan ‘Joget” di dalam kawasan cagar budaya Benteng Keraton Buton, saat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang tiba di Kota Baubau dengan pelayaran kapal pesiar The World, masih meninggalkan kesan tidak mengenakkan. Joget-joget dengan musik modern yang berbuntut kontroversi tersebut, tepat di depan Masjid Agung Keraton, dekat Baruga Keraton, yang tak jauh dari Makam Sultan Murhum.
Cagar budaya peninggalan Kesultanan Buton memiliki “nilai” bagi masyarakat Baubau yang selama ini sangat menjunjung tinggi tatanan tradisi-adat-budaya warisan leluhur, khususnya terkait batasan-batasan yang boleh dan/atau tidak boleh dilakukan di area tersebut.
Setelah pihak suporting team agen tour dan travel Bahteramas mengklarifikasi (Baca berita: https://www.kasamea.com/joget-di-benteng-keraton-menuai-sorotan-suporting-team-agen-tour-travel-beri-klarifikasi/), Dinas Pariwisata Kota Baubau juga menanggapinya.
Saat dikonfirmasi, Selasa (10/11/25), Kepala Dinas Pariwisata Kota Baubau, H Idrus Taufiq Saidi, menyayangkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan, bahwa pendekatan pariwisata pada destinasi Benteng Keraton Buton dibagi atas beberapa zona, yang salahsatunya ditempat “joget” tersebut, merupakan zona inti. Sangat peka untuk kultur dan nilai-nilai budaya yang harus tetap lestari.
“Memang kemarin itu kalau dari beberapa diskusi yang membahas kejadian itu, yang ditampilkan tidak hanya yang terjadi itu, tetapi sebenarnya anti klimaks ketika sudah berakhir, mau lebih kekinian, padahal sebenarnya itu keliru,” ujarnya.
Idrus mengatakan, kunjungan wisman diharapkan memberikan manfaat bagi banyak orang, terutama bagi pegiat wisata, antara lain agen perjalanan wisata tour travel, pemandu wisata, dan masyarakat setempat yang mempromosikan produk, seterusnya penerima manfaat lainnya. Pemerintah daerah sebagai penerima secara umum, memang bertujuan memberikan fasilitas, dalam artian regulasi, motivasi dan suporting sistem lainnya.
Sayangnya kata Idrus, “joget” terjadi didalam kawasan Benteng Keraton Buton, salah satu destinasi wisata Kota Baubau yang menjadi ikon utama, karena mempunyai kelebihan, mulai dari unsur religi, unsur budaya, serta unsur destinasi wisata lainnya yang paripurna dan komprehensif. Apalagi semangatnya “tidak akan pernah tiba di pulau Buton, bila tidak berkunjung di Benteng Keraton Buton”.
Lebih jauh Idrus menuturkan, bahwa siapapun yang ada di tempat itu, ketika terjadi “joget”, bijaknya dapat segera menyampaikan, mengingatkan, bahwa di zona tersebut tidak diperkenankan “joget” atau menyetel musik modern seperti saat itu. Sehingga tidak mesti sampai terlalu jauh pembahasan terkait yang terjadi.
“Kejadian ini sebagai ujian bahwa nilai-nilai budaya kita, dengan kekinian saat ini, mudah tergerus kalau tidak ada kekompakan dan kolektivitas kita untuk selalu mengingatkan. Karena peran untuk menjaga nilai-nilai itu bukan hanya sekedar ada pada pemerintah, dinas,akan tetapi didalam juga banyak tokoh budaya, didalam juga banyak tokoh masyarakat, yang memang Benteng Keraton menjadi spesifik,” terangnya.
Menurut Idrus, Benteng Keraton Buton idealnya ada pengelola, atau yang pihak bertanggungjawab. Untuk saat ini penanggungjawab dibagi atas beberapa peran, Balai Cagar Budaya, yang berwenang memastikan Benteng Keraton dengan strukturnya. Dinas Pariwisata yang lebih pada promosi dan pemasaran, termasuk memiliki peran bagi mereka yang hendak berkunjung, kaitannya juga memastikan dapat memberikan kontribusi retribusi bagi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), membantu peran Dinas Pendapatan.
Berikutnya, lanjut Idrus, yang juga selalu ada untuk monitoring adalah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, yang memastikan etik dan nilai-nilai budaya berbanding lurus pula dengan tugas pokok mereka.
Kemudian, pegiat atau pelaku wisata itu, salah satu yang komprehensif ada kelompok sadar wisata (Pokdarwis), yang telah mendapatkan pendidikan-pelatihan, serta pembinaan bagaimana pengelolaan sebuah obyek destinasi wisata. Ada pula pemandu wisata yang mendapatkan pelatihan intensif dalam pendekatan untuk menjalankan tugas kesehariannya. Sudah cukup lama, dan mereka punya sertifikat. Dalam kawasan Benteng Keraton juga ada pelaku UMKM.
“Tentu sebenarnya kami sangat sayangkan, dan juga harus berani untuk menyampaikan permohonan maaf atas yang terjadi, itu diluar dugaan. Namun kalau Benteng Keraton dilihat secara keseluruhan, harusnya jadi peran seluruh stakeholder, kita semua, untuk saling mengingatkan, untuk saling memberitahukan, bahwa itu ada yang keliru,” pungkasnya.
(Redaksi)
















Komentar