oleh

Kasus Rumah Subsidi, Developer dan BTN “Dipertanyakan”

-Berita, Sultra-1.722 views

BAUBAU

Kredit Perumahan Rakyat Bank Tabungan Negara disingkat KPR BTN bersubsidi adalah program untuk pemilikan rumah dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia, yang ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dengan suku bunga rendah dan cicilan ringan, untuk pembelian rumah sejahtera tapak dan rumah sejahtera susun. Uang muka ringan mulai dari 1 %, khusus rumah tapak, subsidi bantuan uang muka sebesar Rp 4juta.

Program ini menjadi angin segar bagi masyarakat yang mendambakan dapat memiliki rumah huni layak, dengan harga murah terjangkau, khususnya bagi MBR. Namun dalam realisasinya, diduga terjadi “permainan”, penyimpangan dari aturan oleh pihak terkait, dan bisa pula terjadi miss persepsi.

Seperti yang dibeberkan oleh User (Pengguna/Pemilik) rumah type 36 berubsidi, Perumahan Baubau City View yang bertempat di Simpang Lima Jalan Palagimata (dekat Menara Pandang), kepada VONIZZ.COM. Perumahan ini dibangun oleh PT Mitra Ami View Palagimata.

Salah seorang User yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan, Ia bersama User lainnya menduga ada “permainan” Developer (biasa disebut Pengembang) Perumahan yang mereka beli, yang dikaitkan dengan Bank Tabungan Negara (BTN). Menurutnya, bantuan subsidi Rp 4juta hingga kini tak mereka peroleh.

Selama berbulan-bulan uang tersebut raib dari rekening, tanpa sepengetahuan User selaku pemilik rekening. Sebelumnya uang Rp 4juta terdebit dalam rekening User, namun hanya sehari saja, dan uang tersebut hingga kini hilang dari rekening mereka.

“Kita ini berpikir sudah ada indikasi, sebenarnya kita sudah bersabar sudah mau hampir setahun, kita mau lihat itikad baik Developer, tapi ternyata dana yang empat juta itu tidak kunjung masuk kembali direkening kami. Hanya masuk setelah akad kredit. Kan kita bayar cicilan satu bulan to, artinya kan sudah diketahui, kalau diambil yang empat juta itu harusnya dia berkurang angsuran perbulannya, ini justru tetap (angsuran tidak berkurang). Empat juta dikali 80 unit rumah, bayangkan berapa jumlah totalnya, yang seharusnya subsidi pemerintah dikembalikan ke kami pemilik rumah,” bebernya.

Sumber ini menjelaskan, awalnya mereka membayar Rp 6.500.000, dan seharusnya ada subsidi, namun justru uang Rp 4juta hilang dari rekening. Ia menyayangkan, terjadi transaksi dalam rekening tanpa sepengetahuan mereka sebagai nasabah.

Kata dia, akad kredit dilakukan pada 2018 lalu, termasuk juga pemilik rumah yang melakukan akad kredit tahun 2019 ini, uang subsidi Rp 4juta tersebut tidak dikembalikan, tidak diberikan kepada pemilik rumah. Sedangkan menurutnya, rumah type 36 tersebut tidak dijual komersil, melainkan ada subsidi yang diberikan Pemerintah.

“Yang jadi pertanyaan, kenapa uang itu diambil Developer, melewati debit Bank BTN, tanpa persetujuan nasabah. Kan logikanya, apapun transaksi dalam rekening harus diketahui, disetujui nasabah, dalam hal ini tidak ada pemberitahuan sebelumnya baik pihak Bank BTN, maupun Developer,” ucapnya.

Sumber mengaku terjebak, merasa dirugikan atas permasalahan ini. Dan tak menutup kemungkinan Ia bersama User lainnya akan menempuh jalur hukum.

BTN Cabang Kendari saat dikonfirmasi melalui Indra Nurmansyah selaku Mortgage and Consumer Lending Unit Head, menjelaskan, ada dua fasilitas bantuan Pemerintah dalam Kredit Perumahan Rakyat (KPR) BTN bersubidi, pertama; bantuan subsidi bunga 5 % selama jangka waktu kredit, kedua; subsidi bantuan uang muka (SBUM) Rp 4juta, langsung memotong uang muka dari User.
Subsidi Rp 4juta dari Pemerintah artinya, User diberikan keringanan dalam hal pembayaran uang muka ke Pengembang, dengan skema, dari Pemerintah akan dicairkan menyusul, sebab uang muka adalah hak User untuk dibayarkan ke Pengembang. Secara otomatis didebitkan langsung ke rekening Pengembang.

Ia menjelaskan, uang muka tersebut tidak bisa diterima User, sebab proses kredit di BTN otomatis. Dan memastikan uang Rp 4juta tidak hilang, melainkan uang muka yang masuk ke Pengembang.

Indra lanjut menjelaskan, biaya akad kredit di KPR BTN terbagi dua; biaya proses Bank, dan biaya Notaris terkait proses Akte Jual Beli (AJB),”proses Bank ada patokannya sendiri, ada hitungannya sendiri, nah yang bisa jadi variabel itu di Notaris, karena ada AJB, nominal-nominalnya, itu bisa berbeda, tergantung dari Pengembangnya,” katanya.

Tentang pembayaran sebesar Rp 6.500.000 oleh User, Indra mengaku tidak mengetahuinya, sehingga tidak dapat menanggapi, tidak dapat memberikan penjelasan.

“Yang pasti kalau nominal empat juta itu kalau sifatnya subsidi bantuan uang muka untuk skema di BTN sendiri, tidak bisa dikembalikan ke User. Jadi bukan uangnya User, jadi itu bantuan Pemerintah yang ditujukan untuk membantu User buat kekurangan uang mukanya,” tambahnya.

Ketika VONIIZZ.COM mengkonfirmasi tentang mekanisme atau prosedur subsidi (SBUM) tersebut, yang faktanya menurut pengakuan User, uang dalam rekening User Rp 4juta hilang tanpa sepengetahuan User, Indra sempat mempertanyakan data (bukti tentang adanya transaksi atas hilangnya uang dari rekening User).

VONIZZ.COM memperlihatkan bukti rekening koran User, yang menunjukkan adanya transaksi. Dalam debit Rp 4juta, dan menurut User uang tersebut hilang tanpa sepengetahuan User sebagai pemilik rekening. Indra menjelaskan lagi, uang tersebut secara otomatis berpindah ke rekening Pengembang.

Menurut Indra, pihaknya telah menjelaskan kepada User terkait subsidi tersebut, termasuk hak dan kewajiban debitur.

“Pastinya sudah disampaikan tentang hak uang muka tersebut, dibayarkan ke Pengembang, ada lembar konfirmasinya. Posisi saat itu ada pernyataan dari User bahwa User kekurangan uang muka, kekurangan itu akan dibayarkan oleh Pemerintah dengan SBUM. Skemanya dari Pemerintah akan melalui User, dan dari User dipindah ke rekening Pengembang, otomatis seperti itu,” jelasnya.

Ia menambahkan, Subsidi uang muka dapat diajukan dan bisa pula tidak diajukan. Untuk di BTN sendiri kata dia, sebagian Subsidi uang muka ikut dalam program SBUM.

“Empat juta itu bagian dari uang muka User. Subsidi disetor User ke BTN agar ada fungsi kontrol, sehingga dapat ditelusuri User yang menyetorkan uang muka tersebut. Ini uang mukanya sudah masuk, direkening koran sudah tercatat. Sudah masuk ke Pengembangnya sekarang. Uang muka dan uang proses akad kredit itu terpisah, nah rinciannya ada di Pengembangnya masing-masing, mana yang menjadi uang muka, mana yang menjadi biaya proses akad kredit,” lengkapnya.

Pihak Developer Perumahan Baubau City View sendiri belum memberikan tanggapan. VONIZZ.COM sudah menghubungi via Telepon, namun belum dijawab, dan belum dibalas.

~ VONIZZ.COM report ~

Komentar

News Feed