Dunia Kampus menjadi babak baru perjalanan hidup La Ode Sabaruddin, yang telah begitu kerasnya melewati masa kecil, remaja, hingga menyelesaikan Pendidikan menengah atas.
Sebagai seorang mahasiswa baru, Sabaruddin mengadaptasi diri. Kegigihannya dalam mempelajari setiap mata kuliah, menggeluti berbagai bidang kampus, aktif dalam organisasi internal maupun eksternal, Himpunan Hahasiswa Bahasa Indonesia, juga Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) era 1998 kala itu. Ia dipercaya menjadi Sekretaris HMI Komisariat Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Terus mengeksplor kemampuan diri, Sabaruddin membentuk forum diskusi, kajian mahasiswa pasca basic training HMI. Forum ini ia beri nama Forum Rekonsiliasi Mahasiswa Islam Sultra, yang dipimpinnya sebagai Ketua, dan beranggotakan sekitar 700 mahasiswa.
“Jadi waktu itu semua mahasiswa yang selesai basic training saya ajak untuk masuk, kemudian kita bentuk kelompok-kelompok kajian tentang Indonesia, Keislaman, Keorganisasian, dan materi-materi lainnya. Dengan mengundang abang-abang alumni HMI yang memang sudah sukses di dunia birokrasi maupun di dunia kampus,” kenangnya.
Sabaruddin terpilih sebagai anggota Komisi Internal Majelis Pemusyawaratan Mahasiswa Unhalu (1999-2000) melalui mekanisme pemilihan langsung. Tahun 2000-2001 terpilih lagi sebagai Ketua Komisi Anggaran dalam Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Unhalu. Tak berselang lama, ia juga diangkat sebagai Wakil Sekretaris Umum Pembinaan Aparat Organisasi (PAO) HMI Cabang Kendari.
Dinamika kemahasiswaan, organisasi berhasil digeluti Sabaruddin, naumn tidak begitu saja memuluskan langkahnya dalam meniti masa depan, pasca menamatkan pendidikan tinggi, wisuda tahun 2002. Dengan menyandang gelar Sarjana Pendidikan, dari Kendari ia memilih mengadu nasib di Kota Baubau. Sabaruddin tidak sendiri, melainkan memboyong sang Istri tercinta, yang dinikahinya dipenghujung ia berkuliah.
Sebagai seorang Sarjana yang tidak mewarisi harta kekayaan maupun usaha dari orang tua / keluarga, Sabaruddin memulai peruntungannya dengan menjadi seorang guru honorer di SMP dan SMA Muhammadiyah. Mengandalkan upah honorer tidak cukup untuk membiayai hidupnya bersama Istri, sehingga ia membagi waktu mengajar, sekaligus menjadi tukang ojek.
Hari demi hari dijalani dengan penuh kesabaran. Kerja keras serta doa yang tak henti, menghantarkannya bergabung dalam program ACCESS di Lakamali, dengan posisi Manager Program Peningkatan Pendapatan Masyarakat, yang fokus pada pemberdayaan nelayan dan pengrajin tenun, bertempat di Kadatua. Selain memulai pengalaman sebagai aktivis LSM, perekonomian keluarganya kian terbantu.
Dalam program ACCESS ini Sabaruddin bersama tim membentuk kelompok warga nelayan dan pengrajin tenun, menguatkan kelembagaan dengan menyusun kepengurusan serta membuat aturan kelompok, menyalurkan stimulan modal dengan sistem simpan pinjam.
“Nelayan bisa mengakses modalnya disitu, misalnya untuk membeli alat tangkap ikan. Kemjudian untuk penenun juga bisa meminjam untuk membeli bahan-bahan tenun. Sehingga pada saat itu ada dampak yang dirasakan masyarakat dengan kehadiran program itu. Harapan kita, setelah selesai program, masyarakat bisa melanjutkan. Bisa berdaya, memaksimalkan sumber daya mereka,” ceriteranya.
Aktif dalam program ACCESS, Sabaruddin tetap menggeluti profesinya sebagai guru. Selama enam bulan mengajar sebagai guru bantu, ia kemudian mengundurkan diri, karena menerima tawaran bergabung sebagai Koordinator program di LSM Sintesa. Tak lama berselang, Sabaruddin juga ditawari bergabung bekerja di Walacea Trust, sebagai Konsultan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Hutan.
Sebagai seorang aktivis LSM, intelektualitas, integritas, kepekaannya terhadap sesama kian ter-asah.
Berlanjut kisah, tahun 2003 Sabaruddin ditawari menjadi Dosen Universitas Muhammadiyah Buton. Ia mengajar dalam program studi Bahasa Indonesia sampai tahun 2010. Kala itu tawaran juga diberikan kepada Sabaruddin, untuk mengajar mata kuliah umum di Universitas Dayanu Ikhsanuddin.
Lagi-lagi perjalanan hidup mengharuskannya untuk memilih. Sabaruddin mundur dari aktivitas mengajar, dan menggeluti dunia politik, saat itu dalam perhelatan Pemilihan Kepala Daerah di Buton. Aktivitasnya di LSM Sintesa tetap dijalani Sabaruddin.
Sabaruddin juga mengulas singkat kisahnya saat berkecimpung dalam program Coremap di Buton (2006), menyusun program kelembagaan ekonomi masyarakat, fokus pada pengelolaan terumbu karang, pemberdayaan masyarakat pesisir. Saat itu ia banyak membuat aturan main pengelolaan lembaga ekonomi desa.
Satu Dekade Memimpin PDAM Buton
Singkat cerita, tahun 2011 Sabaruddin mendampingi, dan menyusun secara lengkap konsep pembangunan yang digagas (buah pikir) Calon Bupati Buton Samsu Umar Abdul Samiun-Calon Wakil Bupati Buton La Bakry, dalam bentuk visi-misi. Selanjutnya setelah keduanya terpilih memimpin Buton, konsep itulah yang dituangkan menjadi RPJMD Buton, selama lima tahun kepemimpinan mereka.
Masa kepemimpinan Umar-Bakry, 24 Agustus 2012 Ssabaruddin dilantik sebagai Direktur Umum PDAM Buton. Selanjutnya, 2015 ia dilantik menjadi Direktur Utama, sampai sekarang.
Sabaruddin memimpin PDAM Buton selama kurang lebih 10 tahun. Sungguh sebuah kematangan kepemimpinan yang jarang bisa dilakoni oleh orang lain. Rekam jejak sebagai aktivis LSM, pengalaman menjadi dosen, guru, kegigihannya menjadi pekerja kasar dimasa kecil hingga remaja, proses panjang yang menempa seorang Sabaruddin hingga mumpuni dalam kepemimpinannya.
Mengemban amanah sebagai Direktur Utama PDAM Buton, Sabaruddin mengaku hanya memiliki tips loyalitas kepada pimpinan, menjaga nama baik pimpinan, dalam hal ini Bupati Buton. Baginya, pimpinan sudah memberinya tanggung jawab, mengerahkan tugas-tugas pelayanan air bersih, air minum kepada masyarakat. Apa yang menjadi visi misi Bupati, itulah yang ia jalankan di perusahaan daerah yang dipimpinnya.
Sebagai orang nomor 1 di PDAM Buton, Sabaruddin menekankan kerjasama. Menyadari betul bahwa ia tidak dapat menjalankan PDAM seorang diri, tanpa bantuan unsur pimpinan, karyawan yang memiliki kompetensi, kemampuan, disetiap unit kerja.
Meskipun sebagai Direktur Utama, Sabaruddin tidak pernah merasa paling hebat, paling tahu. Ada hal-hal tertentu yang dianggapnya harus dikomunikasikan, dikoordinasikan, dengan meminta pendapat dari jajarannya. Dalam hal ini hubungan interaksi, sinergi antara pimpinan dan bawahan dalam bekerjasama menjabarkan visi-misi Bupati melalui PDAM, betul-betul ia terapkan.
Selain kerjasama yang baik seluruh jajaran diinternal perusahaan, harus pula bisa bekerjasama membangun kemitraan dengan pihak eksternal, seperti Balai Sungai, Cipta Karya atau Dinas PU Sultra. Agar program-program dalam pelayanan air minum ini bisa terlaksana secara maksimal. Sebab menurutnya, bila hanya mengandalkan APBD, daerah tidak mempunyai kemampuan. Sehingga harus pula keluar untuk mencari sumber-sumber keuangan pendukung.
“Itulah yang kami jalankan di PDAM Buton, sehingga kepercayaan pimpinan terhadap saya selalu ada,” ucapnya.
PDAM Buton saat ini melayani sekitar 20.000 pelanggan, wilayah Buton, Buteng, Busel, dan Baubau, dengan mengedepankan sistem menajerial yang profesional, berintegritas.
Bahkan seorang Sabaruddin menyerahkan penilaian kinerja dirinya kepada para Kepala Bagian, serta beberapa staf. Mereka bebas menilai kinerja Direktur Utama, yang dibuat secara tertutup, dalam sebuah quisinoner tanpa mencantumkan nama penilai. Penilaian itulah yang menjadi bahan evaluasi seorang Sabaruddin dalam perbaikan kinerja, program. Dengan begitu ia bisa mengevaluasi diri, serta kinerja perusahaan dengan lebih seksama.
Masa Sulit Membuat Rapuh
Dipenghujung kisahnya, Sabaruddin mengungkapkan masa sulit yang pernah dialaminya, yang sempat membuatnya terpukul, dan rapuh.
Ia tidak memiliki uang untuk membayar SPP awal saat lulus masuk Unhalu. Sabaruddin harus meminjam uang dari temannya untuk membayar SPP sebesar Rp450.000-an.
Ada pula masa sulit yang dialaminya ketika masih bekerja di LSM Sintesa, dan sebagai guru bantu. Saat itu tiba-tiba ia mendapat kabar duka Ibunda tercinta meninggal dunia. Ia merasa jerih payahnya mengumpulkan uang tidak sempat diberikan kepada Ibunda tercinta. Merasa niat serta cita-citanya untuk membahagiakan orang tua, Ibunda tercinta tidak kesampaian.
Sungguh suatu bakti anak nan mulia, meskipun saat itu gaji yang diperoleh Sabaruddin dari bekerja di LSM Sintesa dan sebagai guru bantu tidaklah banyak, namun Sabaruddin mampu membagi biaya kebutuhan hidup bersama Istri dan anaknya, sekaligus juga dapat mengirimkan uang kepada orang tua di kampung halamannya.
Saat ini Sabaruddin hanya bisa meneruskan baktinya dengan dengan terus mengirimkan doa, dan memberikan sedekah atas nama kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia.
“Saya sempat patah semangat waktu orang tua meninggal, karena merasa belum cukup membahagiakan mereka. Belum sempat memberangkatkan mereka berdua (Ayah Ibu) naik haji. Istri dan anak saya yang menguatkan saya, sehingga doa serta sedekah terus kita lakukan untuk almarhum dan almarhumah,” kata Sabaruddin dalam sedihnya.
Ayah Sabaruddin meninggal dunia ketika Sabaruddin sudah ada diposisi puncak memimpin PDAM Buton.
”Alhamdulillah apapun yang Almarhum minta saya bisa berikan. Tetapi yang membuat saya sedih karena belum sempat memberangkatkan untuk naik haji. Itu yang tidak sampai. Saya hanya bisa lakukan dengan niat badal haji untuk Almarhumah mama, dan insyaAllah menyusul untuk Almarhum bapak,” ucap Sabaruddin.
Memimpin Wakatobi
Pengabdian tanpa henti untuk negeri tercinta. Tahun 2015 lalu, Sabaruddin pernah ikut meramaikan bursa Pilkada Wakatobi. Ia maju mengusung konsep yang berbeda dari figurlain. Bila saat itu Hugua mengandalkan Pariwisata sebagai sektor unggulan Wakatobi, Sabaruddin lebih mengandalkan potensi Perikanan dan Kelautan untuk menjadi sektor unggulan Wakatobi.
Dilandasi dasar pemikiran yang cukup sederhana namun filosofis, bahwa sejak puluhan tahun silam, leluhur, kakek nenek, hingga orang tua di Wakatobi mayoritas menghidupi diri dan keluarga, menyekolahkan anak sampai lulus sarjana dengan mengandalkan hasil laut. Bukan dari sektor Pariwisata.
Menurut Sabaruddin, masyarakat Wakatobi bisa lebih sejahtera dengan memantapkan potensi perikanan dan kelautan sebagai sektor andalan. Sebab berbicara histori, jati diri, serta sumber daya alam dan sumber daya manusia, Wakatobi adalah sebuah negeri perairan, yang didalamnya terkandung jutaan biota laut, yang sudah menghidupi masyarakatnya secara turun temurun. Sampai sekarang potensi tersebut masih sangat melimpah.
“Tidak bisa dipungkiri, mayoritas kita di Wakatobi jadi sarjana itu bukan dari Pariwisata, tetapi dari hasil sebagai nelayan. Sehingga inilah yang semestinya kita kembangkan. Untuk bisa menjadikan Wakatobi sejahtera. Dengan tidak meninggalkan sektor lainnya, seperti Partiwisata, untuk menambah geliat perekonomian,” idenya. [La MIM]
.















Komentar