oleh

Sedih Lihat Gubuk Ibu di Baubau Puluhan Tahun Tak Tersentuh Program Bedah Rumah

kasamea.com

Malang menimpa Ibu Hasnia (54) selama puluhan tahun menempati gubuk reotnya, hingga saat ini belum tersentuh bantuan pemerintah, program bedah rumah. Saat awak media turun langsung memastikan kondisi gubuk Ibu Hasnia, dan melakukan wawancara, Ibu yang sudah menjanda selama lebih 20 tahun ini, tak mampu menahan tangisnya. Ia mengungkapkan kesedihan karena tak kunjung mendapat perhatian Pemerintah.

Kata Ibu Hasnia, sejak 1973 Ia menempati gubuknya, hingga saat ini belum pernah mendapatkan bantuan bedah rumah. Ia pun sangat mengharapkan perhatian Pemerintah Kota Baubau.

Perempuan single parent yang memiliki 11 cucu ini, sangat berterima kasih kepada Wali Kota Baubau, Dr H AS Tamrin MH, yang kiranya dapat menaruh perhatian serius kepada dirinya bersama keluarga. Yang selama ini harus pasrah bila memasuki musim hujan, sebab gubuknya kebanjiran. Juga saat angin kencang, tak jarang bagian atap dan dinding gubuknya rusak, ditengah kondisi perekonomian yang sangat kekurangan.

“Kita berharap sekali kasian bisa dibantu diperbaiki, karena selama ini tidak pernah disentuh (program bantuan bedah rumah, red) rumahnya kita ini,” harap Ibu Hasnia.

Ibu Hasnia tak dapat menahan air matanya menetes dipipi. Ia mengaku telah sering didata, gubuknya pun telah sering difoto, termasuk oleh Dinas Sosial, dan Badan Pusat Statistik (BPS). Namun lagi-lagi, Ia bersama keluarga hanya bisa menunggu, menunggu, menunggu, dan menunggu.

Ibu Hasnia juga mengaku pernah menerima bantuan beras (raskin) dari Pemerintah Kota Baubau. Ia bersama empat anaknya juga terdaftar sebagai Peserta BPJS.

Dalam kesehariannya, Ibu tangguh ini memenuhi kebutuhan hidup dari berjualan, yang tidak bisa rutin dilakukannya, karena terkendala permodalan.

Gubuk Ibu Hasnia telah diusulkan untuk mendapatkan bantuan program bedah rumah oleh anggota DPRD Kota Baubau, Acep Sulfan. Acep panggilan akrabnya, mengetahui kondisi Ibu Hasnia saat melakukan reses, menyerap aspirasi masyarakat di Kelurahan Batulo.

Sebagai Wakil Rakyat, yang dipilih dan digaji dengan uang Rakyat, dititipi amanah oleh Rakyat, Acep sangat menyayangkan, dan merasa sangat prihatin bila usulan bedah rumah yang diusulkannya tidak terakomodir dalam APBD Perubahan. Gubuk Ibu Hasnia adalah satu dari 30 rumah tidak layak huni yang ada di wilayah konstituen Acep Sulfan, yang telah diusulkan untuk mendapat alokasi anggaran melalui APBD Perubahan Pemerintah Kota Baubau.

“Jujur saya sangat prihatin melihat langsung keadaan masyarakat kita seperti ini. Tentu saya sangat kecewa kalau rumah yang sangat tidak layak huni ini tidak segera diperbaiki,” ucapnya dalam ekspresi sedih.

Kader Partai Gerindra ini mengaku, usai reses, Ia telah meneruskan aspirasi kepada Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Baubau, berharap dapat disahuti oleh Pemkot. Belakangan Ia mengetahui bahwa usulannya tak terakomodir. Sehingga Ia pun menelusuri, dan mendapati bahwa usulan bantuan bedah rumah yang diusulkan Dinas Perumahan dan Pemukiman Kota Baubau, tidak diteruskan oleh oknum di kantor Bappeda Kota Baubau.

“Jadi saya sebagai wakil rakyat sangat kecewa. Sebab seharusnya kebutuhan masyarakat tidak mampu seperti ini yang menjadi prioritas Pemkot, agar dimasukan dalam APBD Perubahan. Ini urgent, karena tidak lama lagi memasuki musim barat, yang anginnya sangat kencang, saya khawatir rumah yang kita lihat ini bisa roboh. Kasian kalau sampai jatuh korban jiwa dalam keluarga ini,” ungkapnya, saat turun langsung menunjukkan gubuk Ibu Hasnia, kepada beberapa insan media, Senin (14/9/20).

Acep menuturkan, demi tegaknya PO-5 yang dicetuskan dan sekian tahun terus digaungkan Wali Kota Baubau, Dr H AS Tamrin MH, Ia memohon kerendahan hati para penentu kebijakan di negeri khalifatul khamis, agar membuka hati nurani, menyahuti kebutuhan bedah rumah tidak layak huni ini.

“Semoga dalam masalah ini kita masih bisa kedepankan rasa, dan mitra Pemkot lebih peduli dan memprioritaskan usulan bedah rumah ini, atas dasar kemanusiaan,” ungkapnya lagi, dalam.

Acep menambahkan, urgensi bantuan bedah rumah adalah bagian dari skala prioritas program Pemerintah Pusat, yang bijaknya, Pemerintah di Daerah juga melakukan yang sama. Menjadikan bedah rumah tidak layak huni sebagai prioritas.

“Ibu ini seorang janda dan tidak memiliki penghasilan tetap. Jadi saya berharap dengan sangat kepada Pemerintah Kota agar segera menganggarkannya dalam APBD Perubahan tahun 2020 ini,” harap Acep, yang mengapresiasi berbagai pencapaian Pemkot dibawah Kepemimpinan Wali Kota Dr H AS Tamrin MH. Namun Ia juga tak dapat menyembunyikan keprihatinannya, atas realita yang terjadi didepan mata kita, bahwa masih ada pula masyarakat tidak mampu yang belum tersentuh rasa kasih Pemkot.

Di tempat yang sama, didepan gubuk Ibu Hasnia, Ketua RT 02 / RW 06 (di Lorong SKB) Kelurahan Batulo, La Ode Ziya mengatakan, dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Ia telah mengusulkan pemberian bantuan bedah rumah Ibu Hasnia juga beberapa rumah tidak layak huni lainnya. Hingga saat reses anggota DPRD Kota Baubau, Acep Sulfan, Ia kembali menyuarakan hal yang sama.

Alhasil, aspirasinya mewakili warga tidak mampu, langsung mendapat respon dan tindakan nyata seorang Acep Sulfan.

Di gubuk Ibu Hasnia tinggal tiga Kepala Keluarga (KK), yakni anak-anak Ibu Hasnia yang bermatapencarian sebagai tukang ojek. La Ode Ziya memastikan, secara administrasi Kependudukan, Ibu Hasnia terdaftar di RT-nya. Namun yang juga ironi, Ibu Hasnia tidak terdaftar dalam program Keluarga Harapan (PKH), dan tidak memiliki Kartu Perlindungan Sosial (KPS).

“Saya ini Ketua RT baru, nantimi saya masuk (jadi Ketua RT, red) baru saya lihatmi rumah-rumah yang perlu diusulkan untuk dapat bantuan bedah rumah. Kita liat sendirimi kondisi rumahnya, Ibu ini janda, dan anak-anaknya tukang ojek,” katanya.

[RED]

Komentar

News Feed