oleh

Soal Revitalisasi Kasulana Tombi, Abdul Karim Buka Suara

-Baubau, Berita-1.139 views

kasamea.com BAUBAU

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Baubau Abdul Karim SPd MSi bijak menjelaskan tentang revitalisasi Kasulana Tombi yang sudah digagas sejak beberapa tahun lalu. Konsep yang dilakukan pun telah melalui pembahasan yang melibatkan para pihak berkompeten, serta konsultasi publik dengan para tokoh masyarakat, budayawan, ahli cagar budaya, tak luput DPRD Kota Baubau.

Kasulana Tombi adalah cagar budaya Tiang Bendera Longlonga – Bendera Kesultanan Buton, yang dibangun ratusan tahun silam disamping Masjid Agung Keraton Buton, dalam kawasan Benteng Keraton, di Kelurahan Melai, Kecamatan Murhum, Kota Baubau. Sebagai salah satu peninggalan bersejarah warisan Leluhur, eks Kesultanan Buton.

Kata Abdul Karim, wacana dan usulan revitalisasi sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Pertanyaannya, bagaimana langkah-langkah yang dilakukan agar Kasulana Tombi tidak rubuh.

Kemudian dibahaslah revitalisasi ini bersama stakeholder, yang tentu saja tidak menghadirkan semua orang, semua warga, melainkan perwakilan.

Dari beberapa usulan, tergarisbawahi, Kasulana Tombi tetap dijaga keutuhannya, struktur aslinya tidak diganggu, dan revitalisasi dilakukan tanpa menambah atau mengurangi kayu, tanpa mencabut dan membuat duplikat, tanpa tiang beton. Sehingga, disepakatilah konsep tower penyanggah disekelilingnya.

“Tetapi dibuat dengan mempertimbangkan estetika, secara teknis kekuatannya, maka dibuatlah grand design,” jelas Abdul Karim ditemui di ruang kerjanya, Jumat (25/9/20).

Abdul Karim melanjutkan, sebelum pengajuan anggaran revitalisasi, Pemkot melakukan konsultasi publik, yang digelar di rumah jabatan Wali Kota, mengingat protokol penanganan covid-19. Kala itu hadir unsur Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Makassar (Kota Baubau termasuk dalam wilayah kerja BPCB Makassar).

Abdul Karim memastikan, sebelumnya juga telah dilakukan survey, penelitian oleh ahli cagar budaya, yang juga meneliti kondisi kelapukan kayu Kasulana Tombi. Tak luput dari Pemkot, adalah kesakralan serta histori sejarah Kasulana Tombi.

Sama dengan Wali Kota Baubau Dr H AS Tamrin MH, Abdul Karim juga lahir, dan melewati kehidupan bersama keluarga besarnya dalam kawasan Benteng Keraton Buton. Sedari masih kanak-kanak Ia sudah mendengar dan mengetahui tentang Kasulana Tombi.

“Kita sejak kecil tahu kalau Kasulana Tombi roboh berarti dunia kiamat,” ucapnya.

Abdul Karim mengungkapkan, revitalisasi terlebih dahulu juga telah se- izin perangkat Masjid Agung Keraton Buton, sebagai Sara Kidhina. Tentu para Tetuah Agama dan Budaya tidak akan merestui bila merasa atau menilai ada kejanggalan, atau ada itikad buruk, atau akan merusak, dibalik revitalisasi Kasulana Tombi ini.

“Makanya kita minta restu, kita gandeng perangkat Masjid Keraton sebagai Sara Kidhina karena tidak ada lagi Kesultanan. Dan tentu orang-orang tua ini tidak akan hadir ketika ada hal yang mereka anggap tidak benar,” ungkapnya.

Menurut Abdul Karim, para Tetuah juga berdoa memohon petunjuk, mencarikan waktu terbaik (hari dan jam baik), waktu yang tepat untuk memulai pekerjaan revitalisasi.

“Kalau ada yang mengatakan tidak takut kah kamu sebagai Kadis atau secara pribadi merevitalisasi Kasulana Tombi?. Justru sebaliknya, tidak takutkah kalian menghalangi upaya ini. Sebab kami juga dengan itikad baik, bahwa pada akhirnya leluhur juga yang melihat siapa yang punya itikad baik atau itikad buruk,”.

“Ini tanah Wolio ini tanah berkah, kembali pada pribadi masing-masing. Bahwa apa yang dilakukan pak Wali menyampaikan ke saya, tidak ada gunanya kamu jadi Kadis kalau ini sudah mau roboh dan tidak berbuat apa apa. Dan kalau sudah roboh pasti kita Pemerintah ini yang dipersalahkan,” urai Abdul Karim.

Abdul Karim memastikan revitalisasi adalah tindakan penyelamatan cagar budaya warisan Leluhur. Yang menurutnya hal mustahil bila meminta persetujuan semua orang, apalagi orang per orang. Dan sampai kapan pula bisa dilakukan, sementara kemiringan Kasulana Tombi terus bertambah, yang tidak menutup kemungkinan akan rubuh.

Selain itu juga, bila ada pihak yang menghalangi upaya revitalisasi, selama ini mereka tidak pernah mengusulkan gagasan, atau konsep konkrit revitalisasi Kasulana Tombi. Lantas setelah ada konsep konkrit yang telah melalui proses panjang pembahasannya bersama para tokoh yang berkompeten, baru kemudian muncul yang hendak menghalangi.

Abdul Karim menjelaskan, lima tiang tower masing masing akan dilengkapi behel untuk mengikat tiang kayu Kasulana Tombi. Tanpa menambah atau mengurangi struktur kayu. Pihaknya juga melarang penggunaan alat berat dalam pekerjaan revitalisasi, mengingat sensitivitas kemiringan, dan kondisi kayu.

Mantan Kepala Dinas Perizinan PTSP dan Penanaman Modal ini menegaskan, yang dilakukan Pemkot adalah upaya penyelamatan cagar budaya, yang keburu rubuh bila harus menunggu persetujuan semua orang, apalagi persetujuan setiap orang. Ini juga kata dia, telah melalui kajian, yang tahapannya sudah dilewati.

Ia memastikan, revitalisasi bukan untuk dikomersilkan. Apalagi untuk tower jaringan telekomunikasi.

Abdul Karim bijak mengingatkan, agar seyogianya dapat memilah apa yang harus ditentang dan apa yang seharusnya didukung. Bila ada yang beda persepsi, sebaiknya memiliki dasar pemikiran yang rasional, substantif, dan relevan, serta sesuai kompetensinya.

“Saya justru bertanya siapakah yang harus takut ini, karena ada yang menghalangi ini. Saya tentu saya takut kalau ada itikad tidak baik, karena saya pasti terima akibatnya karena Buton ini tanah berkah. Saya juga mempertatuhkan segalanya untuk memperbaiki Kasulana Tombi,” tegasnya.

Pihaknya kata Abdul Karim, senantiasa membuka diri bila ada usul gagasan konstruktif lainnya. Namun Ia berharap, jangan ada upaya menghalangi revitalisasi tersebut.

“Coba jujur, ndo maeka siy yingkomiu (bahasa Wolio: apakah kalian tidak takut). Makanya kita gandeng orang tua kita, kalau mereka rasa dan mereka anggap ini tidak benar pasti mereka tidak akan datang. Ini mereka datang dengan pakaian lengkap (a pojambe: istilah Wolio), bahkan mereka meminta yang berdoa dan letakkan batu pertama Imam Masjid, kemudian pak Wali Kota yang lawati. Pak Wali Kota sangat menghargai, sangat berterimakasih atas perhatian orang tua-orang tua kita,” ucapnya.

Abdul Karim mengajak agar bersama-sama berpikir rasional, dan merenungkan kembali itikad baik Pemkot, yang juga direstui oleh para Tetuah. Bila ada itikadnya yang tidak baik, Abdul Karim siap menerima konsekuensi.

“Tapi kalau ini juga mau dihalangi, saya takut juga, jangan sampai sebaliknya. Jangan berpikir yang belum dipikirkan, yang perlu kita pikirkan bahwa Kasulana Tombi selamat dulu,” ajaknya.

[RED]

Komentar

News Feed