Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Baubau, Amirul Tamim Ajak Pemuda Merawat Indonesia, Menjunjung Falsafah Leluhur di Era Modern
Anggota MPR RI dari unsur DPD RI daerah pemilihan Sulawesi Tenggara, MZ Amirul Tamim, mengajak generasi muda memperkuat pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan, melalui Sosialisasi Empat Pilar MPR RI.
Kegiatan diikuti pengurus Karang Taruna tingkat kelurahan se-Kota Baubau, dengan MZ Amirul Tamim dan Wakil Rektor Universitas Muslim Buton, Sudjiton, sebagai narasumber, berlangsung di Ballroom Vila Nirwana, Rabu 8 Juli 2026.
Generasi Muda Jadi Sasaran Utama Sosialisasi
Amirul Tamim mengatakan, pemilihan peserta dari unsur Karang Taruna dilakukan karena organisasi tersebut dihuni kalangan usia produktif yang akan menjadi aktor utama pembangunan Indonesia pada masa mendatang. Menurutnya, anggota Karang Taruna merupakan agen perubahan yang perlu dibekali pemahaman kebangsaan sejak dini, agar mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
“Pesertanya adalah pengurus Karang Taruna karena kita tahu agen-agen pembaruan itu ada pada mereka. Dari sisi usia, mereka adalah generasi yang akan menjadi pelaku Indonesia Emas pada 19 tahun mendatang,” ujar Amirul Tamim.
Empat Pilar Dinilai Relevan Hadapi Tantangan Era Digital
Amirul menegaskan, penguatan Empat Pilar MPR RI semakin penting di tengah perkembangan era digital yang membuat arus informasi bergerak sangat cepat. Dimana Indonesia, khususnya di Kota Baubau, memiliki tingkat keberagaman, baik dari sisi etnis, agama, budaya maupun latar belakang sosial, sehingga membutuhkan nilai pemersatu yang kuat.
“Kalau kita tidak memahami nilai-nilai dasar bangsa sebagai pedoman bersama, maka potensi munculnya persoalan sosial di masa depan, sangat mungkin terjadi. Empat pilar menjadi nilai pemersatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.
Mantan Walikota Baubau dua periode tersebut menjelaskan, empat pilar meliputi Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan pemersatu bangsa.
Nilai Kearifan Lokal Baubau Sejalan dengan Empat Pilar
Dalam paparannya, Amirul menilai masyarakat Baubau yang merupakan eks Kesultanan Buton memiliki modal sosial yang kuat, karena sejak lama hidup dalam keberagaman. Ia menyebut falsafah masyarakat Buton -Baubau yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap sesama, adat, dan agama memiliki semangat yang selaras dengan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI.
Amirul mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai kearifan lokal Buton-Baubau yang sejak dahulu menjadi pedoman kehidupan masyarakat Buton-Baubau tersebut. Menurutnya, falsafah Buton tersebut memiliki keselarasan dengan semangat Empat Pilar MPR RI karena sama-sama menempatkan persatuan, moralitas, dan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Ia kemudian mengutip falsafah Kesultanan Buton yang dikenal luas, yakni:
“Yinda yindamo arata somanamo karo, yinda yindamo karo somanamo lipu, yinda yindamo lipu somanamo sara, yinda yindamo sara somanamo agama.”
Falsafah tersebut mengandung makna berjenjang sebagai berikut:
Yinda yindamo arata somanamo karo, berarti biarlah harta yang hilang, asalkan diri atau jiwa tetap selamat.
Yinda yindamo karo somanamo lipu, berarti biarlah kepentingan pribadi atau diri dikorbankan demi kepentingan negeri atau daerah.
Yinda yindamo lipu somanamo sara, berarti biarlah negeri atau pemerintahan dikorbankan demi tegaknya sara, yakni hukum, adat, dan keadilan.
Yinda yindamo sara somanamo agama, berarti biarlah hukum atau adat dikorbankan apabila bertentangan dengan ajaran agama, karena agama merupakan nilai tertinggi yang menjadi pedoman kehidupan.
Menurut Amirul Tamim, falsafah tersebut mencerminkan sistem nilai masyarakat Buton yang menempatkan agama sebagai landasan utama, diikuti hukum dan adat, kepentingan negeri, serta kepentingan pribadi dan harta. Nilai-nilai itu, kata dia, tetap relevan dalam kehidupan berbangsa saat ini, karena mengajarkan pengorbanan, integritas, tanggung jawab, dan persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan sosial di era digital.
Menurutnya, kearifan lokal tersebut perlu terus diwariskan kepada generasi muda, agar tetap menjadi fondasi dalam menjaga kerukunan masyarakat, di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.
Sudjiton: Kebangsaan Harus Diperkuat Melalui Pendidikan
Wakil Rektor Universitas Muslim Buton, Sudjiton, mengatakan penguatan wawasan kebangsaan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga lembaga pendidikan dan organisasi kemasyarakatan. Menurutnya, generasi muda perlu memahami nilai Pancasila, konstitusi, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, sekaligus menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi informasi.
Ia berharap peserta sosialisasi mampu menjadi penyambung nilai-nilai kebangsaan di lingkungan masing-masing, sehingga tercipta kehidupan masyarakat yang harmonis dan toleran.
Dorong Pemuda Berperan dalam Pembangunan Daerah
Pada sesi diskusi, Amirul Tamim juga menyoroti besarnya semangat peserta untuk memajukan daerah. Ia mendorong generasi muda agar tidak hanya aktif dalam kegiatan sosial, tetapi juga mampu membaca potensi ekonomi lokal melalui pengamatan terhadap aktivitas perdagangan, perikanan, dan pelabuhan di Baubau.
“Anak-anak muda harus mulai melihat peluang ekonomi di daerahnya sendiri. Lihat apa yang datang dan keluar dari pelabuhan, amati kebutuhan masyarakat, lalu pikirkan apa yang bisa dilakukan. Dari situ lahir gagasan dan kebijakan yang bermanfaat bagi daerah,” ujarnya.
Harapan Lahirnya Agen Persatuan dan Pembangunan
Amirul berharap, kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI mampu melahirkan generasi muda yang memiliki karakter kebangsaan kuat, sekaligus mampu menjadi motor pembangunan daerah.
Menurutnya, pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan harus berjalan beriringan dengan kemampuan membaca peluang ekonomi, agar generasi muda tidak hanya menjadi penjaga persatuan, tetapi juga penggerak kemajuan masyarakat.
Para peserta tampak antusias menyimak secara seksama paparan lugas kedua narasumber penginspirasi tersebut, dan juga terbangun dialog interaktif yang menghidupkan nuansa nasionalisme.
Dengan melibatkan pengurus Karang Taruna sebagai peserta, sosialisasi tersebut diharapkan memperkuat komitmen generasi muda Kota Baubau dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus mendukung terciptanya masyarakat yang harmonis, produktif, dan berdaya saing.










Komentar