oleh

Soal Gempa Bumi, Stasiun Geofisika Kendari: Terjadinya Belum Bisa Dipastikan

KENDARI

Kepala Stasiun Geofisika Kendari, Rosa Amelia, mengatakan, hingga saat ini belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat memprediksi waktu terjadinya gempa bumi. Salah satu tugas Stasiun Geofisika Kendari adalah memonitor aktivitas tektonik di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara yang berpotensi menyebabkan terjadinya gempa bumi.

Berdasarkan literatur buku pusat studi gempa nasional, di Sultra terdapat empat sesar aktif: Lawanopo, Kendari, Tolo, dan Buton. Wilayah Sultra berpotensi terjadi gempa bumi, karena adanya patahan-patahan tersebut.

Di pulau Buton sendiri, sesar segmen B, memanjang dari Buton Utara sampai Bau-Bau di bagian pesisir Barat Pulau Buton. Sesar Buton segmen B berdasarkan literatur, berpotensi memiliki magnitudo maksimum sebesar 7.1.

“Potensi berbeda dengan prediksi. Kalau prediksi kemungkinan terjadinya lebih besar, berbeda dengan potensi. Kalau berbicara potensi, kemungkinan bisa terjadi, dan kemungkinan tidak terjadi. Namun kita wajib mengetahuinya (gempa bumi, red). Setelah kita mengetahui ada potensi gempa bumi, kewaspadaan perlu ditingkatkan, misalnya tentang konstruksi bangunan tahan gempa, dan masyarakat harus paham akan potensi bencana,” jelas Rosa, saat dihubungi Kasamea.com, Rabu (25/2/20).

Lebih lanjut, Rosa menjelaskan, gempa bumi terjadi hampir setiap hari, namun getarannya tidak terasa, sebab magnitudonya kecil.

Ia menambahkan, pentingnya waspada, mempersiapkan diri, sehingga dapat mengevakuasi diri secara mandiri dalam menghadapi bencana gempa bumi. Sebab, sebagian besar korban disebabkan dampak ikutan gempa bumi tersebut. Seperti bangunan runtuh yang lebih banyak memakan korban.

“Karena bangunan runtuh, atau misalnya bangunannya tidak kuat, tidak kokoh,” terangnya.

Menurut Rosa, pergerakan-pergerakan lempeng bumi yang menyebabkan patahan di daratan.

Pihaknya, kata Rosa, memonitoring pergerakan tektonik di Bau-Bau melalui sistem jaringan peralatan sensor pendeteksi gempa bumi, yang salah satunya berada di kantor BMKG Betoambari, Bau-Bau. Selain sensor ada juga peralatan WRS (Warning Receiver System), digunakan untuk menyebarluaskan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami, kepada pemangku kepentingan di daerah.

”Setiap ada gempa bumi kami akan mencari informasi apakah dirasakan atau tidak. Saat terjadi gempa bumi yang signifikan, dirasakan masyarakat, apakah menyebabkan kerusakan, ataukah dapat menyebabkan tsunami, akan otomatis diteruskan oleh peralatan WRS tersebut. Nah kalau misal tidak terasa, magnitudo 2 atau 1, itu tidak kami teruskan,” pungkasnya.

[RED]

Komentar

News Feed