Oleh: La Yusrie (Budayawan Kepulauan Buton)
“Bholimo Karo Somanamo Lipu”
KARENA sejarah kejayaan sudah dibuat Leluhur kita semua, maka mari kini kita mengulangnya kembali, sudah waktunya membalikkan kembali arus kejayaan tanah Butuuni itu.
Sudah tiba waktunya kita turun tangan mengambil peran dan menjadi bagian dari sebuah perjuangan moral rakyat Butuuni, kelak nanti dicatat sejarah.
Anak-anak muda Butuuni singsing lengan baju kalian, lepas setiap kepentingan personal dalam sekat sempit afiliasi ke elite tokoh yang masih saja terpolarisasi, saatnya kini bersatu, membuat legasi yang kelak akan dikenang anak cucu kita.
Setiap dari nama pejuang moral ini akan kelak ditera terang, tertulis besar-besar dalam lembar sejarah, dengan itulah kita abadi, sekalipun nanti raga tiada, nama akan terus hidup, tak lapuk diingatan, dikenang selamanya zaman.
Kita menagih yang seharusnya menjadi hak kita dapatkan dengan pergerakan masif dan terukur, bahkan dengan kekerasan sekalipun jika diperlukan, sebab dengan permintaan lemah lembut yang memohon-mohon tiada kita digubris, dianggap seperti lalunya angin belaka.
Belajar kita dari Oputa Yi Koo, begitu Ia hormatnya pada Belanda di awalnya, bukan sebab Ia takut pada Belanda itu, Ia hanya menghormati kontrak para Sultan pendahulunya dengan Belanda itu.
Tetapi ketika kontrak terkhianati sepihak, ia bangkit melawan, tak ia sudi melihat negerinya direndahkan begitu rupa, maka amarahnya tersulut meluap, sampai wafatnya tak surut ia melawan.
Dalam berjuangnya itu, Ia merelakan kehilangan tahta, harta, kerabat karibnya, dan bahkan anak cucunya sendiri.
Begitulah seharusnya kita, kehormatan negeri musti dibela, martabat sebisanya ditinggikan, dengan darah sekalipun.
Sudah selesai masa dimana kita berlembut-lembut dalam kerja urusan administrasi dengan segala tetekbengeknya yang melelahkan, terbukti itu telah gagal dan hanya menjadi gunungan berbundel kertas bancakan yang disampahkan
Berpuluh tahun upaya itu dan tak kita melihat signifikansi progres kemajuannya, seperti kita telah dibodohi para elite yang setiap kampanye politik begitu meyakinkan berucap bahwa urusan itu gampangan saja, semudah membalikan tangan mengurusinya, begitu kata mereka, dan kita terbuai dilenakan, terbukti kini itu bual belaka saja.
Perjuangan sudah memang harus digeser dengan tanpa gesekan, kebelakangkan urusan administrasi, saatnya kini majukan gerakan memakai politik kebudayaan.
Kekayaan dan kekuatan Buton itu ada pada aspek kulturalnya, maka gerakan harus dibangun memakai topangan dari sisi terkuatnya itu.
Simbol-simbol kultural yang menjadi entitas dan identitas negeri Butuuni harus menjadi sentrum dari ruh gerakan ini, dengan anak-anak muda yang menjadi lokomotifnya.
Naikkan Longa-Longa dengan dikawal Sultan dan seluruh Parabhela dalam wilayah cakupan kepulauan Buton.
Lihatlah gesture Bung Karno, begitu Ia takzimnya, bersedekap dekat, merangkul Sultan La Ode Muhammad Faalihi, penghargaannya pada Sultan Buton itu adalah bentuk sepenuhnya penghormatannya kepada tanah dan seluruhnya rakyat Butuuni.
Di tengah jejeran Raja dan Sultan se- Sulawesi lainnya yang Ia punggungi, tampak Ia masyuk dan begitu dekat bercakap akrab dengan Sultan terakhir negeri Butuuni itu.
Tiada berjarak keduanya dalam bercakap-cakap, diselingi tawa keriangan sepenuh sumringah, serupa saja cakapnya dua karib yang lama tiada ketemu.
Jika dahulu Bung Karno saja berani memunggungi lain lainnya hanya untuk menghadapi Sultan Buton, mengapa kini negara memunggungi aspirasi rakyat Butuuni yang hanya secuil meminta pemekaran sebagai Provinsi sebagaimana telah diberikan kepada para Raja dan Sgultan yang dahulu dipunggungi Bung Karno itu?.
Tampaknya perlu lagi kita mengurai sejarah seterangnya, mengingatkan kembali mereka yang telah melupakannya.
Mari berjuang sekuat-kuatnya, sehormat-hormatnya. Sumanga Leluhur-para Raja dan Sultan negeri Butuuni semoga terjelma mengikut dalam semangat kita semua.
Mereka ada bersama kita.









Komentar