oleh

0 PDP dan 0 Positif Covid-19, Gugus Tugas: InsyaAllah Baubau terhindar, InsyaAllah kita siap penanganan

-Baubau, Berita-1.661 views

kasamea.com BAU-BAU

Alhamdulillah saat ini di Kota Baubau Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Positif covid-19 masih 0, tidak ada. Ini adalah suatu kesyukuran, sekaligus juga menjadi titik tolak, juga motivasi bagi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Penyebaran Corona Virus Disease 19 (Covid-19) Kota Baubau, untuk terus bekerja maksimal, melakukan upaya pencegahan penyebaran covid-19 di negeri Khalifatul Khamis.

Gugus Tugas diawasi langsung Wali Kota Baubau Dr H AS Tamrin MH, melalui koordinasi Sekretaris Daerah Kota Baubau Dr Roni Muhtar MPd, bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, juga Forkopimda, intens memantau kondisi kesehatan Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau, Wahyu, mengatakan, pemantauan dilakukan dengan kunjungan langsung ke rumah ODP, memeriksa kondisi kesehatan ODP, yang dilakukan sesuai standar penanganan oleh para petugas medis Puskesmas (perawat, dokter, petugas surveylance). Selain kunjungan langsung ke rumah ODP, sesuai protap, pemantauan juga dilakukan dengan cara, ODP dapat menghubungi petugas medis Puskesmas melalui nomor telepon / handphone, yang sudah diberitahukan sebelumnya kepada ODP atau pihak keluarga. Mengingat jumlah ODP.

“Bila ODP merasakan gejala, petugas medis bisa mengunjungi ODP tersebut, kalau hanya batuk ringan, dipantau oleh petugas medis, apakah ada gejala lain, flu, pilek, demam atau sakit tenggorokan, itu baru didatangi, gejalanya diobati. Selama masih kondisinya ringan. Dalam kondisi sedang, sudah diberi pengobatan, diamati, dan ketika kondisinya semakin memburuk, maka petugas medis Puskesmas akan berkonsultasi dengan dokter RSUD, apakah ini cukup perawatan di rumah, atau harus di rumah sakit, disertai dengan catatan riwayat ODP,” jelas Wahyu.

Oleh dokter RSUD Kota Baubau, lanjut Wahyu, kemudian yang akan menilai ODP tersebut, ditindaklanjuti dengan merekomendasikan perawatan ODP. Atau, apakah status ODP menjadi PDP, dan harus dirujuk. Mekanismenya, akan dijemput menggunakan ambulance khusus. Tujuannya, kata Wahyu, untuk menjaga, apabila nantinya hasil test positif, maka hanya ambulance khusus ini yang akan digunakan.

“Jangan semua ambulance kena, dan harus dilakukan disinfeksi lagi semua ambulance, kan kasian petugas Puskesmasnya. Tapi kalau tidak ada gejala, ODP diwajibkan mengkarantina diri sendiri, memantau diri sendiri selama 14 hari, kalau tanpa gejala, selesai 14 hari, dia bebas, nanti kalau ada gejala, dia hubungi petugas Puskesmas,” jelas Wahyu.

Wahyu menyebutkan, Gugus Tugas menyiapkan 2 ambulance khusus, yang akan digunakan untuk menjemput PDP, nantinya bila ada PDP. Ia memastikan, 17 Puskesmas yang tersebar di 8 Kecamatan, melayani 43 wilayah Kelurahan, sudah terkoordinasi dengan baik, bekerja sesuai standar, dan dirinya intens memonitoring, mengawasi langsung.

Wahyu juga memastikan, pihaknya semua sudah satu irama, satu pemahaman.

“Di group kami sangat terpantau, banyak terdokumentasi kerja kerja penanganan, bahkan para tenaga medis kita dengan inisiatif sendiri menyiapkan APD (alat pelindung diri, red), kaya baju jas hujan itu, mereka kreatif menyiapkan APD mereka sendiri, sebelum adanya APD standar. Alhamdulillah sekarang sudah dipersiapkan APD yang standar,” semangatnya.

Wahyu lanjut menjelaskan, terkait ODP, yang pertama adalah orang yang mempunyai riwayat bepergian di wilayah terjangkit, tetapi harus ditemukan lebih dari satu gejala. Bila sama sekali tidak ada gejala, maka yang bersangkutan mengkarantina diri sendiri, memantau kondisi kesehatan diri, dan bila dalam masa karantina diri tersebut muncul gejala, yang bersangkutan dapat langsung menghubungi petugas medis Puskesmas.

“Kalau tidak ada gejala, dia diam di rumah, memantau diri pribadi, selama 14 hari, baru bebas. Baik yang punya gejala dan yang tidak punya gejala, sama 14 hari,” tegasnya.

Wahyu menyinggung, hal baik ditengah masyarakat yang cenderung meningkat saat ini, adalah tingkat kesadaran masyarakat. Kata dia, masyarakat sudah lebih mampu meng up to date informasi, juga menyaring informasi. Sehingga, dapat mengetahui apa yang harus mereka lakukan dalam menghadapi pandemi global covid-19 ini.

Disisi lain, yang harus terus didorong, menurut Wahyu, yakni, kecenderungan menutup diri, orang yang tiba dari bepergian di wilayah terjangkit, yang merasakan gejala, namun disembunyikan. Sembunyi ini menurut Wahyu, dilakukan karena adanya rasa ragu atau rasa takut akan dikucilkan masyarakat, atau warga sekitarnya.

Oleh karena itu, Ia mengajak seluruh pihak, untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat, bahwa menyikapi ODP, PDP, suspect, bahkan positif, tidak harus dengan mengucilkan, melainkan bersama-sama mendoakan kesembuhan, bahu membahu saling meringankan beban, saling menyemangati. Sebab covid-19 adalah wabah pandemi global, yang tentu, tak seorang pun mau tertular.

“Menurut laporan Camat, ada yang sampai tinggal di kebun, ada yang ditempatkan disatu ruangan atau bangunan yang jauh dari rumah, itu berlebihan. Artinya tidak perlu kita perlakukan, atau disikapi seperti itu (dikucilkan, red), karena kan mereka belum tentu mengidap covid-19. Kita patut mewaspadai, tapi sebagian kecil masyarakat ini seolah olah seperti apa begitu (bersikap berlebihan, tidak substantif, red). Hanya memang perlu kewaspadaan, tetapi meskipun seseorang dari wilayah terjangkit, belum tentu dia kena virus. Karena kita tidak tau mana yang kena virus dan mana yang tidak kena virus, makanya semua dipantau,” urai Wahyu.

Kata mantan Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Baubau ini, kebanyakan yang memantau diri sendiri adalah orang yang tidak ada gejala, yang pulang dari bepergian di wilayah terjangkit. Statusnya, dari pemantauan pribadi, ke ODP.

ODP adalah orang yang mempunyai dua gejala, kemudian punya riwayat dari wilayah terjangkit. Ketika gejalanya memburuk, maka dokter punya otoritas menentukan orang tersebut layak jadi PDP dan dibawa ke rumah sakit. Tetapi sebelum dibawa ke rumah sakit, dokter Puskesmas terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter RSUD Baubau.

“Dokter RSUD Baubau, seorang dokter specialis dalam, dokter Lukman. Misal, menyampaikan, dok ini pasien kami ini gejalanya selama tiga hari ini kondisinya tambah buruk, hari keempat ini kondisinya, sudah mulai sesak napas. Biasanya sesak napas menjadi ukuran, bahwa dia mengarah ke pneumonia, gejala gejalanya mirip dengan covid-19. Nanti dokter spesialis dalam bertanya kepada dokter Puskesmas, selama kamu pantau bagaimana, dan ada jawaban penjelasan dari dokter Puskesmas, tentang kondisi pasiennya. Andai mereka (dua dokter, red) sudah klop, layak PDP, kita akan jemput. Kalau ODP orang dalam pemantauan belum sakit, kalau sudah PDP pasien dalam pengawasan, berarti sudah pasien, namanya orang sakit. Kalau masih gejala batuk ringan, masih dipantau dokter Puskesmas kan, kalau ODP dikunjungi dengan APD level 2, maka PDP di ruang isolasi rumah sakit, dirawat dengan APD level 3, baju astronot, dirawat sambil dipersiapkan informasi informasi mengenai kontak eratnya. Di rapid test dulu, kalau negatif ya diobati saja, dirawat di rumah sakit. Kalau positif, maka itu belum dinyatakan positif, karena golden standarnya itu bukan rapid test, tapi suak dibawa ke Laboratorium di Kendari, dalam dua sampai tiga hari ada hasilnya, nah ketika positif, maka dia dirawat, dan kontak eratnya menjadi pantauan ketat , orang orang di rumahnya begitu,” urai Wahyu, menjelaskan penanganan ODP dan PDP.

Wahyu kembali memastikan, bahwa untuk saat ini, telah tersedia APD di Puskesmas. Dan ketika ada gejala, dan PDP, maka pasien akan dijemput, untuk dirawat di RSUD Kota Baubau.

Lebih lanjut, Ia menuturkan, APD di Kota Baubau sebelumnya hanya tersedia 40 APD, dan sekarang tersedia 180 APD, setelah ditambah 140 APD.

Kata dia, Dinas Kesehatan sebelumnya hanya memiliki 10 APD, ditambah 30 APD, alhasil saat ini sudah tersedia 40 APD lengkap di Dinas yang dipimpinnya. APD ini masih akan terus ditambah, sementara dilakukan pemesanan.

“Kami yakinkan ke teman teman petugas kesehatan tidak perlu khawatir, InsyaAllah kita siap, karena sekarang ruang isolasi sedang digarap sesuai standar, kemudian tenaganya, baik di RSUD maupun Puskesmas sudah tahu bagaimana standar penanganan, mereka sudah siap, dan APD juga relatif lengkap. Uji Rapid test masih ada, baik di Dinas Kesehatan, maupun di RSUD. Kemudian juga, akan dilatih tenaga medis untuk pengambilan suak. Yang melatih adalah tenaga profesional dari RS Bahteramas, dalam on the job training, latihan praktek sambil teori,” jelas Wahyu.

“InsyaAllah Baubau terhindar, InsyaAllah kita siap penanganan,” doanya.

[RED]

Komentar

News Feed