Pemkot Baubau Gelar Simposium Budaya Buton, Perkuat Langkah Menuju UNESCO
Baubau
Pemerintah Kota Baubau mulai menyiapkan langkah untuk mengusulkan Benteng Wolio Kesultanan Buton sebagai Warisan Dunia UNESCO. Prosesnya telah memasuki tahap preliminary assessment atau penilaian awal, yang membutuhkan pembuktian ilmiah atas nilai sejarah, arsitektur, dan kebudayaan benteng tersebut.
Upaya itu menjadi salah satu bahasan utama dalam Simposium Budaya Buton yang digelar di Kota Baubau, Rabu (28/10/2026). Forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, budayawan, tokoh adat, diaspora Buton, serta sejumlah ahli untuk memperkuat dasar pengusulan benteng bersejarah tersebut ke tingkat dunia.

Wakil Wali Kota Baubau Wa Ode Hamsinah Bolu, yang mewakili Wali Kota Baubau dalam pembukaan simposium, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat pelestarian kebudayaan Buton. Ia juga menyampaikan bahwa warisan sejarah daerah perlu mendapat tempat lebih luas, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga dalam percaturan kebudayaan dunia.
“Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun masa depan, tetapi juga bangsa yang mampu menghormati, merawat, dan memperkenalkan warisan masa lalunya kepada dunia,” demikian pesan dalam sambutan Wali Kota Baubau yang dibacakan pada kegiatan tersebut.
Simposium mengangkat tema Benteng Wolio Kesultanan Buton: Melestarikan Warisan, Memajukan Diplomasi Budaya, dan Membangun Dukungan Global Menuju Warisan Dunia UNESCO.

Pengusulan Benteng Wolio Masuk Tahap Penilaian Awal
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Baubau, Mohamat Abduh, menjelaskan, gagasan pengusulan Benteng Wolio sebagai Warisan Dunia UNESCO mulai dirintis pada 2025.
Menurut dia, pemerintah daerah telah berkomunikasi secara resmi dengan Kementerian Kebudayaan, dan menyampaikan dokumen awal yang diperlukan dalam proses pengusulan.
Saat ini, proses tersebut telah memasuki tahap preliminary assessment. Tahapan ini menjadi bagian penting untuk menilai kelayakan usulan sebelum berlanjut ke proses berikutnya.
“Sejak tahun lalu, 2025, kita mencoba menggagas agar Kota Baubau, khususnya Benteng Wolio, bisa diusulkan sebagai warisan dunia UNESCO. Sekarang kita sudah masuk dalam proses preliminary assessment,” jelasnya.
Abduh mengatakan, proses penilaian masih membutuhkan sejumlah tahapan lanjutan, termasuk pembahasan teknis dan pertemuan dengan pihak terkait. Pemerintah daerah juga perlu memastikan seluruh persyaratan pengusulan dapat dipenuhi dengan bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.
Ia belum dapat memastikan kapan Benteng Wolio bisa ditetapkan sebagai Warisan Dunia. Pengalaman sejumlah situs lain menunjukkan proses tersebut dapat berlangsung belasan tahun, bergantung pada kesiapan dokumen, kekuatan bukti, dan konsistensi upaya yang dilakukan.
Meski demikian, pemerintah daerah berupaya mempercepat proses tanpa mengabaikan persyaratan yang telah ditetapkan.
Nilai Sejarah Harus Dibuktikan Secara Ilmiah
Salah satu pekerjaan penting dalam proses pengusulan adalah menggali dan memverifikasi bukti sejarah yang mendukung nilai universal Benteng Wolio.
Menurut Abduh, kajian tersebut mencakup manuskrip, tradisi, nilai-nilai budaya, serta bukti arkeologis yang berkaitan dengan perkembangan peradaban Kesultanan Buton.
Dokumen dan sumber sejarah itu perlu diperiksa keaslian serta autentisitasnya. Klaim mengenai teknik pembangunan benteng, termasuk cerita tentang penggunaan putih telur sebagai bahan perekat, juga perlu diuji melalui kajian ilmiah.
“Kita tidak hanya mengatakan tanpa dasar. Semuanya harus dibuktikan,” ujarnya.
Pembuktian tersebut berkaitan dengan Outstanding Universal Value (OUV), yakni nilai universal luar biasa yang menjadi salah satu unsur penting dalam penilaian Warisan Dunia UNESCO.
Karena itu, cerita turun-temurun dan pengetahuan lokal tetap menjadi bagian penting dari penelusuran sejarah, tetapi perlu diperkuat dengan sumber dan bukti yang dapat diverifikasi.
Pemerintah Kota Baubau telah menyiapkan tim untuk mendukung penyusunan dokumen penilaian awal, termasuk penelusuran dan autentikasi sumber-sumber sejarah yang relevan.
Pelestarian Bukan Hanya Urusan Pemerintah
Dalam sambutan pembukaan simposium, Wakil Wali Kota Wa Ode Hamsinah Bolu juga menekankan pentingnya menjaga kebudayaan Buton sebagai warisan yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Komitmen itu tidak cukup diwujudkan melalui perawatan bangunan bersejarah. Bahasa Wolio, manuskrip, sastra, adat istiadat, seni, tradisi, tenun, serta pengetahuan lokal juga perlu terus dipelihara dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat.
Abduh menambahkan, apabila Benteng Wolio kelak ditetapkan sebagai Warisan Dunia, pengelolaan kawasan dan pemeliharaannya akan membutuhkan perhatian lebih besar. Status tersebut juga menuntut tata kelola yang jelas agar pelestarian berjalan seiring dengan aktivitas masyarakat.
Menurut dia, pengakuan internasional berpotensi membuka peluang ekonomi melalui kegiatan yang mendukung pelestarian dan pengembangan kawasan. Namun, manfaat itu perlu diimbangi dengan pengaturan yang memastikan nilai sejarah dan keaslian situs tetap terjaga.
Ia menilai keberhasilan pengusulan tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat juga perlu terlibat, terutama dalam menjaga nilai-nilai budaya agar tetap hidup dan tidak berhenti sebagai pengetahuan tentang masa lalu.

Libatkan 150 Peserta dan Sejumlah Ahli
Kepala Bapperida Mohamat Abduh melaporkan, Simposium Budaya Buton diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai unsur, antara lain pemerintah daerah, forum koordinasi pimpinan daerah, tokoh adat, budayawan, akademisi, diaspora Buton, serta tim nominasi pengusulan Benteng Wolio Kesultanan Buton.
Kegiatan tersebut menghadirkan lima narasumber, yakni Prof Dr Susanto Zuhdi MHum, Prof Dr Oman Fathurahman MHum, Prof Ir Sumbangan Badja MPhil PhD, Dr Dadang Rukmana SH CES DEA, dan Drs Gatot Ghautama MA.
Forum ini diharapkan menghasilkan pemahaman bersama mengenai nilai sejarah dan arsitektur Benteng Wolio, memperkuat komitmen pelestarian kebudayaan Buton, serta merumuskan rekomendasi strategis bagi proses pengusulan ke UNESCO.
Selain itu, simposium diharapkan membuka ruang kerja sama antara pemerintah, akademisi, komunitas budaya, tokoh adat, dan diaspora untuk memperkuat diplomasi budaya Buton.
Bagi Baubau, pengusulan Benteng Wolio bukan sekadar mengejar pengakuan internasional. Tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana memastikan bukti sejarahnya kuat, pengelolaan kawasannya berkelanjutan, dan nilai-nilai budaya yang diwariskan Kesultanan Buton tetap hidup di tengah masyarakat.
Proses menuju Warisan Dunia masih panjang. Namun, melalui penyiapan dokumen, kajian ilmiah, dan dukungan berbagai pihak, Pemerintah Kota Baubau berupaya membawa warisan sejarah Buton ke panggung kebudayaan dunia.









Komentar