Perjuangan Hidup Marzuki, Anak Kampung di Buton Tengah Sukses Bisnis Properti

Pengusaha Perumahan Inulgi, Marzuki

Catatan: LM Irfan Mihzan

Siapa yang tak kenal pengusaha sukses yang satu ini, gebrakannya dalam membangun dan mengembangkan bisnis property di Kota Baubau, dan wilayah lainnya di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), terbilang cukup dahsyat. Namun, kesuksesan, banyak harta, tak lantas mengubahnya menjadi jumawa, apalagi lupa diri dan menjadi sombong. Karakternya tetap selalu sederhana, apa adanya.

Dia adalah Marzuki, pemilik perusahaan pengembang perumahan, PT Wahyu Inulgi Mandiri.

Saya berbincang dengan Marzuki, di sebuah rumah makan populer di negeri khalifatul khamis, RM AR Food.

Mata Marzuki berkaca-kaca, hingga air membasahi kelopak matanya. Suaranya bergetar, emosinya tertahan saat memulai cerita singkat tentang kisah hidupnya.

“Saya lahir dan dibesarkan di kampung kecil namanya dulu itu Mbela-mbela. Sedih kalau saya ingat masa-masa susah dulu,” ucap Marzuki, sembari mengusap air mata.

Marzuki sempat menghela nafas dan menghembuskannya perlahan untuk lebih menenangkan diri. Dan Ia kembali berkisah, bahwa Ia hanyalah anak kampung, yang sejak lahir, masa kecil, remaja hingga saat anak mudanya hidup serba kekurangan. Namun semua itu adalah sebuah lembar perjalanan hidup baginya, yang selalu dikenang, senantiasa dipetik hikmahnya. Marzuki berserah diri kepada Allah SWT sebagai penentu segalanya.

*Lebaran Memakai Seragam Sekolah*

1 Desember 1975, Marzuki lahir dari buah cinta bapak dan mamanya, yang bekerja menghidupi keluarga besarnya dari bertani jagung. Ia memiliki 11 saudara lainnya, yang tentu saja bisa dibayangkan, betapa hebat orang tua menghidupi, menyekolahkan, membesarkan anak-anaknya dengan mengandalkan bijaknya alam.

Mengenang masa kecilnya di Desa Lagili Kecamatan Mawasangka Kabupaten Tengah (Buteng), Marzuki banyak menghabiskan hari di Kebun. Dia bermain dan  membantu orang tuanya, mencabut rumput membersihkan Kebun, juga menanam dan memetik jagung saat musim panen tiba.

Ada satu kisah yang paling diingat oleh Marzuki. Kala itu saat Lebaran, ketika anak-anak lainnya mengenakan celana dan baju baru, sang bapak membelikan Marzuki dan saudaranya pakaian seragam sekolah. Iapun merayakan Lebaran, bermain bersama sebayanya dengan mengenakan seragam sekolah. Momen ini terkadang membuatnya sedih, namun juga terkadang membuatnya tertawa sendiri karena merasa lucu.

“Kata bapak saya waktu itu, setelah kamu pakai untuk lebaran, baju ini bisa kamu pakai juga untuk sekolah,” ucap Marzuki mengenang sang bapak yang harus menghemat uang, karena bertekad agar anak-anaknya bisa tetap bersekolah.

Marzuki bersekolah, 1981 – 1987 di SDN Mbela-mbela, lanjut 1987 – 1990 di SMPN Lanto yang sekarang menjadi SMPN 1 di Mawasangka Tengah. Kemudian pada 1990 – 1993 Ia menamatkan pendidikan menengah atas di SMAN 4 Baubau.

*Hidup Miskin Jadi Motivasi*

Pencapaian yang diraih Marzuki saat ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Panjang dan liku hidup, berbagai pekerjaan, serta usaha pun telah Ia geluti. Ketegarannya dalam bertahan hidup, bertahan menghadapi segala tantangan dengan penuh ketabahan, adalah buah dari didikan bapak dan mamanya.  Ia ditempa oleh realita.

“Kalau saya kenang masa kecil saya, saya agak sedih, karena kita dibesarkan dari keluarga miskin, hidup dalam kekurangan, keterbatasan perekonomian,” kenangnya.

Tamat SMP, Marzuki remaja menderap langkah kaki di Kota Baubau (masih Kabupaten Buton saat itu) menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMAN 4 Baubau. Di negeri pemilik benteng terluas di dunia inilah Marzuki mulai menempa diri, banyak melihat dan mempelajari sesuatu yang tidak didapatkan di Desanya. Di Baubau dia tinggal di sebuah rumah orang baik hati, di Kaobula.

Untuk makan sehari-hari Marzuki mengandalkan kiriman jagung dari kampung. Dan Ia ke sekolah dengan bekal uang Rp1.500, uang inipun kerap Ia tabung untuk bisa melengkapi perlengkapan menempuh pendidikan.

*Merantau Meraih Mimpi*

Setelah tamat SMA Marzuki memilih hijrah mengais rejeki di negeri orang. Tahun 1993 – 1994 Ia  merantau ke Kalimantan Timur, Balikpapan. Disana Ia bekerja menjual ikan. Namun hanya sekitar dua tahun, Marzuki kembali ke Buton, dan tak lama kemudian, kembali beradu nasib di Malaysia.

Malaysia Timur, tepatnya di Sabah, Marzuki menjadi pekerja lepas, menjual es krim keliling milik sebuah perusahaan es krim, dan sempat juga menjadi penjual ikan. Marzuki bertualang di negeri Jiran 1997 – 2002.

“Disana kita harus petak umpet dengan petugas, karena kita masuk tanpa dokumen resmi. Kadang lapar dan kehausan, tapi semua sudah biasalah, karena dari kampung kita sudah kuat memang jalani hidup begitu,” kisahnya.

Memutar otak untuk merubah hidup yang lebih baik, dari Malaysia Marzuki pulang kampung, dan pada 2004 – 2008 Ia masuk dan menamatkan kuliah di Universitas Dayanu Ikhsanuddin. Dengan pengalaman hidup, wawasan lebih terbuka, buah dari perantauannya di negeri orang, ditambah lagi jenjang pendidikannya, Marzuki semakin matang, semakin bijak meniti daya upaya memperbaiki kondisi perekonomian.

Sebagai anak sulung jiwa kepemimpinannya sudah terasah sejak dini,”Saya kembali ke kampung, saya berpikir saya harus kuliah, dan setelah tamat, berbagai macam pekerjaan saya coba, sampai ke daerah Papua, Timika. Saya pernah coba bisnis hasil laut, tapi saya gagal, usaha itu terhenti,” urainya.

Pengusaha yang dikenal dermawan ini mengaku tak pernah berhenti berusaha, meskipun kerap jatuh dan bangun kembali dalam menjalankannya.

*Sukses Bisnis Property*

Baru pada 2016 Ia memulai merintis usaha membangun dan memasarkan perumahan. Marzuki tak sendiri, titik nol terjun ke dunia bisnis property ini Ia bersama kemenakannya, membangun perumahan Aundonohu Regency di Kendari.

Masih bersama-sama kemenakannya, Marzuki lanjut membangun sebuah kompleks perumahan bernama Baruga Regency, yang juga berlokasi di Kendari.

“Kalau kita ke Kendari, usaha property terbesar yang bergerak dibidang rumah subsidi itu adalah perusahaan yang kami kelola waktu itu,” semangatnya.

Terus melebarkan sayap usaha, Marzuki ekspansi ke Baubau, pada 2017 Ia membangun perumahan Inulgi. Dengan badan hukum usaha PT Wahyu Inulgi Mandiri yang hingga kini dipimpinnya.

Diatas lahan seluas sekitar 20 Ha, di Kelurahan Bukit Wolio Indah Kecamatan Wolio, perumahan Inulgi kini sudah membangun lebih 500 unit rumah, dengan target 1000 unit rumah, yang diproyeksikan akan dibangun dalam beberapa tahun kedepan.

“Alhamdulillah meskipun masih skala kecil, semua kerja keras dan pengalaman hidup selama ini yang jadikan saya lebih kuat dan memiliki keyakinan dalam menjalankan usaha, sampai seperti sekarang ini,” ucapnya.

Marzuki merasa nyaman dan penuh rasa syukur atas apa yang diberikan Maha Pemilik Kehendak untuknya dan keluarga. Semua pencapaian ini berkat ridho orang tua, dan doa orang-orang yang mengasihinya.

*Istri dan Puteri Tercinta*

Perjuangan hingga keberhasilan Marzuki didampingi seorang perempuan hebat, sang Istri tercinta Cindy Kartika Sari, yang sudah memberikannya seorang puteri kecil nan cantik jelita bernama Bilqiz Olivia, yang baru berumur dua tahun.

Keluargalah kekuatan dan kebahagiaan terbesar bagi Marzuki. Senyum riang puteri kecilnya, keramahan serta hati nan mulia sang Istri tercinta, adalah penyemangat yang tiada tanding tiada banding. Kesederhanaan pun tetap ditanamkan Marzuki dalam keluarga.

*Keyakinan dan Kepercayaan*

Ada hal menarik dari kisah keberhasilan Marzuki dalam usaha property. Ia memulainya tanpa modal uang, alias NOL RUPIAH.

Marzuki menanamkan keyakinan, keberanian dan menjaga kepercayaan. Inilah modal utama baginya. Tak memiliki modal sama sekali, hanya bermodalkan kepercayaan, Ia membangun komitmen dengan pemilik lahan.

“Kemudian saya meminta waktu untuk saya olah dulu, dan pemilik lahan sepakat. Saya olah lahannya, kemudian saya pasarkan. Alhamdulillah dengan izin Allah orang percaya untuk membeli. Jadi modal saya juga kepercayaan orang kepada saya,” urai Marzuki.

Selanjutnya setelah merintis lahan dan memasarkannya, Iapun mulai membangun rumah. Dari situlah orang semakin percaya dan semakin banyak yang membeli rumah Inulgi.

“Inilah yang terus saya jaga (kepercayaan, red), Alhamdulillah bisa seperti sekarang ini,” pungkas Marzuki.

Saat ini Marzuki telah merencanakan untuk merambah bisnis lainnya. Dengan tetap mengedepankan keyakinan dan kepercayaan dalam menjalani prosesnya.

Marzuki berbagi Tips dalam berusaha/ berbisnis,“Harus punya keyakinan, punya mimpi, dan kita harus menjaga kepercayaan, karena kepercayaan adalah sumber rejeki. Manakala kita tidak dipercaya, maka usaha kita dipengaruhi karakter kita. Kita harus memiliki karakter yang baik, menjaga kepercayaan karena kepercayaan adalah sumber segalanya.” (***)

Komentar