Buah Hati yang Masih Menjadi Mimpi “Tentang Harapan yang Belum Padam”

Buah Hati yang Masih Menjadi Mimpi

“Tentang Harapan yang Belum Padam”

Lima tahun lalu, kami memulai pernikahan dengan mimpi-mimpi sederhana. Tentang rumah kecil yang hangat. Tentang suara langkah kaki kecil yang berlari di ruang tamu. Tentang seseorang yang suatu hari akan memanggil kami “Ayah” dan “Ibu”.

Dan sampai hari ini, mimpi itu masih kami simpan dengan sangat hati-hati. Belum hilang. Belum selesai. Hanya saja… belum menjadi nyata.

Perjalanan ini mengajarkan kami banyak hal yang dulu tidak pernah kami bayangkan.

Tentang bagaimana harapan bisa menjadi sesuatu yang sangat indah sekaligus melelahkan.

Tentang bagaimana cinta diuji bukan saat hidup mudah, tetapi saat doa belum juga menemukan jalannya.

Tentang bagaimana dua orang yang sama-sama terluka tetap memilih saling menggenggam agar tidak runtuh sendirian.

Kami pernah menangis. Pernah kecewa. Pernah lelah menghadapi pertanyaan yang terus datang. Pernah merasa tertinggal dari orang-orang di sekitar kami. Tetapi di tengah semua itu, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang: harapan.

Mungkin bentuknya sudah berbeda sekarang. Tidak lagi penuh tuntutan. Tidak lagi dipenuhi amarah terhadap keadaan. Harapan kami kini lebih tenang. Lebih pasrah. Lebih dewasa.

Kami masih berdoa untuk seorang anak. Masih membayangkan bagaimana rasanya mendengar suara tangisan bayi di rumah kami.

Masih membayangkan tangan kecil yang menggenggam jari kami untuk pertama kali. Masih membayangkan suatu hari nanti rumah ini tidak lagi terlalu sunyi.

Tetapi sekarang kami juga belajar menerima bahwa hidup tidak selalu harus sempurna untuk tetap layak disyukuri. Karena ternyata, di tengah penantian panjang ini, Tuhan tetap memberi kami banyak hal baik.

Ia memberi kami pasangan yang tidak pergi ketika keadaan menjadi sulit. Ia memberi kami cinta yang justru tumbuh lebih kuat setelah berkali-kali diuji.

Ia memberi kami hati yang meski lelah, masih mampu saling menguatkan.

Dan mungkin itu juga sebuah bentuk jawaban.

Saya sering berpikir, mungkin seorang anak memang belum hadir di rumah kami hari ini. Tetapi perjalanan menunggunya telah mengajarkan kami menjadi manusia yang lebih lembut. Lebih sabar. Lebih menghargai waktu. Lebih memahami rasa sakit orang lain. Lebih mengerti bahwa tidak semua orang yang terlihat tersenyum benar-benar baik-baik saja.

Kami belajar bahwa hidup bukan perlombaan. Bahwa setiap pasangan punya waktunya masing-masing. Dan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk yang sama.

Ada orang yang dipeluk bahagia lewat anak-anaknya. Ada yang dipeluk lewat pasangan yang setia menemaninya bertahun-tahun. Ada yang dipeluk lewat kekuatan untuk bertahan meski hidup tidak berjalan sesuai rencana.

Dan kami masih belajar menemukan bentuk bahagia kami sendiri.

Buku ini tidak ditulis untuk menunjukkan bahwa kami sudah selesai dengan perjuangan ini. Belum.

Sampai halaman terakhir ini ditulis, kami masih menjadi pejuang dua garis merah.

Kami masih berharap. Masih berdoa. Masih menunggu. Tetapi sekarang kami tidak lagi berjalan dengan hati yang penuh kemarahan kepada takdir.

Kami berjalan dengan lebih tenang. Dengan keyakinan bahwa apa pun yang nanti Tuhan tuliskan untuk hidup kami, cinta kami tidak boleh ikut hilang.

Karena pada akhirnya, anak memang hadiah yang sangat kami rindukan. Tetapi perjalanan ini membuat kami sadar bahwa rumah tangga tidak hanya dibangun oleh hadirnya seorang anak.

Rumah tangga dibangun oleh dua orang yang terus memilih satu sama lain setiap hari. Dan sejauh ini, itulah yang masih kami lakukan. Memilih bertahan. Memilih saling menggenggam. Memilih tetap pulang satu sama lain meski hidup belum berjalan seperti yang kami impikan.

Jika suatu hari nanti Tuhan mempercayakan seorang anak kepada kami, kami akan menyambutnya dengan penuh syukur. Tetapi jika jalan hidup kami ternyata masih harus lebih panjang dari ini, kami juga ingin tetap hidup dengan hati yang penuh cinta.

Sebab kami tidak ingin penantian ini menghapus kebahagiaan yang masih kami miliki hari ini.

Untuk semua pejuang dua garis merah yang membaca kisah ini, kami ingin mengatakan satu hal: kamu tidak gagal hanya karena hidupmu berjalan berbeda. Dan rumahmu tidak kurang berharga hanya karena belum terdengar suara tangisan bayi di dalamnya.

Tetaplah saling menggenggam. Tetaplah saling menjaga. Tetaplah percaya bahwa harapan selalu punya cara untuk hidup, bahkan di hati yang berkali-kali patah.

Mungkin hari ini buah hati itu masih menjadi mimpi. Tetapi cinta yang membuat kami bertahan sejauh ini adalah nyata. Dan selama cinta itu masih tinggal di rumah kami, harapan akan selalu punya tempat untuk pulang.

Penulis: LM Azhar Sa’ban

Baca bagian sebelumnya:

Komentar

News Feed