Baubau
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. UUD 1945 Pasal 33 (3).
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), tak terkecuali 17 Pemerintah Kabupaten/Kota didalamnya tengah disibukkan dengan persiapan peringatan Hari Ulang Tahun ke- 58 Sultra. Setiap tahun, HUT Sultra jatuh pada tanggal 27 April, diisi dengan beberapa rangkaian acara selama sepekan, termasuk didalamnya pameran pembangunan.
Berbagai pencapaian program kerja pemerintah daerah diekspos dalam pameran, termasuk menghadirkan artis ibu kota yang akan menghibur panggung rakyat nan spektakuler.
Ini moment dan tempat dimana seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) unjuk prestasi, unjuk terobosan, inovasi serta klaim keberhasilan kinerja masing-masing unit kerjanya. Dalam semarak HUT Sultra juga hadir para Tokoh yang ikut berkontribusi dalam geliat perekonomian, pencatat historikal sejarah, budaya, pembangunan, pemerintahan, bahkan politik.
Sebuah momentum berharga, peringatan HUT Sultra tahun ini Kasamea.com berkesempatan mewawancarai seorang Tokoh Politik Senior, yang namanya kerap mewarnai setiap perhelatan politik tak hanya di Sultra, bahkan dikancah politik nasional.
Dia adalah salah seorang pendiri Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang juga pernah menahkodai Partai berlambang Kepala Banteng Bermoncong Putih di Sultra.
La Ode Rifai Pedanza.
Wawancara singkat dengan Pekebun Jati ini berlangsung di sebuah villa ternama di Kota Baubau, Sabtu (21/5/22) malam.
Yah La Ode Rifai Pedanza, yang tak ingin disebut seorang Tokoh Politik. Merendah hati, ia lebih nyaman disebut Tukang Kebun/Pekebun, sebab saat ini ia memang konsisten mengurusi kebun tanaman khas di Kabupaten Muna, tanah kelahirannya, yakni Pohon Jati, kayu berkwalitas wahid, bernilai ekspor yang mendunia.
La Ode Rifai Pedanza tak banyak membahas tentang dinamika politik, pemerintahan. Ia lebih menyorot tentang sektor produksi, yang diulasnya secara lugas, singkat jelas dan padat.
Menurutnya, HUT Sultra adalah moment penting untuk melakukan instrospeksi mendalam, evaluasi akan kondisi kehidupan masyarakat. Kaitan dengan bagaimana potensi SDA dan SDM Sultra bisa menopang perekonomian, mensejahterakan masyarakatnya.
Luasnya lahan yang menghampar di Bumi Anoa, adalah sebuah potensi yang belum sepenuhnya termanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakatnya sendiri.
Perkembangan sektor produksi masih jauh dari harapan. Padahal kata dia, Sultra memiliki setidaknya sekitar 3juta Ha lahan, yang didalamnya ada hutan produksi, hutan lindung, dan status kawasan sebagainya.
“Belum termanfaatkan secara maksimal, padahal potensinya (Sultra) sangat luar biasa. Memang butuh keseriusan, perhatian khusus untuk mengembangkan perekonomian rakyat dari sektor produksi,” ungkapnya.
Tak hanya tanah yang luas, kata La Ode Rifai Pedanza, Sultra juga memiliki laut yang didalamnya hidup berbagai biota kebutuhan manusia, dengan nilai ekspor yang tinggi. Hasil lautnya juga bisa menembus pasar dunia.
La Ode Rifai Pedanza sudah puluhan tahun menggeluti usaha perkebunan Jati. Ia menilai, pemanfaatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Pemerintah Daerah bisa lebih fokus pada pemberdayaan masyarakat, melalui program pengembangan sektor produksi.
Untuk itu kata dia, harus ada komitmen pemimpin, para penentu kebijakan, agar lebih memanfaatkan hutan, sepenuhnya untuk kepentingan, kemakmuran rakyat. Cukup banyak tanaman kehutanan yang bisa dibudidayakan, tanaman jangka pendek, menengah, atau jangka panjang.
Yang terpenting, lanjut mantan Ketua PDIP Sultra ini, masyarakat dibimbing hingga bisa mandiri. Jangan hanya diberikan bantuan, terus dilepas, dan pada akhirnya tidak dikembangkan karena keterbatasan pengetahuan/pemahaman.
Masyarakat semestinya didampingi sampai mereka ‘mapan’ dalam arti memiliki pengetahuan/pemahaman bercocoktanam secara modern, dengan tekonologi tepat guna, yang pro pada pelestarian lingkungan/alam.
“Contoh tanaman Pinang, umur enam tahun sudah produksi, bisa menghasilkan tujuh sampai delapan ton per tahunnya. Ini untuk bahan pembuatan cat, kosmetik, untuk tekstil dan lain-lain. Pasarnya jelas,”.
“Kalau bicara Jati, pasarnya sampai di eropa. Lihat saja rumah-rumah diluar negeri sana, pake bahan kayu. Jadi kecuali tidak ada musim dingin lagi baru tidak laku ini Jati,” urai La Ode Rifai Pedanza, dengan tawa kelakar kecil khas-nya.
Masih banyak tanaman lainnya yang bisa tumbuh subur di tanah Sultra, dengan harga tinggi, dan bisa menjadi tumpuan masyarakat dalam mencukupi kebutuhan. Bahkan bisa sejahtera hidupnya.
Ba’dah sholat Isya, di teras villa tempat La Ode Rifai Pedanza menginap, orang-orang sibuk lalu lalang. Mereka adalah tamu yang menghadiri rangkaian peringatan HUT Sultra, yang tahun ini dipusatkan di negeri Sara Patanguna, pemilik Benteng Terluas di Dunia, 22-28 Mei.
Bincang santai kami lanjutkan.
Dalam setiap uraian katanya, penjelasan tentang manajemen perkebunan, estimasi/kalkulasi biaya, omset, hingga profit. Tampak jelas La Ode Rifai Pedanza sangat menguasai bidangnya.
Bagaimana ia memproyeksikan, bila hutan-hutan produksi dimanfaatkan diseluruh Kabupaten yang ada di Sultra. Termasuk dengan lahan yang masih sangat luas tersebut, usaha peternakan juga bisa dikembangkan. Sangat prospektif.
Ia berharap Pemerintah Provinsi juga Kabupaten bisa mendorong Industri Kehutanan yang berkesinambungan.
“Baiknya industri kehutanan kita dikembangkan. 1 hektar saja kebunnya masyarakat, sudah selamat (Bisa mencukupi kebutuhan hidup) dengan anak-anaknya,” yakinnya.
Fokus perhatian La Ode Rifai Pedanza untuk Sultra rupanya tertuju pada Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Perhutanan Sosial.
Perhutanan Sosial merupakan progam pro rakyat, dimana negara memberikan akses kelola kepada masyarakat melalui lima skema, yaitu hutan kemasyarakatan, hutan desa, hutan tanaman rakyat, kemitraan kehutanan, dan hutan adat. Mempunyai manfaat dari berbagai sektor, seperti pertanian, perkebunan, peternakan, UMKM, kemitraan industri, pariwisata dan energi didalam satu kawasan.
Seterusnya La Ode Rifai Pedanza mengapresiasi perkembangan Sultra dari waktu ke waktu. Geliat perekonomian tampak nyata terlihat.
Mengucapkan selamat, serta doa bagi Sultra.
“Semoga Sultra semakin jaya, sejehtera semua masyarakatnya,” tutup La Ode Rifai Pedanza.
Bila menyimak buah pikir seorang La Ode Rifai Pedanza diatas, daya kritis kita dapat menerawang meneropong hamparan Bumi Anoa dari atas langit. Dimana Industri Kapitalis tumbuh sedemikian pesatnya, mengancam anak negeri hanya menjadi pekerja dengan upah keringat, bukannya memiliki usaha mandiri yang bertumbuh atas asuhan Ibu Pertiwi. Menjadi tuan di rumah sendiri, memanfaatkan, mengelola potensi yang ada untuk sebuah kesejahteraan nun jauh disana. (***)
Catatan LM. Irfan Mihzan
(Pendiri-Pemimpin Redaksi Kasamea.com)









Komentar