oleh

Revitalisasi Kasulana Tombi Didoakan Imam Masjid Keraton Buton, Dibahas Bersama Lembaga Adat, Budayawan, Sejarahwan, Hingga Ahli Cagar Budaya

kasamea.com BAUBAU

Wali Kota Baubau Dr H AS Tamrin MH telah meletakan batu pertama, pertanda akan dimulainya pekerjaan Revitalisasi Kasulana Tombi (Tiang Bendera Longa-Longa Kesultanan Buton), cagar budaya peninggalan eks Kesultanan Buton.
Prosesi peletakan batu pertama berlangsung hikmad, didoakan langsung oleh Imam Masjid Keraton Buton bersama perangkat Masjid Keraton Buton, yang dihadiri unsur Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah), unsur Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemerintah Kota, unsur Lembaga Adat, budayawan, sejarahwan, serta stakeholder terkait lainnya.

Revitalisasi Kasulana Tombi merupakan hajatan banyak pihak yang sama persepsi hendak melestarikan cagar budaya berusia ratusan tahun tersebut. Tak luput seorang AS Tamrin, yang juga menanamkan niat tulus, telah memikirkan pelestarian Kasulana Tombi, bahkan jauh sebelum Ia memimpin sebagai Wali Kota.

AS Tamrin sendiri lahir dan menjalani masa kecil, hingga tumbuh dewasa dalam kawasan Benteng Keraton Buton. Menjalani hari-hari bersama keluarga besarnya didalam kawasan Benteng terluas di dunia tersebut. Dan hingga saat ini masih memegang teguh, mengimplementasikan falsafah Buton. Bahkan menuangkan gagasan pemikiran, pemaknaan, penghayatannya akan Falsafah Buton dalam Disertasi Doktornya.

Revitalisasi Kasulana Tombi dalam proses perencanaannya, sejak awal telah melibatkan masyarakat eks Kesultanan Buton. Para budayawan, sejarahwan, Lembaga Adat, ahli arkeolog, pakar cagar budaya, melalui beberapa kali pertemuan, pembahasan secara detail, konkrit. Mereka adalah orang-orang berkompeten, berdedikasi, representasi masyarakat eks Kesultanan Buton, yang mengkontribusikan pemikiran mereka, berdiskusi, saling dengar pendapat dalam musyawarah mufakat.

Dalam suatu kesempatan musyawarah ini juga diikuti oleh Ketua DPRD Kota Baubau, H Zahari, sebagai Lembaga resmi yang mewakili rakyat.

AS Tamrin pun memastikan, bahwa perencanaan revitalisasi telah melalui prosedural proses administratif maupun teknis, kajian secara konkrit, detail, dengan melibatkan stakeholder yang berkompeten.

Revitalisasi dilakukan, mengingat saat ini Kasulana Tombi dalam kondisi miring, dan setiap hari kemiringannya bertambah. Belum lagi kayu lapuk, yang tentu tak dapat diprediksi sewaktu-waktu akan roboh.

Pertemuan demi pertemuan, diskusi, konsultasi, koordinasi, guna membahas revitalisasi dilakukan berkali-kali dengan melibatkan banyak pihak berkompeten dibidang kebudayaan, sejarah Buton, juga para ahli arkeolog, cagar budaya dari luar Kota Baubau. Mencari format revitalisasi yang terbaik.

“Dibicarakan beberapa kali, di Baruga Keraton, di Rujab (rumah jabatan, red) pembahasannya. Konsultasi publik, sosialisasi kepada masyarakat, dihadiri budayawan, sejarahwan, Lembaga Adat, pihak berkompeten dibidang cagar budaya,” jelas AS Tamrin.

AS Tamrin mengatakan, bahwa sosialisasi yang dilakukan Pemerintah Kota dalam hal ini, bukan sosialisasi dari rumah ke rumah, orang per orang, melainkan menghadirkan seluruh stakeholder, DPRD sebagai representasi rakyat, unsur masyarakat yakni para tokoh masyarakat, budayawan, sejarahwan, ahli dan para pakar yang berkompeten dibidang pelestarian cagar budaya.

Ia menuturkan, banyak saran pendapat dari beberapa kali pertemuan tersebut. Ada yang mengusulkan untuk dicabut atau dibuka dan dibuat duplikat, bahkan dibungkus tembok, dipasang tiang beton penyangga kemudian mengikatkannya dengan menggunakan tali. Sampai pada akhirnya disepakatilah bentuk revitalisasi seperti saat ini, dipasangi tower penyanggah sekelilingnya, dan beberapa bagian kayu Kasulana Tombi akan direkatkan (dikancingkan) pada bagian tower penyanggah.

Wali Kota periode kedua ini mengatakan, tower penyanggah adalah solusi terbaik, tanpa menghilangkan, menambahkan, ataupun mengurangi kayu asli Kasulana Tombi. Dengan tower penyanggah, warisan Leluhur Buton ini tetap berdiri tegak, dan dapat terlihat elegan dipandang mata, tanpa merusak nilai cagar budaya, dan estetika.

Desainer atau perancang tower revitalisasi Kasulana Tombi adalah Profesor Doktor Rumawan, seorang ahli khusus desain, perancang, pelestarian situs budaya, benda-benda purbakala.

“InsyaAllah leluhur kita tahu bahwa apa yang kita lakukan ini adalah untuk melindungi dan melestarikan sisa-sisa peninggalan mereka. Tulus dari hati kita paling dalam,” ucap AS Tamrin terharu, saat ditemui di rujab Wali Kota Baubau, Kamis (24/9/20) malam.

Selama beberapa tahun Pemerintah Kota Baubau merencanakan revitalisasi Kasulana Tombi, selain memikirkan tentang penganggarannya, juga memastikan bahwa harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang revitalisasi cagar budaya. Yang juga melibatkan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Makassar, yang menaungi Kota Baubau sebagai wilayah kerja. Termasuk ahli cagar budaya Borobudur, dan ahli cagar budaya dari Bali, yang memiliki keahlian, kompetensi dalam bidang pelestarian cagar budaya.

AS Tamrin mengingatkan, agar jangan ada pihak yang menghalang-halangi, apalagi dengan alasan karena tidak mengetahui tentang perencanaan revitalisasi Kasulana Tombi tersebut. Sebab Pemerintah Kota telah beberapa kali menggelar pertemuan dengan melibatkan banyak pihak, dalam perencanaan revitalisasi Kasulana Tombi. Sesuai prosedur peraturan perundang-undangan.

“Kita disaksikan arwah Leluhur, manga tootonto sumanga siy (bahasa Wolio),” ucap AS Tamrin, dalam.

Sehingga, kata pencetus PO-5 ini, Kasulana Tombi sebagai satu kesatuan dari Benteng Keraton, Masjid Keraton, dan cagar budaya lainnya, adalah kebanggaan yang tetap terjaga keutuhannya. Akan tetap berdiri tegak, dengan kayu yang telah berusia ratusan tahun.

AS Tamrin sempat menyinggung pembangunan dalam kawasan cagar budaya Benteng Keraton Buton, yang sudah lebih dulu dilakukan/dikerjakan. Seperti, pembangunan Baruga tepat didepan Masjid Keraton, pembuatan pagar dan atap Batu Popaua, pemugaran Benteng Keraton, yang dalam pekerjaannya juga tanpa sosialisasi ke semua orang, orang per orang, namun tidak dihalang-halangi hingga pekerjaannya selesai.

“Saya juga orang dalam Benteng Keraton saya tidak tau, tapi tau tau sudah jadi (pekerjaan, atau pemugaran dalam kawasan cagar budaya Benteng Keraton Buton, red). Tapi apakah kita mau saling menyalahkan?!. Giliran kita sekarang mau dihalang-halangi. Marilah kita bersama-sama membangun daerah yang kita cintai ini,” pungkas AS Tamrin.

[RED]

Komentar

News Feed