Tidak Semua Doa Dijawab dengan Cara yang Sama

Tidak Semua Doa Dijawab dengan Cara yang Sama

“Tentang Ikhlas dan Harapan”

Semakin lama menjalani hidup, saya mulai memahami satu hal:
manusia sering kali berdoa dengan membawa bayangan tentang bagaimana jawabannya harus datang.

Kami juga begitu. Kami berdoa meminta anak, lalu membayangkan suatu hari akan melihat dua garis merah di test pack, mendengar detak jantung kecil di ruang USG, lalu pulang membawa kabar bahagia untuk keluarga.

Kami membayangkan jawaban doa itu dalam bentuk yang sangat jelas. Dan mungkin, itu wajar. Karena harapan memang membuat manusia menyusun banyak kemungkinan indah di dalam kepalanya.

Tetapi perjalanan ini perlahan mengajarkan kami bahwa tidak semua doa dijawab dengan cara yang sama.

Ada doa yang langsung dikabulkan. Ada doa yang harus menunggu sangat lama. Ada doa yang ternyata dijawab dalam bentuk kekuatan. Dalam bentuk ketabahan. Dalam bentuk hati yang perlahan belajar menerima.

Dan jujur, memahami hal itu bukan sesuatu yang mudah.

Ada masa ketika kami merasa sangat dekat dengan rasa kecewa. Bukan kecewa kepada Tuhan. Tetapi kecewa karena harapan kami sendiri terasa begitu sulit diraih.

Kami sudah berusaha. Sudah berdoa. Sudah menjalani promil. Sudah menjaga diri sebaik mungkin. Tetapi waktu terus berjalan tanpa jawaban yang kami harapkan.

Di titik tertentu, kami mulai bertanya: bagaimana kalau hidup kami memang tidak berjalan seperti yang kami impikan sejak awal?.

Pertanyaan itu terasa menakutkan.

Karena manusia selalu ingin percaya bahwa semua doa baik akan berakhir sesuai harapan.

Termasuk kami.

Tetapi hidup ternyata tidak selalu bergerak mengikuti rencana manusia. Dan perlahan, kami mulai belajar bahwa ikhlas bukan berarti berhenti berharap. Ikhlas adalah ketika hati mulai mampu menerima bahwa Tuhan memiliki cara sendiri dalam menulis cerita hidup seseorang.

Ada malam ketika saya duduk lama setelah berdoa.

Untuk pertama kalinya, saya tidak meminta dengan tangisan yang penuh desakan. Saya hanya berkata dalam hati, “Ya Allah, kalau memang ini harus menjadi perjalanan panjang kami, tolong jangan biarkan kami kehilangan satu sama lain”.

Dan anehnya, malam itu hati saya terasa lebih tenang. Bukan karena semua masalah selesai. Tetapi karena saya mulai memahami bahwa mungkin selama ini kami terlalu fokus pada hasil, sampai lupa melihat proses yang sedang membentuk kami.

Perjalanan ini mengubah banyak hal dalam diri kami.

Kami menjadi lebih peka terhadap rasa sakit orang lain. Lebih hati-hati dalam berbicara.
Lebih menghargai pasangan. Lebih memahami bahwa tidak semua orang yang tersenyum benar-benar baik-baik saja.

Dan mungkin, tanpa sadar Tuhan sedang mengajari kami sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menunggu.

Tentang sabar. Tentang cinta. Tentang bertahan. Tentang menerima hidup tanpa harus kehilangan harapan.

Istri saya pernah berkata kepada saya suatu malam, “Aku takut kalau nanti Tuhan jawab doa kita dengan cara yang berbeda”.

Saya menggenggam tangannya pelan. Dan jujur, saya juga pernah takut memikirkan hal itu.

Takut kalau harapan yang selama ini kami jaga ternyata tidak berakhir seperti yang kami bayangkan.

Tetapi semakin dewasa saya memahami hidup, saya sadar:
tidak semua kebahagiaan datang dalam bentuk yang sama.

Ada orang yang bahagia karena dipertemukan dengan anak-anaknya.

Ada yang bahagia karena dipertemukan dengan pasangan yang setia.

Ada yang bahagia karena diberi kekuatan melewati ujian hidup.

Dan mungkin, tugas manusia bukan memaksa Tuhan mengikuti semua keinginannya.

Tugas manusia adalah tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah salah memilih jalan untuk hamba-Nya. Meski terkadang jalannya sulit dipahami.

Hari-hari setelah itu kami jalani dengan lebih tenang. Kami tetap berusaha. Tetap berdoa. Tetap berharap. Tetapi tidak lagi dengan hati yang penuh kemarahan kepada keadaan.

Kami mulai belajar menikmati hidup tanpa terus bertanya mengapa semuanya belum terjadi. Karena ternyata hidup terasa lebih ringan ketika manusia berhenti melawan takdir secara berlebihan.

Ada hal-hal yang memang harus diperjuangkan. Tetapi ada juga hal-hal yang setelah diusahakan sepenuh hati, sisanya harus diserahkan kepada Tuhan.

Dan mungkin itulah bentuk ikhlas yang sebenarnya:
tetap mengetuk pintu langit dengan doa, tetapi tidak kehilangan kepercayaan ketika jawaban belum datang.

Sampai hari ini, kami masih berharap dipanggil Ayah dan Ibu. Harapan itu belum hilang. Belum padam.

Tetapi sekarang kami tidak lagi menggantungkan seluruh kebahagiaan kami hanya pada satu kemungkinan.

Karena hidup ternyata tetap punya banyak hal untuk disyukuri.

Tentang pasangan yang tetap tinggal.

Tentang rumah yang masih penuh cinta.

Tentang tangan yang masih saling menggenggam meski perjalanan terasa panjang.

Dan jika suatu hari nanti Tuhan benar-benar menjawab doa kami sesuai harapan, kami akan sangat bersyukur. Tetapi jika pun jalan hidup kami ternyata berbeda, kami juga ingin tetap percaya: bahwa Tuhan tetap sedang membawa kami menuju kebaikan dengan cara-Nya sendiri.

Sebab pada akhirnya, iman bukan tentang selalu mendapatkan apa yang diminta. Iman adalah tentang tetap percaya kepada Tuhan, bahkan ketika hidup berjalan tidak sesuai rencana manusia.

Penulis: LM Azhar Sa’ban

Bersambung ➡️ Untuk Para Pejuang Garis Merah …..

Baca bagian sebelumnya:

Komentar