Penulis: LM Azhar Sa’ban
“Perempuan yang Tetap Tersenyum”
Di mata banyak orang, istri saya adalah perempuan yang kuat. Ia seorang dokter. Terbiasa menghadapi pasien, mengambil keputusan cepat, bekerja dalam tekanan, dan tetap terlihat tenang di tengah keadaan yang melelahkan.
Orang-orang mengenalnya sebagai pribadi yang ceria, ramah, dan penuh perhatian. Dan memang benar, ia sekuat itu.
Tetapi ada satu hal yang baru benar-benar saya pahami setelah kami menjalani perjalanan panjang ini:
bahkan perempuan yang terlihat paling kuat pun bisa menyimpan luka yang sangat dalam.
Hanya saja, tidak semua luka terlihat.
Awalnya saya pikir kami sedang menjalani penantian ini dengan biasa saja. Kami masih tertawa, masih bekerja seperti biasa, masih menghadiri acara keluarga, masih terlihat baik-baik saja di depan orang lain.
Sampai perlahan saya mulai menyadari perubahan- perubahan kecil pada dirinya. Ia mulai lebih sering diam.
Lebih sensitif terhadap pertanyaan tentang anak. Lebih lama menatap foto bayi di media sosial. Dan lebih sering menghapus air mata sebelum saya benar-benar melihatnya.
Sebagai suami, ada rasa tidak berdaya ketika melihat orang yang kita cintai sedang terluka, tetapi kita tidak tahu bagaimana cara benar-benar menyembuhkannya.
Saya pernah memergokinya menangis sendirian di kamar mandi. Hari itu sebenarnya tidak terjadi apa-apa. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada kabar buruk. Kami baru saja pulang dari sebuah acara keluarga, di mana hampir semua pembicaraan berakhir pada pertanyaan yang sama:
“Sudah program?”
“Kapan punya anak?”
“Jangan terlalu santai.”
Ia tersenyum sepanjang acara. Menjawab dengan sopan. Terlihat baik-baik saja. Tetapi malamnya, saya mendengar suara tangis kecil dari balik pintu kamar mandi.
Tangis yang berusaha ditahan agar tidak terdengar. Dan entah mengapa, suara itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tangisan keras.
Karena saya tahu, itu bukan tangis yang baru muncul malam itu saja. Itu adalah tangis dari banyak hal yang selama ini ia simpan sendiri.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, matanya sedikit merah. Ia mencoba tersenyum sambil berkata, “Aku nggak apa-apa.” Kalimat yang paling sering diucapkan seseorang justru ketika ia sedang tidak baik-baik saja.
Saya memeluknya tanpa banyak bicara. Kadang pelukan jauh lebih dibutuhkan daripada nasihat.
Sejak saat itu saya mulai lebih memperhatikan hal-hal kecil.
Saya melihat bagaimana ia diam-diam menyalahkan dirinya sendiri. Padahal saya tidak pernah sekalipun menyalahkannya.
Ia sering bertanya, “Kalau memang masalahnya ada di aku bagaimana?”
Saya selalu menjawab, “Kita ini tim. Bukan kamu sendiri”.
Tetapi saya tahu, menjadi perempuan dalam situasi seperti ini tidak mudah.
Tubuh perempuan sering kali menjadi pihak pertama yang dipertanyakan.
Ketika belum hamil, perempuan yang lebih dulu merasa gagal. Perempuan yang lebih dulu merasa kurang. Perempuan yang lebih dulu merasa bersalah.
Padahal, sebuah pernikahan tidak pernah seharusnya meletakkan seluruh beban pada satu orang saja.
Ada hari-hari ketika istri saya terlihat sangat kuat. Ia bekerja seperti biasa, tertawa bersama teman-temannya, bahkan masih sempat menghibur saya.
Tetapi ada juga malam-malam ketika ia tiba-tiba bertanya dengan suara pelan, “Menurut kamu aku kurang apa?”.
Dan pertanyaan seperti itu selalu membuat dada saya terasa sesak.
Karena bagaimana mungkin saya menjelaskan bahwa dirinya tidak kurang sedikit pun?.
Bahwa bagi saya, ia tetap perempuan terbaik yang hadir dalam hidup saya.
Bahwa saya tidak menikahinya hanya untuk menjadi ibu dari anak-anak saya. Saya menikahinya karena saya mencintainya. Utuh. Dengan semua keadaan yang kami hadapi hari ini.
Tetapi saya juga sadar, cinta saja kadang tidak cukup untuk menghapus rasa sedih seseorang.
Ada luka yang tetap tinggal meski kita sudah berusaha saling menguatkan.
Sebagai dokter, ia sering membantu banyak pasangan yang sedang menunggu anak. Ia melihat banyak ibu hamil datang memeriksakan kandungan. Mendengar detak jantung bayi orang lain hampir setiap hari.
Dan saya sering bertanya dalam hati: seberapa kuat perempuan ini sampai masih bisa tersenyum di tengah semua itu?.
Mungkin itulah hebatnya seorang perempuan. Ia bisa terlihat tenang sambil membawa begitu banyak rasa sakit dalam diam.
Ada satu malam yang tidak pernah saya lupakan. Saat itu kami sedang duduk di ruang tamu tanpa banyak bicara.
Hujan turun cukup deras di luar rumah. Tiba-tiba ia berkata pelan, “Aku cuma takut kamu kecewa punya istri seperti aku”.
Saya langsung menoleh. Dan mungkin untuk pertama kalinya, saya benar-benar merasakan bagaimana luka itu telah tumbuh begitu jauh di dalam dirinya.
Saya menggenggam tangannya erat. “Dengar ya,” kata saya pelan. “Aku menikahi kamu bukan karena aku yakin kita pasti segera punya anak. Aku menikahi kamu karena aku mau hidup sama kamu.”
Ia menangis malam itu. Dan jujur, saya juga hampir ikut menangis.
Karena ternyata perjalanan menunggu anak bukan hanya tentang menunggu hadirnya seseorang. Tetapi juga tentang menjaga hati satu sama lain agar tidak hancur di tengah penantian.
Sejak saat itu saya mulai belajar satu hal penting: kadang perempuan tidak selalu membutuhkan solusi. Mereka hanya ingin ditemani. Didengar.
Dipeluk. Dan diyakinkan bahwa mereka tidak sedang berjuang sendirian.
Istri saya mungkin rapuh. Tetapi di balik semua tangis yang ia sembunyikan, ia tetap memilih bertahan.
Tetap memilih berharap.
Tetap memilih berjalan bersama saya.
Dan bagi saya, tidak ada bentuk cinta yang lebih besar daripada itu.
Bersambung ➡️ Lelaki Juga Bisa Hancur …..
Baca bagian sebelumnya:








Komentar