Penulis: LM Azhar Sa’ban
Setiap Bulan Kami Berharap
“Tentang Test Pack dan Doa yang Sama”
Ada fase dalam hidup kami ketika satu bulan terasa seperti satu tahun. Bukan karena hidup berjalan terlalu lambat, tetapi karena kami mulai menghitung waktu dengan cara yang berbeda.
Bukan lagi tentang tanggal gajian, jadwal libur, atau agenda pekerjaan. Kami mulai menghitung hari berdasarkan satu hal: harapan.
Setiap bulan kami menunggu.
Setiap bulan kami berharap.
Dan setiap bulan pula kami belajar bagaimana rasanya kecewa secara perlahan.
Awalnya semua terasa ringan. Kami berpikir kehamilan memang tidak selalu datang secepat yang dibayangkan.
Kami masih santai. Masih percaya semuanya akan terjadi dengan sendirinya.
Tetapi setelah waktu berjalan cukup lama, penantian mulai terasa lebih serius.
Kami mulai memperhatikan kalender. Mulai menghitung masa subur. Mulai membaca banyak artikel tentang program kehamilan. Mulai mengenal istilah-istilah yang sebelumnya terasa asing. Dan sejak saat itu, hidup kami perlahan berubah.
Ada hari-hari ketika istri saya terlihat sangat bersemangat. Ia mulai lebih menjaga pola makan, lebih rutin mengonsumsi vitamin, dan lebih sering membaca informasi tentang promil.
Kadang ia mengirimkan artikel kepada saya sambil berkata,
“Kita coba ini ya”.
Saya mengangguk. “Boleh.”
Kami mencoba banyak hal dengan penuh harapan. Karena begitulah pasangan yang sedang menunggu bekerja: mereka akan menggenggam kemungkinan sekecil apa pun selama masih ada harapan di dalamnya.
Setiap akhir bulan mulai terasa menegangkan. Kami diam-diam menunggu tanda.
Kadang istri saya berkata, “Kayaknya bulan ini beda”. Dan jujur, saya selalu ingin percaya.
Kami mulai mengenal benda kecil bernama test pack dengan cara yang berbeda.
Benda sederhana yang bagi sebagian orang mungkin tidak berarti apa-apa, tetapi bagi kami mampu menentukan suasana hati selama berhari-hari.
Saya masih ingat suatu pagi. Rumah masih sangat sunyi. Matahari bahkan belum benar-benar naik.
Istri saya berjalan ke kamar mandi sambil membawa test pack di tangannya. Wajahnya terlihat campuran antara gugup dan penuh harapan.
Saya duduk di tepi tempat tidur.
Menunggu. Detik demi detik terasa lebih panjang dari biasanya.
Lalu pintu kamar mandi terbuka perlahan. Ia keluar sambil diam.
Dan dari wajahnya, saya sudah tahu jawabannya. Satu garis. Lagi.
Ia mencoba tersenyum kecil sambil berkata pelan, “Mungkin belum rezeki bulan ini”. Tetapi saya tahu hatinya sedang jatuh.
Saya mendekatinya, dan memeluknya tanpa banyak kata. Karena kadang ada kesedihan yang terlalu sulit dijelaskan bahkan kepada pasangan sendiri.
Hari itu kami tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Saya pergi ke kampus. Ia pergi bekerja.
Kami tetap tersenyum kepada orang lain seolah semuanya baik-baik saja. Padahal pagi itu ada satu harapan kecil yang kembali harus kami kubur diam-diam.
Dan anehnya, siklus itu terus berulang.
Berharap.
Menunggu.
Berdoa.
Kecewa.
Lalu mencoba kuat lagi.
Setiap bulan.
Ada masa ketika kami mulai takut berharap terlalu tinggi. Karena ternyata berharap juga bisa melelahkan.
Kadang kami sengaja tidak banyak membicarakannya, agar tidak terlalu kecewa jika hasilnya sama lagi. Tetapi meski tidak diucapkan, harapan itu tetap ada. Selalu ada.
Saya mulai menyadari bahwa penantian seperti ini bukan hanya menguras fisik, tetapi juga mental.
Kami menjadi lebih sensitif. Hal-hal kecil mulai terasa lebih menyakitkan.
Pengumuman kehamilan teman.
Foto bayi di media sosial.
Pertanyaan keluarga.
Bahkan suara anak kecil yang sedang bermain, kadang bisa membuat rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Tetapi di tengah semua itu, saya melihat satu hal yang luar biasa dari istri saya: ia tidak pernah benar-benar berhenti berharap.
Meski lelah. Meski kecewa berkali-kali. Meski sering menangis diam-diam.
Ia tetap berusaha percaya, bahwa suatu hari Tuhan akan menghadirkan jawaban terbaik untuk kami.
Dan mungkin, dari situlah saya belajar tentang arti keteguhan yang sebenarnya.
Bukan tentang seseorang yang tidak pernah menangis. Tetapi tentang seseorang yang tetap mau mencoba lagi setelah berkali-kali merasa patah.
Ada malam ketika kami berdoa bersama setelah salat. Tidak panjang. Tidak puitis.
Hanya doa sederhana dari dua orang yang sangat ingin dipanggil Ayah dan Ibu.
“Ya Allah, kalau memang kami akan dipercaya menjadi orang tua, tolong jaga anak kami di mana pun ia berada sekarang”.
Kalimat itu selalu membuat rumah terasa hening sesaat. Karena kami sadar, ada seseorang yang bahkan belum hadir, tetapi sudah sangat kami rindukan.
Dan begitulah hari-hari kami berjalan. Dengan harapan kecil yang terus kami rawat dari bulan ke bulan.
Meski sering kali pulang dengan kecewa, kami tetap mencoba membuka hati lagi di bulan berikutnya.
Karena cinta membuat kami bertahan. Dan harapan sekecil apa pun itu, selalu memberi alasan untuk kembali mencoba.
Bersambung
➡️ Istriku yang Diam-Diam Rapuh …..
Baca bagian sebelumnya:








Komentar