Kekeringan dan Sawah Terancam Gagal Panen, Petani Ngkari-Ngkari Mandiri Adakan Sumur Bor, Bantuan Pemerintah Kota Baubau Segera Didistribusikan
Baubau
Kekeringan dan sawah terancam gagal panen melanda kawasan persawahan di Kelurahan Karing-Karing (Ngkari-ngkari), Kecamatan Bungi, Kota Baubau. Berdasarkan data terbaru, total lahan sawah yang terdampak dan berpotensi mengalami kekeringan mencapai 26 hektare. Dari luasan tersebut, sebagian spot sawah sudah dipastikan mengalami gagal panen total (puso).

Lurah Ngkari-Ngkari, Ni Luh Dewinasih menjelaskan, bencana kekeringan tahun ini terjadi di spot-spot tertentu dan tidak merata dalam satu hamparan. Menanggapi situasi kritis ini, Wali Kota Baubau bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi sejak dua pekan lalu.
“Hasil kalkulasi dari PPL dan petani, ada sekitar 26 hektare yang berpotensi kekeringan. Bahkan ada spot yang sudah masuk titik kering parah dan dipastikan gagal panen. Meskipun ada curah hujan, tanaman padi di titik tersebut sudah tidak bisa diselamatkan karena bulirnya tidak akan maksimal,” ujar Ni Luh Dewinasih.

Ia menambahkan, Ngkari-Ngkari memiliki dua kelompok Subak, yaitu Pure Sari dan Bali Sari, yang memiliki Unit Pengelola Jasa Alsintan (UPJA). Meski pemerintah telah menyediakan bantuan peminjaman mesin pompa air (alkon), jumlah unit yang tersedia belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pengairan petani.
“Hitungan kerugian yang bisa dialami (padi yang sudah menguning akibat sawah mengalami kekeringan) ini, kalau satu hektarnya itu bisa menghampiri lima juta. Dari pengolahan sampai pemupukan pertama. Yang jelas ini pasti sudah pemupukan pertama. Mereka lakukan penyiangan, dari awal pengolahan, penyiangan, pemupukan pertama itu kurang lebih lima jutaan, modal yang petani keluarkan,” jelasnya.

Petani Mandiri Adakan Sumur Bor
Akibat keterbatasan bantuan, sebagian petani terpaksa mengambil langkah mitigasi mandiri yang memakan biaya besar. Mereka membuat sumur bor, membeli mesin alkon, hingga membangun sistem pipanisasi secara pribadi agar sawah mereka tetap mendapat air.
Salah seorang petani yang ditemui redaksi Kasamea.com, Komang Agus Pramana, membagikan perjuangan pamannya menyelamatkan lahan garapan. Sang Paman terpaksa merogoh kocek hingga belasan juta rupiah demi membuat sumur bor sedalam 25–27 meter.
“Solusinya hanya satu, kita harus punya sumur bor karena tidak bisa hanya menunggu hujan. Untuk biaya mesin, ongkos bor, pipa, termasuk kabel semuanya mandiri. Total biayanya habis hampir 12 juta rupiah,” ungkap Komang.
Melalui sumur bor tersebut, kata Komang, dapat mengoperasikan pompa dari Pukul 06.00 Wita hingga Pukul 18.00 Wita, dengan debit air yang stabil. Namun yang menyedihkan, terdapat lahan sawah seluas setengah hektare (50 are) yang lain, tanaman padi yang baru berusia hampir dua bulan sudah menguning dan mati.
“Ini sudah pasti gagal panen, akar padinya sudah terputus. Walaupun dialiri air sekarang, tetap tidak akan bisa tumbuh lagi. Padahal kalau normal, padi baru bisa dipanen pada usia 4 bulan (100–115 hari). Kerugiannya jelas jutaan rupiah, baru hitung ongkos bajak traktor saja sudah dua juta rupiah lebih, belum dihitung pupuk, obat-obatan, dan biaya tanam,” jelas Komang. Dalam kondisi normal, lahan setengah hektare tersebut biasanya mampu menghasilkan lebih dari 1 ton gabah (sekitar 50–60 karung).
Bantuan Pemerintah Kota Baubau Segera Didistribusikan
Pihak Kelurahan Ngkari-Ngkari saat ini sedang menunggu realisasi bantuan lanjutan dari Pemerintah Kota Baubau untuk mengatasi dampak kekeringan jangka panjang. Mengingat siklus kemarau seperti ini diprediksi akan terus berulang di tahun-tahun mendatang.
Kabar baiknya, berdasarkan informasi terkini dari kelompok tani, bantuan mesin pompa air (alkon) tambahan dari pemerintah daerah, dilaporkan sudah dalam perjalanan menuju lokasi untuk segera didistribusikan kepada petani yang membutuhkan.









Komentar