Jurus Jitu Melawan sang Covid 19

Catatan: LM. Irfan Mihzan

Pandemi covid 19 ini masih berkepanjangan, kian terasa melelahkan. Boro-boro mau bertanya sampai kapan dia akan berlalu, angkanya saja masih full digit. Konon belum ada seorangpun yang tahu ending drama kehidupan Pandemi covid 19 ini.

Namun satu hal yang pasti, sejak munculnya Pandemi covid 19 mendera Dunia, kemudian di Indonesia wabah ini ditetapkan sebagai bencana nasional, darisitulah Pemerintah Republik Indonesia sudah mulai bekerja.

Pekerjaan Pemerintah sangat kompleks, dan janganlah dinalar menggunakan akal sehat, sebab pastinya sangat melelahkan, beribu-ribu bahkan berjuta jilid, bila mengukur item aspek yang diperbuat Pemerintah. Betapa tidak, Pemerintah harus ekstra sensitive, menyikapi sesuatu yang tiba-tiba muncul, mengancam nyawa manusia, masyarakatnya dibelahan Bumi Nusantara ini.

Step by step solusi konkrit diciptakan Pemerintah, Melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19, yang belum lama ini berganti nama dengan Satuan Tugas Penanganan Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi. Ganti nama ganti fokus peran dan kinerja, serta capaiannya.

Penetapan protokol penanganan covid 19 pun beberapa kali berganti klausul. Seiring dengan peningkatan sebaran covid 19, yang sedemikian drastisnya angka pasien positif bertambah, hampir di seluruh pelosok Negeri.

Mata kita menyaksikan secara seksama, mendengar dengan jelas, betapa aparat Pemerintah melalui Gugus Tugas / Satgas bekerja nyaris 24 Jam sehari semalam, baik melalui layar Tv, radio, media pers, media sosial. Mereka harus meninggalkan keluarga di rumah, betapa sedikit waktu mereka menikmati kwality time bersama orang-orang tercinta mereka.

Belum lagi, tak sedikit diantaranya terpapar, jatuh sakit, bahkan sampai meregang nyawa. Bila ada penobatan Pahlawan Nasional Penumpas Covid 19, pantaslah kiranya, mereka yang rela berkorban nyawa ini disematkan tanda Jasa atas nama mereka. Agar dapat terukir dalam sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Percaya tidak percaya, suka tidak suka pasien terpapar itu nyata adanya, pasien meninggal dunia itu nyata adanya, terjadi didepan mata kita. Tatkala Pemerintah terus bekerja, bekerja semaksimal daya upaya mengatasi wabah yang terus mengakibatkan jatuhnya korban, saat itu juga kepercayaan, tingkat kesadaran masyarakat belum bisa mengimbanginya.

Tak sedikit pula oknum atau kelompok yang mendedikasikan diri menjadi dewan juri / tim penilai kinerja Pemerintah. Daya kritis mereka semakin tajam ditengah pandemi yang juga menyentuh rusaknya kehidupan perekonomian masyarakat.

Jelang setahun sudah pandemi ini mendampingi dinamika kehidupan sosial kemasyarakatan kita, perlahan namun pasti masyarakat semakin menyadari, bahwa Pemerintah tidak bisa sendiri dalam perang melawan covid 19 ini. Melainkan butuh masyarakat, agar pandemi ini berkesudahan. Butuh masyarakat yang berkesadaran, masyarakat yang berempati untuk bersama-sama saling bertukar spirit, memotivasi, melawan stigma, saling merangkul, menerima, menguatkan satu sama lain. Sebab semua kita merasakan yang sama, sama-sama merasakan berada ditengah pandemi global ini.

Sehingga tak ada jurus lain untuk bisa melawan sang sakti covid 19 ini, kita hanya harus merendah hati beradaptasi dengan pola hidup baru. Penerapan 3 M: Memakai Masker, Mencuci Tangan Pakai Sabun, Menjaga Jarak. Tiga poin penting yang seharusnya kini sudah bisa dijadikan gaya hidup, karena kita semua dituntut untuk hidup berdampingan dengan covid 19. Lebih lengkap lagi, dengan menjalani pola hidup bersih dan sehat. Biasakan diri kita.

Jurus JITU lainnya untuk menumbangkan sang pendekar covid 19 adalah terus dukung Pemerintah Bekerja Profesional dengan Kita menjadi Masyarakat Berkesadaran Penuh. (***)

Komentar

News Feed