oleh

Respon Aspirasi Warga yang Menolak Isolasi Mandiri Pasien Covid-19, Ini Langkah Konkrit Pemkot Baubau

kasamea.com BAU-BAU

Pemerintah Kota Baubau melalui Gugugs Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19) segera membangun posko terpadu, guna memperketat penanganan (pemantauan, pengawasan, perawatan) pasien positif covid-19 inisial 05 anak laki-laki berumur 11 tahun. Langkah ini dilakukan guna merespon aspirasi warga Kelurahan Kadolo Kecamatan Kokalukuna (lingkungan kilo dua), yang tinggal di sekitar rumah tempat pasien 05 menjalani isolasi mandiri.

Warga setempat menolak pasien 05 dirawat di rumah kakeknya tersebut. Rumah isolasi mandiri pasien 05 dengan halaman yang cukup luas, cukup jauh dari rumah lain di sekitarnya.

Setelah mendapat informasi adanya aspirasi warga tersebut, Gugas Covid-19 langsung turun ke lokasi, dipimpin Sekretaris Daerah, selaku Sekretaris dan Juru Bicara Gugas Covid-19 Kota Baubau, Dr Roni Muhtar MPd, bersama dr Lukman SpPD (specialis penyakit dalam), selaku Ketua Satgas Gugas Covid-19 RSUD Baubau, yang juga selaku Juru Bicara Gugas Covid-19 Kota Baubau, Kepala Dinas Kesehatan, Dr Wahyu SKM MSCPH, Kepala Sat Pol PP, Hanarudin SSos MSi bersama personilnya, Kapolsek Kokalukuna, Ipda Bustan bersama personilnya, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), juga unsur Dinas Komunikasi dan Informatika, Camat Kokalukuna, Erman SSos, dan Lurah Kadolo, Edward Sanjaya STTP, bersama beberapa perwakilan organisasi Tenaga Profesi Kesehatan.

Terjadi dialog antara Gugas Covid-19 dengan warga setempat, Minggu (10/5/20) siang hingga sore hari. Gugas Covid-19 mendengar langsung aspirasi warga yang substantif, sekaligus mengklarifikasi, mengkonfirmasi langsung hal-hal yang mendasari aksi protes yang spontan dilakukan warga, yang sempat memblokir jalan dengan membakar ban, tepat di jalan poros di depan rumah isolasi pasien 05.

Warga menolak pasien 05 dirawat di rumah kakeknya tersebut. Timbul keraguan bercampur rasa takut akan terjadi penyebaran covid-19 yang lebih luas di lingkungan tersebut. Keraguan dan rasa takut ini disebabkan, ada warga yang mengaku sempat melihat pasien 05 keluar rumah. Disusul pula warga yang mengaku sempat melihat seorang remaja laki-laki, tak lain sepupu pasien 05, juga keluar rumah.

Ihwal inipun merebak ke warga lainnya.

Alasan lainnya, warga juga menyinggung tentang akan timbulnya dampak sosial, berupa stigma, atau warga setempat mendapat penolakan warga di lingkungan atau Kelurahan lainnya. Baik dalam pergaulan, maupun di lingkungan kerja.

Mendengar keluh kesah warga, Roni Muhtar memastikan, pihaknya mendirikan posko terpadu, tepat di depan rumah tempat pasien 05 menjalani isolasi mandiri. Untuk menjaminkan kepada warga setempat, lebih diperketatnya penanganan (pemantauan, pengawasan, perawatan) pasien yang masih bocah tersebut.

Di Posko ini, Roni Muhtar menjaminkan, personil Sat Pol PP akan melakukan penjagaan 1 x 24 jam, yang juga akan dibantu personil Polsek Kokalukuna. Tak lepas pula peran para tenaga medis, tenaga surveylance, yang tetap intens melakukan penanganan sesuai protokol.

Roni Muhtar juga menjamin warga setempat, bahwa pihaknya akan memediasi, memfasilitasi warga dengan pihak perusahaan, atau owner usaha, bila terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), akibat dari adanya stigma, atau dikarenakan adanya isolasi mandiri pasien 05 di lingkungan tempat tinggal warga setempat. Pihaknya akan melakukan konfirmasi, klarifikasi secara detail terhadap pihak perusahaan dan karyawan, terkait alasan yang mendasari PHK, untuk mendapatkan solusi terbaik, terpenuhinya hak dan kewajiban kedua belah pihak.

“InsyaAllah kita hadir untuk memberikan solusi bagi masyarakat. Namun perlu pula dipahami, bahwa penanganan pasien 05 ini Pemkot Baubau sangat serius, dan mengikuti protokol yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat,” kata Roni Muhtar, menjelaskan kepada puluhan warga dibawah terik mentari.

Dalam dialog itu, Roni Muhtar berkoordinasi langsung dengan Kapolsek Kokalukuna, Kasat Pol PP, dr Lukman, untuk mendirikan posko penjagaan. Yang juga langsung menginstruksikan Sekretaris BPBD Kota Baubau, untuk melakukan penyemprotan disinfektan di areal rumah isolasi mandiri pasien 05 tersebut. Sekaligus, memberikan bantuan kebutuhan pokok kepada pasien 05 dan keluarga.

Tentang isolasi mandiri di rumah yang dijalani pasien 05 ini adalah sesuai protokol penanganan. Pasien 05 memiliki riwayat kontak dengan pasien 04 yang tak lain adalah ayahnya sendiri.

Pasien 05 tidak masuk dalam kategori transmisi lokal, bukan sebagai kasus infeksi yang terjadi antar masyarakat. Transmisi lokal, keberadaan virus sudah tersebar di tengah masyarakat lokal itu sendiri, sehingga seseorang bisa terinfeksi tanpa harus bepergian keluar wilayah, atau bertemu dengan orang asing dari luar wilayahnya.

Sehingga kata dr Lukman, pasien 05 menjalani karantina mandiri, dimana ada orang tuanya, serta keluarga, yang menjamin, ikut memantau, mengawasi langsung pasien 05 selama menjalani protokol penanganan pasien covid-19 (metode penyembuhan). Tenaga medis juga secara ketat menangani.

Kata dr Lukman, perlu pula diklarifikasi, bahwa pasien 05 tidak tinggal satu ruangan, atau satu lantai rumah dengan kakek atau neneknya, atau keluarga lainnya. Pasien 05 ditempatkan terpisah, dalam kamar tersendiri, di lantai dua. Sehingga, terminimalisir kontak langsung dengan keluarganya. Seluruh keluarga juga mengenakan alat pelindung diri (APD), berupa masker standar.

Dokter Lukman menambahkan, keluarga pasien 05, menjaminkan, bahwa pasien 05, termasuk keluarga, dapat mengikuti seluruh protokol penanganan, perawatan pasien covid-19. Dokter Lukman menambahkan, pihaknya bersama pihak keluarga memastikan pasien 05 tidak pernah keluar dari kamar tempatnya menjalani karantina mandiri, terkecuali untuk menjalankan program olahraga, program rileksasi, yang sudah ditentukan tenaga medis RSUD Baubau.

Program rileksasi ini dapat dilakukan bersama keluarga, untuk memotivasi, memberikan semangat kepada pasien 05, yang tentu dilakukan dengan protokol physical distancing (menjaga jarak) dan tetap mengenakan masker standar.

Tentang keluarga pasien yang disebut-sebut “berkeliaran” keluar dari rumah, dr Lukman mengatakan, itu sepupu pasien 05, seorang remaja, yang sudah menjalani rapid test dengan hasil non reaktif. Dan pihaknya juga sudah menegaskan kepada yang bersangkutan, termasuk keluarga pasien 05 lainnya, agar tidak keluar rumah selama proses karantina mandiri pasien 05.

Dokter Lukman menguraikan, kondisi pasien 05 ini tidak bergejala (OTG/Orang Tanpa Gejala), protokol penanganannya bisa dengan karantina mandiri.

Pasien 05 sejak awal menjalani karantina mandiri di rumah, sejak ada riwayat kontak dengan pasien 04 tanggal 20 April lalu. Pasien 05 terdiagnosa positif covid-19 per tanggal 8 Mei, sehingga dilanjutkan isolasi mandiri di rumah, per tanggal 8 Mei sampai dengan satu bulan kedepan (2 kali 14 hari masa karantina mandiri). Dan dihari ketiga belas, hari keempat belas karantina mandiri, akan dites swab.

Sama dengan empat pasien positif covid-19 lainnya, pasien 05 juga akan menjalani tes swab dua kali, untuk memastikan kesembuhan/negatif dari covid-19.

Dokter Lukman menegaskan, seluruh keluarga tetap tegas dianjurkan untuk memakai masker, rajin mencuci tangan, dan menjaga jarak dari pasien 05. Meminimalisir kontak dengan pasien, termasuk tidak keluar rumah.

“Protokol penanganan pasien tidak bergejala bisa menjalani karantina mandiri di rumah, karena ruang isolasi RSUD kita siapkan untuk pasien pasien bergejala, yang berat. Pasien 01 langsung dibawa ke RSUD karena HBnya dibawah 7, kalau tidak ditransfusi saat itu bisa fatal, terancam meninggal dunia. Pasien 05 ini kondisinya baik baik saja, tidak ada gejala, makanya kita terapkan isolasi mandiri. Ini aturan protokol nasional. Ini juga sebagai langkah antisipasi, bila terjadi lonjakan pasien positif bergejala, kondisi berat, rumah sakit kita bisa menanganinya,” urai Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Baubau ini.

Kala itu juga, usai dialog dengan warga, tim Gugas Covid-19 Kota Baubau langsung mengunjungi rumah karantina pasien 05. Berkomunikasi dengan keluarga pasien 05 di teras dan di halaman rumah, untuk menegaskan kembali penerapan protokol penanganan yang harus dijalani / dipatuhi pasien 05, juga memastikan keluarga pasien 05 menjalankan protokol pencegahan persebaran covid-19. Dan didirikan posko penjagaan.

[RED]

Komentar

News Feed