oleh

ADVERTORIAL DINAS KESEHATAN KOTA BAU-BAU

PENCAPAIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KESEHATAN

Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau menerapkan pelayanan dibidang kesehatan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal. Standar Pelayanan Minimal disingkat SPM merupakan ketentuan mengenai Jenis dan Mutu Pelayanan Dasar, yang merupakan urusan Pemerintahan Wajib, yang berhak diperoleh setiap  warga negara secara minimal.

Pelayanan Dasar dimaksud adalah pelayanan publik, untuk memenuhi kebutuhan dasar warga negara. Pelayanan Dasar dalam SPM merupakan urusan Pemerintahan Wajib, yang diselenggarakan Pemerintah Daerah, baik Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota. Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar, yang selanjutnya menjadi jenis SPM, salah satunya adalah SPM bidang Kesehatan.

Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau merealisasikan, menjalankan SPM Pelayanan Kesehatan Dasar dengan indikator pencapaian yang terpantau per triwulan, per semester setiap tahunnya.

Pencapaian SPM Pelayanan Kesehatan Dasar Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau Januari – Maret 2019 :

  • Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil Pelayanan kesehatan ibu hamil mencapai 16,2 persen. 675 ibu hamil telah mendapatkan pelayanan, dari 4.178 ibu hamil yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin
    Pelayanan kesehatan ibu bersalin mencapai 17,5 persen. 697 ibu bersalin telah mendapatkan pelayanan, dari 3.987 ibu bersalin yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir
    Pelayanan kesehatan bayi baru lahir mencapai 14,7 persen. 557 bayi baru lahir telah mendapatkan pelayanan, dari 3.798 bayi baru lahir yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Balita
    Pelayanan kesehatan balita mencapai 5,7 persen. 810 balita telah mendapatkan pelayanan, dari 14.249 balita yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Pada Usia Pendidikan Dasar
    Pelayanan kesehatan pada usia pendidikan dasar 0,0 persen. 0 usia pendidikan dasar telah mendapatkan pelayanan, dari 3.525 usia pendidikan dasar yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Pada Usia Produktif
    Pelayanan kesehatan pada usia produktif mencapai 11,8 persen. 13.149 usia produktif telah mendapatkan pelayanan, dari 111.384 usia produktif yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Pada Usia Lanjut
    Pelayanan kesehatan pada usia lanjut mencapai 22,0 persen. 2.499 usia lanjut telah mendapatkan pelayanan, dari 11.338 usia lanjut yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Penderita Hipertensi
    Pelayanan kesehatan penderita hipertensi mencapai 32,0 persen. 1.180 penderita hipertensi telah mendapatkan pelayanan, dari 3.691 penderita hipertensi yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Penderita Diabetes Melitus
    Pelayanan kesehatan penderita diabetes mellitus mencapai 18,8 persen. 300 penderita diabetes melitus telah mendapatkan pelayanan, dari 1.600 penderita diabetes melitus yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Orang dengan Gangguan Jiwa Berat
    Pelayanan kesehatan orang dengan gangguan jiwa berat mencapai 72,20 persen. 161 orang dengan gangguan jiwa berat telah mendapatkan pelayanan, dari 223 orang dengan gangguan jiwa berat yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Orang dengan TB
    Pelayanan kesehatan orang dengan TB mencapai 100,0 persen. 100 orang dengan TB telah mendapatkan pelayanan, dari 100 orang dengan TB yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Orang dengan Resiko Terinfeksi HIV
    Pelayanan kesehatan orang dengan resiko terinfeksi HIV mencapai 48,3 persen. 731 orang dengan resiko terinfeksi HIV telah mendapatkan pelayanan, dari 1.513 orang dengan resiko terinfeksi HIV yang seharusnya diberi pelayanan.

Pencapaian SPM Pelayanan Kesehatan Dasar Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau Januari – Juni 2019 :

  • Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil
    Pelayanan kesehatan ibu hamil mencapai 34,2 persen. 1.429 ibu hamil telah mendapatkan pelayanan, dari 4.178 ibu hamil yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin
    Pelayanan kesehatan ibu bersalin mencapai 37,6 persen. 1.499 ibu bersalin telah mendapatkan pelayanan, dari 3.987 ibu bersalin yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir
    Pelayanan kesehatan ibu baru lahir mmencapai 36,3 persen. 1.380 bayi baru lahir telah mendapatkan pelayanan, dari 3.798 bayi baru lahir yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Balita
    Pelayanan kesehatan balita mencapai 11,9 persen. 1.693 balita telah mendapatkan pelayanan, dari 14.249 balita yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Pada Usia Pendidikan Dasar
    Pelayanan kesehatan pada usia pendidikan dasar 0,0 persen. 0 usia pendidikan dasar telah mendapatkan, dari 3.525 usia pendidikan dasar yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Pada Usia Produktif
    Pelayanan kesehatan pada usia produktif mencapai 22,6 persen. 25.149 usia produktif telah mendapatkan pelayanan, dari 111.384 usia produktif yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Pada Usia Lanjut
    Pelayanan kesehatan pada usia lanjut mencapai 35,7 persen. 4.049 usia lanjut telah mendapatkan pelayanan, dari 11.338 usia lanjut yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Penderita Hipertensi
    Pelayanan kesehatan penderita hipertensi mencapai 55,2 persen. 2.037 penderita hipertensi mendapatkan pelayanan, dari 3.691 penderita hipertensi yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Penderita Diabetes Melitus
    Pelayanan kesehatan penderita diabetes mellitus mencapai 34,6 persen. 554 penderita diabetes melitus telah mendapatkan pelayanan, dari 1.600 penderita diabetes melitus yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Orang dengan Gangguan Jiwa Berat

Pelayanan kesehatan orang dengan gangguan jiwa berat mencapai 91,48 persen. 204 orang dengan gangguan jiwa berat telah mendapatkan pelayanan, dari 223 orang dengan gangguan jiwa berat yang seharusnya diberi pelayanan.

  • Pelayanan Kesehatan Orang dengan TB
    Pelayanan kesehatan orang dengan TB mencapai 100,0 persen. 100 orang dengan TB telah mendapatkan pelayanan, dari 100 orang dengan TB yang seharusnya diberi pelayanan.
  • Pelayanan Kesehatan Orang dengan Resiko Terinfeksi HIV

Pelayanan kesehatan orang dengan resiko terinfeksi HIV mencapai 107,5 persen. 1.627 orang dengan resiko terinfeksi HIV telah mendapatkan pelayanan, dari 1.513 orang dengan resiko terinfeksi HIV yang seharusnya diberi pelayanan.

Angka capaian SPM diatas sangat dipengaruhi tingkat kesadaran masyarakat, dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) ataupun di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau Dr Wahyu SKM MSc PH memastikan, pihaknya terus mengimbau dan menyosialisasikan agar masyarakat menggunakan layanan untuk memeriksakan kesehatan, perawatan, serta pengobatan di Puskesmas, juga di Posyandu.

Dalam satu triwulan Januari – Maret angka capaian SPM pelayanan kesehatan dasar seharusnya telah mencapai sekitar 25 persen pelayanan, dan dalam satu semester Januari – Juni, dapat mencapai 50 persen pelayanan. Saat ini, pelayanan dalam satu semester Januari – Juni 2019 belum mencapai 50 persen, hal ini disebabkan masih banyaknya ibu hamil yang tidak, atau belum memeriksakan kesehatan kehamilan di Puskesmas atau Posyandu.

Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau mengumumkan/ menyosialisasikan melalui media komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) agar masyarakat memeriksakan kesehatan di Puskesmas, juga Posyandu.

Kesadaran memeriksakan kesehatan, termasuk kesehatan kehamilan, merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Untuk pelayanan ibu hamil, masih kurangnya angka pelayanan ibu hamil tak hanya dipengaruhi rendahnya tingkat kesadaran akan pentingnya memeriksakan kesehatan kehamilan, namun juga dipengaruhi jarak tempat tinggal ibu hamil yang jauh.

Sama halnya dengan angka capaian pelayanan kesehatan ibu bersalin, yang dalam satu semester Januari – Juni 2019 belum mencapai 50 persen, masih diangka capaian 37,6 persen, termasuk pula pelayanan kesehatan bayi baru lahir. Bayi baru lahir sangat sensitif, harus dijaga kesehatan, juga keselamatannya.

Tingkat derajat kesehatan masyarakat disuatu daerah dikatakan baik, bila 100 persen bayi baru lahir diselamatkan, tidak ada yang meninggal dunia. Indikator ini sangat penting, manusia pada usia bayi sangat sensitif, dan rentan terkena penyakit.

Oleh karena itu angka kematian bayi menjadi indikator yang sangat sensitif, untuk menggambarkan tingkat pelayanan yang baik disuatu wilayah.

Dalam pelayanan kesehatan balita (bayi lima tahun), penelitian Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau, dimasa kehamilan hingga proses persalinan, kontak batin antara ibu hamil, ibu bersalin hingga bayi baru lahir, dengan tenaga Dinas Kesehatan, masih terbilang cukup baik. Namun ketika bayi memasuki usia satu tahun hingga lima tahun, kontak batin tersebut berkurang. Ada kesan, ketika bayi sudah berusia satu tahun hingga lima tahun, perawatan, atau pemberian imunisasi sudah selesai. Padahal, dari usia satu tahun sampai usia lima tahun, bayi masih harus terus ditimbang, diperiksakan kondisi kesehatannya, pertumbuhannya. Setiap bulan harus diamati berat badan, dan tinggi badannya.

Banyak ibu menganggap, setelah imunisasi lengkap, dan bayi sudah berusia lewat dari satu tahun, tidak perlu dibawa lagi ke Posyandu, menyebabkan rendahnya angka capaian pelayanan kesehatan balita, yang hanya 11,9 persen, dari target 50 persen Januari – Juni 2019.

Lainnya, tercatat pula pelayanan kesehatan pada usia pendidikan dasar, yang dalam satu semester Januari – Juni 2019 masih 0,0 persen.

Untuk pelayanan kesehatan pada usia lanjut, Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau telah menyiapkan Posyandu Lansia (Lanjut Usia), yang memberikan pelayanan setiap bulan. Diusia 50 tahun keatas, harus intens dilakukan pemeriksaan, pemantauan tensi darah, fisik, sehingga dapat diberikan saran hidup sehat oleh dokter.

Pelayanan Posyandu Lansia merupakan program yang baru beberapa tahun ini dijalankan di Kota Bau-Bau, sehingga belum tersebar diseluruh Kelurahan, dikarenakan keterbatasan sumber daya, dan tenaga. Beda halnya dengan Posyandu balita yang sudah tersebar diseluruh Kelurahan, bahkan disatu Kelurahan ada yang memiliki 2 sampai 3 Posyandu balita.

Penyakit Khas Perkotaan

Sekitar 20/30 tahun lalu, penyakit tradisional atau penyakit menular mendominasi penyakit yang diderita warga perkotaan, seperti penyakit diare, infeksi saluran pernapasan, malaria, TBC, serta demam berdarah. Kecenderungan saat ini, penyakit tidak menular sudah masuk dalam 10 besar teratas, penyakit yang banyak diderita warga perkotaan, termasuk Kota Bau-Bau. Salah satu penyebabnya adalah, Kota Bau-Bau sebagai sebuah perkotaan yang sedang tumbuh, gaya hidup masyarakatnya juga berubah.

Tingkat kesibukan mempengaruhi kurangnya tubuh dalam bergerak, kurang berolahraga. Misal menempuh jarak 100 meter saja harus dengan mengendarai kendaraan, segala sesuatu kerap menggunakan peralatan, belum lagi kurangnya sayur buah dalam menu makanan sehari hari. Termasuk juga pemeriksaan kesehatan rutin yang belum membudaya, mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes melitus (biasa disebut kencing manis, penyakit gula), gangguan jiwa, penyakit jantung, juga kanker, serta penyakit menular lainnya.

Evaluasi Berkala

Evaluasi pelayanan kesehatan dilakukan secara berkala, yang ditindaklanjuti dengan Rapat evaluasi Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau per satu semester. Capaian pelayanan dimasing-masing Puskesmas menunjukkan pencapaian yang variatif.

Sebagai Pimpinan, Wahyu banyak memberikan motivasi, serta saran konstruktif bagi Kepala-Kepala Puskesmas beserta seluruh jajaran, untuk terus fokus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Termasuk melakukan identivikasi atas hambatan, atau kendala-kendala yang ada. Mulai dari belum sinkronnya kesiapsiagaan tenaga kesehatan dalam melaksanakan pelayanan, dengan kesediaan masyarakat sasaran untuk hadir memeriksakan kesehatan.

Wahyu tak segan mengkritik kemampuan manajerial Kepala Puskesmas dalam menjalankan program pelayanan, tak luput perhatian pada pertanggungjawaban anggaran.

Menurutnya, dibutuhkan sistem manajemen, kemampuan manajerial untuk bisa mencapai target pelayanan. Baginya, dan diturunkan pula pada seluruh Kepala Puskesmas, bahwa memimpin adalah seni, bagaimana menjalankan manajemen, membuat harmoni, balancing, spirit, sehingga sistem manajerial dapat berjalan dengan baik. Koordinasi, konsultasi, harus berjalan beriringan, antara Kepala Puskesmas dengan para Kepala Seksi, dan Kepala Bidang. Bila perlu turun langsung bersama kelapangan.

Salah satu faktor penyebab kurang terukur, dan kurang maksimalnya capaian kinerja, karena belum diaplikasikannya “tulis yang kamu kerjakan, kerjakan yang kamu tulis”. Terkadang Laporan kerja masih kurang diperhatikan, masih kurang dipenuhi. Padahal, manajemen pada tingkat administrasi Dinas Kesehatan Kota, Provinsi atau Pusat, tidak dapat melihat langsung setiap saat apa yang dikerjakan di Puskesmas, melalui laporanlah semua dapat diketahui, dinilai, dan dilakukan evaluasi.

Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau melihat, mencermati kinerja Kepala Puskesmas dari laporan bulanan. Selanjutnya, rutin melakukan evaluasi, yang bertujuan untuk perbaikan dari waktu kewaktu.

Secara kapasitas, para Kepala Puskesmas di Kota Bau-Bau berbeda beda. Ada yang berlatar belakang pendidikan sarjana kesehatan, ada yang dokter, seluruhnya memiliki kapasitas mumpuni dalam menggerakkan staf, termasuk dalam penyusunan laporan. Namun ada pula yang masih perlu mendapat bimbingan dari Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau, khususnya Kepala Puskesmas yang baru memimpin Puskesmas, dengan kapasitas dan pengalaman yang masih terbatas.

Di Kota Bau-Bau saat ini terdapat 17 Puskesmas yang berada didelapan Kecamatan, Wolio, Murhum, Batupoaro, Betoambari, Kokalukuna, Bungi, Lea-Lea, dan Sorawolio. Dalam satu Kecamatan terdapat dua sampai tiga Puskesmas, yang melayani wilayah kerja Kelurahannya (disesuaikan dengan jumlah dan rentang jarak lokasi Kelurahan), dengan mengedepankan akses serta mutu pelayanan.

Angka capaian dalam SPM, dari 100 persen target Nasional tahun 2019, pencapaian 95 persen sudah dianggap baik. Mengandung arti, bahwa dalam setahun seluruh Puskesmas harus mendekati angka capaian SPM, dengan target 95 persen cukup baik.

Angka capaian SPM yang diprediksi dalam setahun, terkadang kurang, namun kadang pula lebih. Artinya, hal ini dapat dipengaruhi mobilitas masyarakat yang tinggi, juga faktor pindah domisili. Kemudian juga, misal jumlah balita yang ada di Kota Bau-Bau 14.249 balita, namun capaian pelayanan bisa melebihi target, dikarenakan adanya keluarga atau orang tua yang memiliki balita, yang mampir, pindah tugas, atau transit di Kota Bau-Bau, memeriksakan kesehatan balita mereka di Kota Bau-Bau. Misal orang tua yang pindah tugas, atau turun dari kapal, transit, atau dari Kabupaten tetangga yang hanya datang untuk tinggal satu atau beberapa bulan di Kota Bau-Bau. Bisa saja imunisasi anaknya sudah harus dilakukan.

Untuk SPM pelayanan kesehatan dasar sendiri, Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau telah memiliki estimasi, yang menjadi acuan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Pencapaian SPM per Puskesmas yang ada di Kota Bau-Bau menjadi indikator evaluasi kinerja Kepala Puskesmas, disamping kemampuan dalam menjalankan program-program yang sudah direncanakan.

Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau rutin melakukan supervisi di 17 Puskesmas yang ada, memastikan pelayanan berjalan dengan baik, atau terdapat kendala. Apakah kendala yang ada dikarenakan ketidakmampuan, tidak disiplin, atau kelalaian Kepala Puskesmas dalam menjalankan sistem manajerial, merealisasikan program, atau terkendala hal lainnya.

Evaluasinya, bila Kepala Puskesmas tidak aktif maka akan dikenakan sanksi, sebaliknya bila Kepala Puskesmas sudah bekerja maksimal tetapi tidak mencapai target, maka akan dilakukan pembinaan. Kiranya terdapat masalah dilapangan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau Dr Wahyu SKM MSc PH mengapresiasi Kepala Puskesmas yang mampu menggalang partisipasi stakeholder, lintas sektor, serta elemen masyarakat dalam menyukseskan berbagai program, juga mencapai target SPM. Menurutnya, kunci keberhasilan menyukseskan berbagai program, dan pencapaian target, ada pada kemampuan manajerial, serta kemampuan berkoordinasi, berkonsultasi diinternal Dinas Kesehatan, juga lintas sektor.

Terkait Laporan kinerja Puskesmas diterima Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau per bulan, dan dilakukan evaluasi formal atas kinerja Puskesmas per semester (dua kali dalam setahun). Evaluasi formal ini didukung dengan evaluasi perbulan dan evaluasi per triwulan yang dilakukan secara informal. Ditambah lagi, dengan melakukan supervisi, sehingga dapat terus mempertahankan mutu pelayanan yang sudah berjalan baik, serta meningkatkan berbagai hal yang masih dianggap kurang dalam melayani masyarakat.

Dr Wahyu SKM MSc PH menegaskan, 12 prioritas pelayanan kesehatan sesuai dengan SPM harus dijalankan. Terdapat daya ungkit suatu program yang berdampak pada penekanan angka kematian bayi, dan angka kematian ibu. Dua hal ini sangat sensitif dalam menunjukkan derajat kesehatan suatu daerah, didalamnya mencakup kesehatan ibu dan anak, gizi, imunisasi, kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, yang juga wajib terus didorong peningkatannya.

Komentar

News Feed