Dari Klinik ke Klinik

Penulis: LM Azhar Sa’ban

 

“Kami Mulai Mengenal Kata Promil”

Pada awal pernikahan, kami percaya bahwa kehamilan akan datang secara alami, tanpa perlu terlalu dipikirkan. Kami hanya menjalani hidup seperti biasa.

Berdoa.

Berharap.

Menunggu.

Tetapi setelah tahun demi tahun berlalu tanpa kabar yang kami nantikan, kami mulai memahami bahwa mungkin kami harus berusaha lebih jauh. Dan sejak saat itu, kami mulai akrab dengan satu kata yang perlahan mengubah ritme hidup kami: promil. Program hamil.

Awalnya kata itu terdengar sederhana. Tetapi di baliknya, ada perjalanan panjang yang penuh harapan, kecemasan, kelelahan, dan doa-doa yang terus diulang.

Kami mulai mendatangi klinik. Membuat jadwal konsultasi. Menyesuaikan waktu kerja. Mengatur ulang rutinitas hidup demi satu harapan yang sama:
semoga kali ini ada kabar baik.

Sebagai seorang dokter, istri saya sebenarnya sudah cukup memahami banyak hal tentang dunia medis. Tetapi ternyata ketika seseorang menjadi pasien dalam perjuangannya sendiri, semuanya terasa berbeda.

Ilmu tidak selalu mampu membuat hati lebih tenang. Kadang, justru membuat kami semakin sadar bahwa perjalanan ini mungkin tidak akan mudah.

Saya masih ingat pertama kali kami duduk bersama di ruang tunggu sebuah klinik fertilitas. Ruangan itu dipenuhi pasangan-pasangan lain yang datang membawa harapan masing-masing.

Ada yang duduk sambil menggenggam tangan pasangannya erat. Ada yang lebih banyak diam. Ada yang tampak mencoba tersenyum meski matanya terlihat lelah.

Dan saat itu saya sadar: ternyata banyak orang sedang berjuang dalam diam.

Selama ini dunia hanya memperlihatkan hasil akhirnya foto bayi, kabar kehamilan, keluarga bahagia. Tetapi sangat sedikit yang melihat proses panjang di belakangnya.

Tentang pasangan yang harus bolak-balik rumah sakit. Tentang tubuh yang lelah karena pemeriksaan. Tentang hati yang berkali-kali jatuh lalu dipaksa berharap lagi.

Kami mulai menjalani berbagai pemeriksaan. Darah. USG. Konsultasi rutin. Jadwal kontrol.
Vitamin. Obat-obatan. Dan semua itu perlahan menjadi bagian dari hidup kami.

Ada hari ketika kami pulang dengan penuh semangat karena dokter mengatakan peluang masih bagus. Tetapi ada juga hari ketika kami pulang dalam diam karena hasil pemeriksaan tidak sesuai harapan.

Di perjalanan pulang, sering kali kami tidak banyak bicara. Bukan karena marah. Tetapi karena masing-masing sedang sibuk menenangkan hati sendiri.

Promil ternyata bukan hanya melelahkan fisik. Ia juga menguras emosi.

Kami mulai hidup dengan jadwal yang lebih ketat. Mengingat tanggal-tanggal penting. Menyesuaikan waktu dengan masa subur. Mengatur pola makan. Mengurangi hal-hal tertentu.

Bahkan terkadang merencanakan hidup dengan cara yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Ada momen ketika hubungan suami istri yang seharusnya lahir dari cinta, mulai terasa seperti tugas yang penuh tekanan. Dan itu melelahkan.
Sangat melelahkan.

Tetapi, kami tetap mencoba menjalani semuanya bersama.

Kadang sebelum berangkat kontrol, saya melihat istri saya duduk diam lebih lama dari biasanya. Ia mencoba terlihat tenang, tetapi saya tahu di kepalanya ada begitu banyak kemungkinan yang sedang dipikirkan.

“Kalau hasilnya belum bagus bagaimana?”

“Kalau harus mulai lagi bagaimana?”

“Kalau tetap belum berhasil bagaimana?”

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu diucapkan keras-keras. Tetapi saya bisa merasakannya.

Sebagai suami, saya sering berharap bisa mengambil sebagian rasa sakit itu darinya.
Sayangnya, ada perjuangan yang memang harus dijalani bersama meski rasa sakitnya tidak bisa dibagi rata.

Ada satu hal yang paling saya kagumi dari istri saya selama proses ini: ia tetap berusaha. Meski tubuhnya lelah. Meski emosinya naik turun. Meski berkali-kali kecewa.

Ia tetap datang ke setiap jadwal kontrol dengan harapan yang masih utuh. Dan jujur, terkadang justru dialah yang menguatkan saya.

Kami mulai mengenal banyak istilah medis yang sebelumnya terasa asing. Mulai memahami bahwa tidak semua pasangan memiliki perjalanan yang sama.

Ada yang cepat berhasil. Ada yang harus menunggu bertahun-tahun. Ada yang terus mencoba meski berkali-kali gagal.

Semua punya ujian masing-masing.

Dan perlahan kami belajar menerima, bahwa perjalanan kami mungkin memang harus lebih panjang.

Namun di tengah semua proses itu, ada satu hal yang selalu kami jaga: jangan sampai penantian ini membuat kami kehilangan satu sama lain.

Karena mudah sekali bagi pasangan untuk berubah menjadi lelah, sensitif, dan saling menyalahkan ketika harapan tak kunjung datang.

Kami tidak ingin itu terjadi.

Maka di sela-sela jadwal klinik, pemeriksaan, dan promil yang menguras pikiran, kami tetap berusaha menciptakan ruang untuk bernapas.

Kadang kami pergi makan malam sederhana setelah kontrol.

Kadang hanya duduk di mobil sambil mendengarkan lagu tanpa bicara apa-apa.

Kadang saling menggenggam tangan lebih erat dari biasanya.

Hal-hal kecil seperti itu ternyata sangat penting.

Karena pada akhirnya, promil bukan hanya tentang menunggu hadirnya anak. Tetapi juga tentang menjaga cinta agar tetap hidup selama proses penantian itu berlangsung.

Dari klinik ke klinik, dari satu harapan ke harapan berikutnya, kami terus berjalan.

Meski lelah.

Meski takut kecewa lagi.

Meski sering pulang dengan hati yang berat.

Kami tetap mencoba.

Sebab selama masih ada doa yang belum berhenti dipanjatkan, selalu ada alasan untuk percaya bahwa harapan itu belum benar-benar selesai.

Bersambung ➡️

Malam-Malam yang Terlalu Sunyi

 

Bagian sebelumnya:

 

Komentar

News Feed