Dibalik Jas Putih Jejak Dedikasi dr Winda Dian Permatasari di Puskesmas Bungi
Baubau
Pengabdian seorang dokter tidak selalu berhenti pada batas jam kerja atau jabatan yang dipercayakan kepadanya. Bagi dr Winda Dian Permatasari, hampir sembilan tahun bertugas di Puskesmas Bungi, Kota Baubau, menjadi perjalanan panjang tentang pelayanan kemanusiaan, kepemimpinan, dan kesediaan hadir ketika pasien membutuhkan pertolongan.
Memulai pengabdian sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) pada November 2017, perempuan yang akrab disapa dr Winda ini kemudian diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN), dan dipercaya menjabat Kepala Puskesmas Bungi sejak 15 September 2023. Setelah memimpin selama sekitar tiga tahun, ia resmi berpindah tugas menjadi dokter umum di Puskesmas Bukit Wolio Indah (Puskesmas BWI) pada 1 Oktober 2026.
Perpindahan itu mengakhiri satu babak pengabdiannya di Puskesmas Bungi, tetapi bukan pengabdiannya sebagai seorang dokter. Di balik jas putih yang dikenakannya, tersimpan pengalaman menghadapi pasien dalam kondisi darurat, mengelola dinamika organisasi, hingga membangun program kesehatan di wilayah kerja yang telah menjadi bagian penting perjalanan hidupnya.
“Bagaimanapun, saya ini putra daerah. Saya lahir di Baubau, kemudian sekolah di Jawa. Setelah lulus, saya kembali untuk mengabdikan diri di daerah, di Kota Baubau tercinta,” kata dr Winda, mengenang awal perjalanan kariernya.
Sekilas penulis menggambarkan, mengapa penulis menorehkan kisah dr Winda ini. Berawal dari komunikasi singkat yang tidak terencana beberapa hari sebelumnya, setelah cukup lama, wawancara terakhir dengan dokter ramah dan murah senyum ini, dan kemudian beritanya tayang di Kasamea.com, berjudul: Trik Puskesmas Bungi Sukseskan PIN Polio, tayang pada 24 Juli 2024.
Kemudian, pada Senin 19 Oktober 2026, penulis kembali berbincang dan melakukan wawancara singkat dengan dr Winda, yang menyampaikan bahwa dirinya sudah pindah tugas dari Kepala Puskesmas Bungi, menjadi dokter umum di Puskesmas BWI. Dokter Winda kemudian memulai menceritakan kisah dedikasi dibalik jas putihnya.

Kembali ke Baubau, Memulai Pengabdian dari PTT
Keputusan kembali ke Baubau pada 2017 menjadi awal perjalanan dr Winda sebagai dokter di Puskesmas Bungi. Setelah menempuh pendidikan di Jawa, ia memilih kembali ke daerah kelahirannya, untuk menjalankan profesi, sekaligus memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Pada akhir 2018, ia mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Hasilnya, ia dinyatakan lulus dan tetap ditempatkan di Puskesmas Bungi, tempat yang telah lebih dahulu dikenalnya sejak menjalani tugas sebagai dokter PTT.
Selama bertahun-tahun, ia menjalankan fungsi sebagai dokter umum, sekaligus terlibat dalam pelayanan yang berhadapan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Pengalaman itu membawanya memahami karakter wilayah, pola pelayanan, serta tantangan yang dihadapi tenaga kesehatan di lapangan.
Hingga akhirnya, pada 15 September 2023, datang kepercayaan baru yang tidak pernah secara khusus ia rencanakan: memimpin Puskesmas Bungi.
“Jujur saja, dalam hati saya tidak terbesit menjadi kepala puskesmas. Saat itu saya tiba-tiba ditelepon dan diminta datang karena katanya akan ada pelantikan. Saya kaget karena baru selesai memeriksa pasien rawat inap,” tutur dr Winda. Sembari memberi perhatian pada dua buah hatinya yang ikut duduk “nongki” saat wawancara, dan sesekali aktif bermain, begitulah dua bocah kakak beradik.
Lanjut. Dokter Winda mengingat kejadian sederhana yang memperlihatkan betapa mendadaknya penugasan sebagai Kepala Puskesmas tersebut.
Karena tidak mengetahui akan dilantik, ia sempat salah mengenakan jilbab dan harus mencari perlengkapan yang sesuai, setelah tiba di lokasi.
Namun, di balik keterkejutan itu, ia menyadari, bahwa amanah baru tersebut harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Kalau kita diberikan pekerjaan, saya harus membuktikan kepada orang yang memberikan kepercayaan itu, bahwa saya bisa menjalankannya,” ujarnya.

Memimpin di Usia Muda, Belajar dari Tekanan
Menjadi dokter dan menjadi kepala puskesmas merupakan dua tanggung jawab yang berbeda. Jika sebelumnya perhatian utamanya tertuju pada pelayanan medis, jabatan kepala puskesmas menuntutnya memahami administrasi, perencanaan program, pengelolaan anggaran, pelaksanaan kegiatan, hingga pertanggungjawaban organisasi.
Tantangan itu datang sejak awal masa kepemimpinannya. Puskesmas Bungi tengah menghadapi persoalan internal. Sementara, persiapan akreditasi juga harus dilakukan dalam waktu relatif singkat.
Semula, akreditasi direncanakan berlangsung pada November 2023. Artinya, ia harus beradaptasi dengan tugas manajerial, sekaligus mempersiapkan berbagai dokumen dan standar pelayanan dalam waktu sekitar dua bulan. Jadwal akreditasi kemudian diundur hingga Januari 2024.
“Yang biasanya kita kuasai adalah masalah medis, tiba-tiba harus menguasai administrasi. Saya harus banyak belajar tentang perencanaan, pelaksanaan kegiatan, bagaimana mengalokasikan anggaran, sampai laporan keuangan,” katanya.
Menurut dr Winda, meskipun pengelolaan teknis keuangan dilaksanakan oleh bendahara, seorang kepala puskesmas tetap harus memahami proses dan pertanggungjawabannya.
Tanggung jawab itu semakin besar karena Puskesmas Bungi memiliki layanan rawat inap, unit kegawatdaruratan, pelayanan kebidanan, rawat jalan, serta berbagai program kesehatan pemerintah.
Selama memimpin, ia mengoordinasikan sekitar 64 orang yang terdiri atas ASN, tenaga PTT, tenaga paruh waktu, dan tenaga sukarela. Jumlah tersebut menuntut kemampuan mengelola sumber daya manusia dengan latar belakang usia, pengalaman, dan karakter yang beragam.
“Ketika pertama kali diangkat, saya sempat mengalami shock. Tanggung jawabnya besar, sementara saya juga harus beradaptasi dengan pekerjaan baru. Namun, semuanya harus dipelajari dan dijalani,” ujarnya.

Menjaga Profesionalisme di Tengah Perbedaan
Salah satu tantangan kepemimpinan yang dihadapi dr Winda adalah membangun hubungan kerja dengan pegawai yang sebagian berusia lebih senior darinya. Ketika dipercaya memimpin, usianya sekitar 32 tahun.
Situasi itu mengajarkannya, bahwa kepemimpinan tidak cukup dijalankan dengan kewenangan formal. Diperlukan kemampuan mengendalikan diri, memahami karakter orang lain, serta membedakan persoalan pribadi dari kepentingan organisasi.
“Di luar kantor, mereka adalah orang tua saya. Tetapi di dalam kantor, saya tetap menjalankan fungsi sebagai orang yang bertanggung jawab mengelola pekerjaan,” katanya.
Ia berupaya tidak membawa persoalan personal ke dalam pelaksanaan tugas. Perbedaan pendapat, menurutnya, merupakan bagian dari dinamika organisasi yang harus disikapi dengan kepala dingin.
Pada 2024, ia mengaku menghadapi penolakan dari sebagian staf. Bahkan, ia menyebut pernah ada upaya untuk menurunkan dirinya dari jabatan, dan demonstrasi yang berlangsung hingga tiga kali.
Dokter Winda tidak menampik, bahwa situasi tersebut menimbulkan kekecewaan. Namun, ia memilih menjadikannya sebagai bahan evaluasi terhadap pendekatan kepemimpinan yang diterapkan.
“Kecewa itu pasti ada. Tetapi kalau saya mengikuti kekecewaan, bagaimana kantor ini bisa berjalan? Bagi saya, kantor itu rumah kedua. Jadi, ketika membutuhkan rekan-rekan untuk menjalankan program, saya tetap memanggil dan bekerja bersama rekan-rekan,” tutur dr Winda, yang menganggap seluruh rekan kerja di Puskesmas Bungi sebagai keluarga besarnya di Kota Baubau.
Ia menilai, perbedaan pola kerja antara kepemimpinan sebelumnya dan kepemimpinannya, turut memengaruhi proses penyesuaian di lingkungan puskesmas. Pendekatan yang kemudian diterapkannya adalah menyesuaikan sikap dengan situasi, tanpa meninggalkan prinsip kedisiplinan.
“Ada saatnya saya tegas, ada saatnya saya lebih longgar. Tetapi prinsip tetap dijalankan. Saya hanya menjalankan disiplin kerja, sesuai aturan pemerintah,” katanya.
Baginya, memimpin bukan tentang memenangkan setiap perbedaan, melainkan menjaga agar pelayanan tetap berlangsung, dan organisasi tidak kehilangan arah.
Ketika Persoalan Pelayanan Menjadi Ujian
Dinamika di Puskesmas Bungi saat itu juga berkaitan dengan persoalan pelayanan, yang dipahami berbeda oleh tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Dokter Winda mengingat adanya keluhan mengenai mekanisme rujukan pasien. Masyarakat, menurut pengalamannya, terkadang berharap pasien dapat segera dibawa menggunakan ambulans. Sementara, pelaksanaan rujukan harus mengikuti prosedur, termasuk koordinasi dengan rumah sakit tujuan.
Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri, ketika pasien membutuhkan penanganan segera.
“Kami harus memikirkan keselamatan pasien, tetapi prosedur rujukan juga harus dijalankan. Rumah sakit perlu dikonfirmasi terlebih dahulu. Kalau rumah sakit sudah menerima, barulah pasien dapat dibawa sesuai alurnya,” jelasnya.
Menurut dia, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting untuk menjembatani perbedaan pemahaman tersebut. Tenaga kesehatan harus menjelaskan prosedur dengan baik, sekaligus memastikan pasien memperoleh pertolongan sesuai kondisi dan kemampuan fasilitas pelayanan.
Ia menegaskan, puskesmas bekerja sesuai tugas dan fungsi serta kapasitas pelayanan yang dimiliki. Karena itu, komunikasi antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga, dan fasilitas rujukan menjadi penting agar penanganan berjalan efektif.
Pengalaman tersebut, memperlihatkan bahwa persoalan pelayanan kesehatan tidak selalu selesai dengan tindakan medis. Ada pula kebutuhan membangun pemahaman, kepercayaan, dan komunikasi antara fasilitas kesehatan dengan masyarakat.
Rumah Dinas yang Menjadi Pintu Pertolongan
Di antara berbagai pengalaman selama bertugas, salah satu yang paling membekas bagi dr Winda adalah kesiapsiagaan menghadapi pasien di luar jam kerja. Sejak awal menjadi dokter umum di Puskesmas Bungi, ia tinggal di rumah dinas yang berada dekat dengan fasilitas pelayanan. Posisi itu membuatnya kerap menjadi dokter pertama yang dipanggil, ketika pasien membutuhkan pertolongan darurat, terutama pada malam hari.
“Bagaimanapun kondisinya, kalau ada pasien gawat darurat, biasanya saya yang dipanggil karena rumah paling dekat. Mau saya sedang piket atau tidak, kalau dibutuhkan, saya tetap datang,” ungkapnya.
Kondisi tersebut berlangsung bertahun-tahun. Ia mengingat, pernah mulai menangani pasien sekitar pukul 23.00, dan baru kembali ke rumah pada pukul 06.30 keesokan harinya. Sebelum kembali menjalankan pekerjaan pada pagi hari.
Keterbatasan tenaga dokter menjadi salah satu penyebabnya. Ketika bertugas di Puskesmas Bungi, terdapat empat dokter, termasuk dirinya. Namun, mereka harus membagi tanggung jawab pada sejumlah layanan, seperti poli, pelayanan kesehatan ibu dan anak, unit gawat darurat, rawat inap, serta kegiatan lapangan.
Karena jumlah tenaga belum memungkinkan penempatan dokter yang selalu berjaga secara bergiliran selama 24 jam, pola kesiapsiagaan dilakukan melalui sistem on call. Dokter dapat dihubungi ketika dibutuhkan, terutama untuk kondisi kegawatdaruratan.
“Kalau ada empat dokter, semuanya tetap harus mengisi unit pelayanan. Kalau dipaksakan ada dokter yang berjaga penuh pagi, siang dan malam, sementara tenaga terbatas, pelayanan lainnya justru bisa terganggu,” jelasnya.
Dalam praktiknya, kedekatan rumah dinas dengan puskesmas membuatnya menjadi salah satu tumpuan ketika panggilan darurat datang.
Pasien yang membutuhkan penanganan segera, tidak selalu datang pada jam kerja. Unit gawat darurat, menurut pengalamannya, hampir setiap hari menerima pasien, termasuk pada malam hari.
Bahkan, Puskesmas Bungi pernah didatangi pasien dari wilayah kabupaten tetangga, yang singgah untuk mendapatkan pertolongan dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ada pula pasien yang membutuhkan bantuan oksigen sebelum melanjutkan perjalanan.
Bagi dr Winda, pengalaman tersebut menegaskan, bahwa pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas, memiliki peran penting sebagai pertolongan awal bagi masyarakat.
Namun, kesiapsiagaan itu juga memiliki konsekuensi terhadap kehidupan pribadinya, termasuk waktu bersama keluarga.
“Karena saya tinggal di rumah dinas, ketika ada keadaan darurat, saya yang paling dekat. Jadi, mau tidak mau, saya tetap komitmen menjalankan tugas sebagai dokter,” katanya.
Menghadapi Ancaman Saat Menolong Pasien
Pengabdian di garis depan pelayanan kesehatan, tidak selalu berlangsung dalam situasi yang aman. Dokter Winda menceritakan sejumlah pengalaman ketika tenaga kesehatan menghadapi kemarahan, ancaman, hingga tindakan intimidasi dari orang yang datang bersama pasien.
Ia mengingat, pernah menghadapi seseorang yang marah di unit gawat darurat, dan merekam petugas ketika penanganan pasien sedang berlangsung. Menurut penuturannya, orang tersebut kemudian mengancam akan melaporkan petugas, sementara pasien yang ditangani justru meminta agar situasi tidak diperpanjang.
Dalam pengalaman lainnya, ia mengaku pernah menghadapi situasi ketika petugas mendapat ancaman menggunakan parang dan ancaman pembakaran. Ada pula kejadian ketika seseorang membawa parang dan membuat petugas yang sedang berjaga merasa ketakutan.
Dokter Winda menuturkan, kejadian seperti itu terutama menjadi kekhawatiran ketika berlangsung pada malam hari. Kondisi lingkungan puskesmas yang saat itu belum memiliki pagar pembatas, turut membuat petugas merasa rentan.
“Padahal kami ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Tetapi dalam beberapa keadaan, justru kami yang mendapat ancaman,” katanya.
Pengalaman tersebut menggambarkan risiko yang dihadapi tenaga kesehatan ketika menjalankan tugas pelayanan, terutama dalam kondisi kegawatdaruratan yang melibatkan keluarga pasien dengan emosi tinggi.
Bagi tenaga kesehatan, keselamatan pasien merupakan prioritas. Namun, perlindungan terhadap petugas juga penting, agar pelayanan dapat berlangsung tanpa intimidasi maupun kekerasan.
Pengalaman dr Winda menjadi pengingat bahwa dedikasi tenaga kesehatan perlu diimbangi lingkungan kerja yang aman, dukungan kelembagaan, serta pemahaman masyarakat terhadap prosedur pelayanan medis.
Inovasi Kesehatan dan Program yang Belum Tuntas
Di tengah berbagai tantangan tersebut, dr Winda menyebut dirinya dan jajaran Puskesmas Bungi tetap berupaya mengembangkan program kesehatan. Selama tiga tahun berturut-turut, yakni 2024, 2025, dan 2026, ia menginisiasi inovasi yang ditujukan untuk mendukung perbaikan pelayanan.
Ia menyebut penanganan stunting dan eliminasi tuberkulosis (TBC) sebagai bagian dari perhatian program tersebut. Pada 2026, terdapat pula rencana inovasi lain yang berkaitan dengan skrining kesehatan.
Namun, perpindahan tugas pada 1 Oktober 2026, membuat sebagian rencana itu harus dilanjutkan oleh jajaran Puskesmas Bungi yang kini meneruskan pelayanan.
“Kalau mau memperbaiki puskesmas, tiga tahun itu tidak cukup. Programnya banyak, baik program utama maupun tambahan dari pemerintah. Masih banyak yang ingin saya lakukan, terutama mengedukasi masyarakat dan memperbaiki pelayanan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP), yang mengarahkan pelayanan kesehatan agar lebih terintegrasi berdasarkan klaster dan siklus hidup, bukan semata-mata pembagian berdasarkan poli.
Menurutnya, perubahan pendekatan pelayanan, memerlukan penyesuaian, baik bagi petugas maupun masyarakat. Edukasi menjadi penting, agar masyarakat memahami bentuk pelayanan, dan alur yang diterapkan.
Sementara itu, terkait capaian akreditasi, dr Winda mengingat, Puskesmas Bungi menjalani proses akreditasi pada 2024, dan memperoleh hasil paripurna. Ia menyebut capaian tersebut menjadi hasil kerja bersama jajaran puskesmas, setelah melewati masa persiapan dan adaptasi yang tidak mudah.
Keberhasilan itu, baginya, bukan semata-mata capaian seorang kepala puskesmas, melainkan hasil kerja tim yang harus terus dijaga oleh kepemimpinan berikutnya.
Melepas Jabatan, Melanjutkan Pengabdian
Pada 1 Oktober 2026, dr Winda resmi berpindah tugas sebagai dokter umum di Puskesmas BWI. Perpindahan tersebut menandai berakhirnya masa kepemimpinannya di Puskesmas Bungi, setelah sekitar tiga tahun menjabat.
Meski demikian, ia mengaku tidak memandang perpindahan sebagai alasan untuk berhenti mengabdi. Sebagai ASN, ia menyadari bahwa penempatan merupakan bagian dari tanggung jawab yang harus diterima dan dijalankan.
“Saya menanamkan dalam diri bahwa sebagai abdi negara, saya harus siap ditempatkan di mana saja. Saya juga menyampaikan hal itu kepada teman-teman. Mau ditempatkan di Baubau atau di luar Baubau, kita harus siap,” katanya.
Sikap itu tidak serta-merta membuat perpisahan menjadi mudah. Setelah bertahun-tahun bekerja, dan hidup dekat dengan masyarakat Bungi, ia mengakui masih banyak program dan rencana yang ingin diwujudkan.
Kedekatan dengan pasien, rekan kerja, dan lingkungan pelayanan, membuat Puskesmas Bungi memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan kariernya.
“Sedih juga, karena saya sudah menyatu dengan masyarakat dan teman-teman di kantor. Masih banyak program yang ingin dilakukan. Tetapi saya harus meninggalkan puskesmas ini dan melanjutkan tugas di tempat yang baru,” tuturnya.
Selama menjadi Kepala Puskesmas Bungi, kerja bersama dalam harmoni, dr Winda dan jajaran petugas medis di Puskesmas Bungi berhasil meraih capaian, antara lain:
Memenuhi Standar Akreditasi dan Lulus Paripurna Sertifikat Akreditasi Kementerian Kesehatan 2024 – 2029.
Juara II Lomba Inovasi Daerah Kategori Kecamatan, Kelurahan, dan Puskesmas.
Inovasi Bidang Kesehatan Terbaik Inovasi Rindu Besti – Kinandeku tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2024.
Inovasi Call TB pada Penginputan Indeks Inovasi Daerah Kota Baubau yang Dilaksanakan Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kementerian Dalam Negeri Tahun 2024.
Inovasi Rindu Besti (Jaringan Posyandu Bebas Stunting) Peringkat III Lomba Inovasi Kategori Kelurahan / Puskesmas Tahun 2024.
Juara I Lomba Inovasi Daerah Kota Baubau Tahun 2025 Kategori Kelurahan / Puskesmas.
Kini, tugas dr Winda berlanjut di Puskesmas BWI. Ia kembali menjalankan profesi dokter umum, pekerjaan yang sejak awal menjadi dasar pengabdiannya.
Perjalanan dr Winda menunjukkan bahwa kepemimpinan di fasilitas kesehatan tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah diduduki, atau program yang berhasil dijalankan. Ada pula kerja-kerja yang berlangsung tanpa banyak terlihat: menjawab panggilan darurat pada tengah malam, menghadapi tekanan, menjaga profesionalisme, dan memastikan pasien tetap mendapatkan pertolongan.
Jabatan kepala puskesmas boleh berakhir, tetapi tanggung jawab kemanusiaan seorang dokter tetap melekat pada profesinya.
Bagi dr Winda, pengabdian tidak ditentukan oleh satu gedung, satu jabatan, atau satu wilayah kerja. Selama masih menjalankan profesi dokter, selalu ada pasien yang membutuhkan pertolongan, dan pelayanan yang perlu terus diperbaiki.














Komentar