oleh

Fuel Terminal Baubau Rutin Latihan Simulasi Keadaan Darurat

Kasamea.com BAUBAU

Fuel Terminal Baubau PT Pertamina (Persero) rutin melakukan latihan simulasi keadaan darurat. Latihan ini merupakan salah satu program fungsi tim Health Safety Security and Environment (HSSE), guna mengantisipasi pencemaran lingkungan.

Melalui unit kerja HSSE, Fuel Terminal Baubau sudah menyediakan peralatan untuk berbagai kondisi, skenario, sebagai langkah antisipatif pencemaran lingkungan yang biasanya terjadi, seperti dari tumpahan minyak. Termasuk pula untuk menangani terjadinya kebakaran.

Diungkapkan Fuel Terminal Baubau Manager, Adi Rachman, sekitar dua bulan memimpin di Baubau, pihaknya sudah dua kali menggelar latihan simulasi darurat. Fokus latihan, mengatasi tumpahan atau ceceran minyak.

Menurutnya, akan lebih mudah mengatasi tumpahan atau ceceran minyak, bila kondisi tersebut lebih cepat terdeteksi.

Kata Adi Rachman, sudah ada prosedur dalam penanganan tumpahan atau ceceran minyak. Melalui tim HSSE, terutama bagian laut, ada LLP (Lindungan Lingkungan Perairan), area dermaga.

“Sudah ada personil yang dilengkapi peralatan, untuk mengantisipasi, mengatasi terjadinya tumpahan atau ceceran minyak di jalur dermaga,” ungkapnya.

Adi Rachman memastikan, pihaknya juga telah menyiapkan peralatan khusus untuk membatasi tumpahan atau ceceran minyak, agar minyak tidak menyebar kemana-mana.

“Seharusnya bisa ditangani secara cepat, tidak membutuhkan waktu yang lama,” katanya.

Adi Rachman tak menampik adanya kondisi darurat yang terkadang terjadi diluar kendali Fuel Terminal BBM (Bahan Bakar Minyak).

Kata dia, perairan bukan hanya milik Pertamina yang hanya dilewati Kapal Pertamina. Banyak kapal lain yang melewati jalur pelayaran yang sama, yang bisa saja membuang oli bekas ke laut. Atau bisa saja terjadi kebocoran tangki BBM, sehingga ada tumpahan atau ceceran minyak ke laut.

Namun sering kali terjadi, masyarakat mengira, tumpahan atau ceceran itu dari Pertamina.

“Terkadang karena Pertamina dianggap sebagai sumber BBM, jadi tumpahan atau ceceran yang bukan berasal dari kamipun, dianggap dari Pertamina,” urainya.

Menurut Adi Rachman, sumber tumpahan atau ceceran minyak membutuhkan pembuktian. Kapan terjadinya, dimana terjadi tumpahan atau ceceran minyak, termasuk dengan mengambil sample minyak tersebut.

“Sebenarnya bisa diselidiki dari waktunya tadi, kemudian sumbernya, kemudian arah anginnya, bisa kita hitung. Mungkin nggak menyebar sampai kesana, bisa juga kita ambil sampelnya, betul nggak tumpahan BBM itu dari Pertamina,” jelasnya.

Akan tetapi, kata Adi Rachman, terlepas dari tumpahan atau ceceran minyak berasal dari Pertamina atau bukan, pihaknya siap membantu menangani atau mengatasi, bila terjadi tumpahan atau ceceran minyak.

Adi Rachman menambahkan, dalam latihan simulasi, pihaknya juga menggandeng atau bekerjasama dengan UPP sebagai penanggungjawab Kepelabuhanan.

[RED]

Komentar

News Feed