Baubau
Pemutaran film budaya bertajuk “Layar Benteng” resmi dibuka di kawasan Benteng Keraton Wolio, Kota Baubau, sebagai bagian dari program layanan publik Rumah Produksi Seribu Benteng yang memperoleh dukungan Dana Indonesiana kategori Sinema Indonesia dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menghadirkan kembali ruang pemutaran film lokal di tengah masyarakat Kepulauan Buton, sekaligus membuka akses publik terhadap karya-karya perfilman berbasis budaya lokal Sulawesi Tenggara.
Malam pembukaan, Sabtu (2 Mei 2026 menandai dimulainya rangkaian pemutaran film keliling di enam titik strategis wilayah Kepulauan Buton, meliputi di benteng Keraton Buton dan benteng Sorawolio di Kota Baubau, kemudian di kampung adat Wasuamba, kampung adat Wabula di Kabupaten Buton, dan kampung adat Wapulaka, kampung adat Rongi di Buton Selatan.
Program ini dirancang sebagai upaya mendekatkan perfilman kepada masyarakat akar rumput, terutama di kawasan budaya dan kampung adat, yang selama ini minim fasilitas pemutaran film lokal.
Dengan konsep layar tancap bernuansa kebudayaan, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang temu sosial sekaligus medium edukasi publik.

Ketua panitia sekaligus perwakilan Rumah Produksi Seribu Benteng, Andhi Loppes Eba, menjelaskan bahwa “Layar Benteng” lahir dari kebutuhan besar untuk memasyarakatkan kembali perfilman lokal di Sulawesi Tenggara. Menurutnya, daerah memiliki sumber daya manusia kreatif dan kekayaan seni budaya yang melimpah, namun masih terkendala minimnya ruang distribusi dan pemutaran karya. “Kami ingin menghadirkan kembali budaya menonton bersama seperti masa lalu melalui layar keliling, agar masyarakat memiliki ruang hiburan yang positif sekaligus ruang inspirasi,” ujarnya.
Andhi menambahkan, dari sekitar 100 film yang masuk dalam proses kurasi, panitia memilih 18 film terbaik bertema budaya untuk diputar selama program berlangsung. Film-film tersebut tidak hanya menampilkan kekayaan tradisi dan identitas lokal, tetapi juga menjadi wadah bagi sineas daerah yang selama ini kesulitan menemukan ruang tayang. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk sosialisasi dunia perfilman kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Target kami adalah mempromosikan kebudayaan melalui film sekaligus membangun kesadaran bahwa daerah kita punya potensi besar di bidang perfilman. Banyak sineas lokal, banyak karya, tetapi sering kali mereka bingung harus memutar di mana. Layar Benteng hadir menjawab kebutuhan itu,” kata Andhi.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Baubau, H. Idrus Taufiq Saidi, menyambut positif penyelenggaraan kegiatan tersebut sebagai bentuk sinergi antara perfilman, edukasi, dan pelestarian budaya. Ia menegaskan bahwa perkembangan media sosial, internet, dan perfilman saat ini menunjukkan film bukan hanya media hiburan, tetapi sarana edukasi sosial yang sangat kuat dalam mentransmisikan pengetahuan dan nilai-nilai budaya kepada masyarakat luas.
Menurut Idrus, film memiliki kekuatan strategis sebagai media perawatan pengetahuan dan pelestarian identitas lokal. “Melalui film, sejarah masa lalu dapat direkonstruksi, nilai budaya dapat diperkenalkan kembali, dan identitas lokal dapat diwariskan dalam bentuk visual yang relevan dengan perkembangan zaman. Film harus mampu menyampaikan pesan moral, pengetahuan, dan kebudayaan secara bermakna,” ungkapnya.
“Dalam konteks pengembangan wisata budaya, film dapat berfungsi sebagai instrumen promosi yang efektif. Ketika budaya lokal dikemas melalui narasi visual yang kuat, maka film tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga menjadi wajah promosi daerah. Konsep local genius atau kecerdasan budaya lokal harus terus diperkuat, agar masyarakat mampu beradaptasi dengan modernisasi tanpa kehilangan jati diri,” jelasnya.
Apresiasi pun diberikan kepada Rumah Produksi Seribu Benteng beserta seluruh panitia dan kreator lokal yang terus menghadirkan ruang tumbuh bagi perfilman daerah. Idrus menilai, kehadiran film-film lokal Sulawesi Tenggara dalam kegiatan ini menjadi sinyal positif bahwa ekosistem perfilman daerah terus berkembang dan layak mendapat dukungan berkelanjutan dari pemerintah maupun masyarakat.
Ratusan warga Kota Baubau meramaikan malam pembukaan pemutaran film “Layar Benteng”, yang digelar di pelataran antara masjid Agung Keraton Buton dan Baruga Benteng Keraton Buton. Mulai dari anak anak yang ditemani para orang tuanya, remaja, hingga kalangan orang dewasa, antusias dari awal hingga berakhirnya rangkaian acara.
Melalui “Layar Benteng”, perfilman lokal Tanah Buton tidak hanya memperoleh panggung apresiasi, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai bagian penting dari strategi pelestarian budaya dan pengembangan wisata berbasis identitas daerah. Di tengah arus modernisasi global, inisiatif seperti ini menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat terus hidup, berkembang, dan berbicara melalui layar yang menyatukan hiburan, pengetahuan, serta kebanggaan akan warisan daerah.
(Redaksi)














Komentar