Kepala Dinas SDA dan Bina Marga Sultra, Abdul Rahim
Kasamea.com KENDARI
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Dinas SDA dan Bina Marga merencanakan menuntaskan pekerjaan pembangunan Jalan Baypass di Kota Baubau, yang diestimasi akan menelan anggaran sebesar Rp 300Miliyar.
DPRD Sultra memberi sinyal positif pada keberlanjutan pekerjaan Jalan Baypass Baubau, yang bila tak ada aral melintang, akan mulai direalisasikan tahun 2021. Pembangunannya akan dikerjakan secara bertahap, hingga 2022, 2023, mengingat keterbatasan alokasi anggaran APBD Sultra untuk mega proyek yang disebut-sebut menjadi ikon Sultra wilayah Kepulauan ini.
Diungkapkan Kepala Dinas SDA dan Bina Marga Sultra, Abdul Rahim, melalui Kepala Bidang Bina Marga, Yudi Masril, diawal perencanaannya beberapa tahun lalu, estimasi anggaran pembangunan Jalan Baypass Baubau Rp 296Miliyar. Bila nantinya dikerjakan pada 2021 hingga beberapa tahun kedepan, estimasi anggaran tentu akan bertambah, karena dapat dipastikan terjadi kenaikan harga komoditas, bahan material konstruksi. Sehingga diestimasi membutuhkan anggaran Rp 300Miliyar.
Yudi mengatakan, biaya pekerjaan Jalan Baypass Baubau disesuaikan dengan standar pembiayaan Provinsi Sulawesi Tenggara. Nantinya, terlebih dahulu akan dipersiapkan pematangan lahan, menyusul perkerasan Jalan.
Jalan Baypass akan dikerjakan dengan menggunakan aspal Buton, yang sejak awal perencanaannya sudah menjadi rujukan, 100% menggunakan aspal Buton.
Lebih lanjut mantan Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PU dan Penataan Ruang Kota Baubau ini menuturkan, bila ditinjau dari fungsi Jalan, Jalan Baypass Baubau masuk kategori Jalan Provinsi. Sebab, ide awal pembangunan Jalan Baypass Baubau untuk memperlancar mobilisasi pergerakan barang angkutan pelabuhan. Mengingat Pelabuhan Murhum Baubau sebagai note simpul Pelabuhan untuk wilayah Kepulauan Buton dan sekitarnya.
“Jalan Baypass itu direncanakan, supaya, yang sekarang itu kota lama, yang sejak dulu seperti itu (sesak dan padat, red), bisa membuka dan memperlebar akses. Alternatifnya lewat pesisir,” jelas Yudi.
Jalan Baypass dianggap penting, menjelang terbentuknya Provinsi Kepulauan Buton dengan Baubau sebagai Ibu Kota. Kemudian kedepan diharapkan, setelah pembangunan Jembatan Buton-Muna, akses transportasi, distribusi barang ke wilayah wilayah sekitar Baubau, bisa lebih cepat, lebih lancar.
Yudi mengilustrasikan, kelak dengan difungsikannya akses Jalan Baypass, angkutan container/peti kemas, juga angkutan berat lainnya, tidak lagi melewati Jalan ditengah Kota.
Pihaknya kata Yudi, menganggap Jalan Baypass Baubau sebagai jalan strategis Provinsi, yang bila dinilai dari fungsinya, setara Jalan Strategis Nasional. Sejajar dengan Jalan Nasional, Jalan Anoa.
“Nah karena besarnya fungsi tadi itu makanya Jalan Baypass ini kita anggap sebagai jalan strategis Provinsi, yang kita upayakan pada tahun 2023 jalan ini tuntas,” optimisnya.
Yudi menambahkan, rencana pembangunan Jalan Baypass sekitar 6,4 KM, dengan satu jembatan panjang 35 meter.
Saat ini Baypass Baubau berstatus Jalan Kota, sehingga penganggarannya dalam bentuk belanja hibah untuk Pembangunan Jalan. Namun tak menutup kemungkinan, bila kedepan terbit SK Menteri tentang Penetapan Status Jalan Nasional, pihaknya juga akan mengusulkan penetapan Status Jalan Provinsi atas Jalan Baypass Baubau tersebut. Sehingga penanganan Jalan Baypass nanti, bukan hanya pembangunan, tetapi juga pemeliharaan, harus menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.
Jalan Baypass Baubau akan dibangun dua jalur, empat lajur jalan, yang memang desainnya diperuntukkan untuk jalan kapasitas beban sangat berat. Untuk kendaraan angkut container dan sebagainya. Dan lebar Jalan Baypass Baubau sekitar 30 meter.
“Jadi nanti tinggal kita lihat berapa lebar jalan untuk masing masing jalur, terus setiap lajur berapa lebarnya. Ada juga untuk pejalan kaki dan rest area,” ungkap Yudi.
[RED]












Komentar