Sekda Baubau, Roni Muhtar, bertemu Ketua PWI Sultra, Sarjono, bersama sejumlah anggota PWI, di kantor Bappeda Baubau
Kasamea.com, Baubau
Pemerintah Kota Baubau bersama sejumlah pakar menapaki jejak gerilya Pahlawan Nasional Sultan Himayatuddin atau Oputa Yi Koo. Jejak gerilya ini disusun dalam sebuah deskripsi yang akan ditawarkan ke Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), maupun komunitas sejarah.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Baubau, Roni Muhtar mengatakan, deskrispi rangkaian gerilya Oputa Yi Koo dari Benteng Wolio ke Siontapina tengah dirumuskan. Pemkot menerbitkan SK untuk para pakar yang dilibatkan, diantaranya tim pemerintah, budayawan, hingga akademisi.
“Alhamdulillah usaha keras teman-teman yang sudah mengumpulkan data, baik dari ingatan kolektif masyarakat, lalu dari dokumen tertulis yang lainnya, akhirnya bisa disimpulkan secara bersama, soal tempat-tempat yang pernah dilewati Sultan Himayatuddin sampai ke Siontapina,” kata Roni Muhtar, ditemui di kantor Bappeda Baubau, Rabu (13/10).
Kata dia, deskripsi ini akan diusulkan ke Pemprov dan komunitas sejarah. Selanjutnya tergantung Pemprov dalam hal pemanfaatan deskripsi tersebut.
“Namanya juga tawaran, terserah yang memanfaatkan. Apakah mau ditambah atau dikurangi. Rencana kami pak wali yang akan serahkan ke pak gubernur,” katanya.
Salah seorang akademisi yang ikut terlibat, La Ode Abdul Munafi, menambahkan, rute gerilya yang dirumuskan ditambah dengan narasi dari berbagai sumber, yang berasal dari sejumlah literarur maupun memori pengetahuan masyarakat.
“Itulah yang kita kolaborasi bersama tim, sehingga untuk sementara kita menghasilkan rumusan atau deskripsi,” tambahnya.
Kata dia, terdapat 13 titik yang ditawarkan. Salah satunya gerilya dari benteng Keraton Kesultanan Buton.
“Di benteng keraton itu ada dua titik, dari Lawana Lanto ke Lawana Kampebuni. Kemudian ada juga titik di Sorawolio, tepatnya dititik Wasinabui, kemudian ke titik Lakasuba. Selanjutnya, titik di wilayah Kabupaten Buton, ada beberapa titik. Jadi totalnya ada 13 titik, terakhir di Siontapina melalui rute Pasarwajo,” urainya.
Munafi menilai, giat seperti ini sangat baik dalam rangka semangat nasionalisme. Dari sini generasi saat ini bisa belajar, bagaimana pejuang dimasa lalu sangat luar biasa gigihnya mempertahankan eksistensi kedaulatan.
Apalagi kata dia, diketahui cucu dan putri Sultan Hiamayatuddin menjadi tawanan VOC untuk dijadikan alat untuk melunakkan hati sang Sultan. Namun rupanya itu tidak ada artinya dibanding nilai harkat dan martabat.
“Jadi semua dipertaruhkan untuk kemormatan bangsa. Kita berharap momentum yang bagus ini dijadikan pembinaan karakter bagi generasi muda, terlebih ini bisa menjadi satu program rutin yang bukan lagi skala lokal dan provinsi. Kita harapkan karena ini pahlawan nasional, maka harus menjadi kegiatan nasional dimasa yang akan datang,” pungkasnya.
[Red]










Komentar