Pernikahan yang Diuji Penantian
“Bukan Tentang Anak Saja”
Pada awal menikah, kami berpikir ujian terbesar dalam rumah tangga mungkin tentang ekonomi, pekerjaan, atau perbedaan sifat.
Kami tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa penantian panjang akan menjadi salah satu ujian yang paling menguras hati.
Karena ternyata, menunggu kehadiran seorang anak bukan hanya tentang belum hadirnya seseorang di rumah. Lebih dari itu, penantian menguji banyak hal: kesabaran, cara berkomunikasi, cara mencintai,
dan seberapa kuat dua orang tetap memilih bertahan di tengah keadaan yang tidak kunjung berubah.
Ada masa ketika kami menjadi lebih sensitif dari biasanya. Hal-hal kecil yang dulu mudah ditertawakan mulai terasa sulit.
Kadang kami mudah salah paham hanya karena sedang sama-sama lelah. Kadang percakapan sederhana berubah menjadi diam panjang karena masing-masing sedang membawa beban di kepalanya sendiri.
Dan jujur, itu melelahkan.
Saya mulai memahami bahwa penantian yang terlalu lama bisa perlahan menggerus suasana hati seseorang tanpa disadari. Bukan karena cintanya hilang. Tetapi karena hati manusia memang punya batas lelah.
Ada malam ketika kami berdebat tentang hal kecil lalu tiba-tiba suasana berubah menjadi sangat emosional. Bukan karena masalah itu besar, tetapi karena sebenarnya ada banyak rasa yang selama ini tertahan.
Tentang kecewa. Tentang takut.
Tentang tekanan yang terus datang dari luar. Tentang pertanyaan yang tidak pernah selesai.
Kadang setelah bertengkar, kami sama-sama diam cukup lama. Lalu di tengah keheningan itu saya selalu sadar satu hal: kami sebenarnya tidak sedang marah satu sama lain. Kami hanya sama-sama lelah menghadapi keadaan.
Dan mungkin, itulah yang sering tidak disadari banyak pasangan: ketika hidup terasa berat, pasangan bisa berubah menjadi tempat pelampiasan rasa sakit meski bukan penyebabnya.
Untungnya, kami perlahan belajar memahami itu. Kami mulai belajar meminta maaf lebih cepat.
Belajar lebih banyak mendengarkan satu sama lain. Belajar memeluk sebelum keadaan menjadi terlalu jauh. Karena kami sadar, kalau bukan kami yang menjaga hubungan ini, siapa lagi?.
Ada satu hal yang selalu saya takutkan selama perjalanan ini:
jangan sampai penantian membuat kami kehilangan kebahagiaan sebagai suami dan istri.
Jangan sampai hidup kami hanya dipenuhi jadwal promil, hasil pemeriksaan, dan rasa kecewa. Jangan sampai kami lupa bagaimana caranya menikmati hidup bersama.
Sebab pada akhirnya, sebelum menjadi ayah dan ibu, kami lebih dulu adalah dua orang yang saling mencintai. Dan cinta itu tetap harus dijaga. Maka di tengah semua proses yang melelahkan, kami mulai berusaha menciptakan ruang untuk bernapas.
Kadang kami pergi makan malam sederhana tanpa membicarakan promil sama sekali.
Kadang berjalan sore hari sambil bercerita tentang hal-hal ringan.
Kadang menonton film bersama hanya untuk tertawa lagi setelah sekian lama hati terasa penuh. Hal-hal kecil seperti itu ternyata menyelamatkan kami.
Karena cinta tidak selalu bertahan lewat kata-kata besar.
Kadang cinta bertahan lewat kesediaan untuk tetap hadir meski keadaan belum membaik.
Saya pernah bertanya kepada istri saya, “Kamu capek nggak?”
Ia tersenyum kecil. “Capek. Tapi aku nggak mau kita saling menjauh cuma karena belum punya anak”.
Kalimat itu sederhana. Tetapi malam itu saya sadar, perempuan di depan saya ini sedang berjuang bukan hanya untuk menjadi ibu. Ia juga sedang berusaha menjaga pernikahan kami tetap utuh.
Dan mungkin itulah bentuk cinta paling dewasa: tetap memilih pasangan kita bahkan ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.
Perjalanan ini juga mengajarkan kami bahwa pernikahan bukan tentang siapa yang paling kuat. Pernikahan adalah tentang dua orang yang bergantian saling menguatkan.
Ada hari ketika istri saya runtuh dan saya harus menjadi tempatnya bersandar. Ada juga hari ketika justru saya yang diam-diam lelah, lalu ia hadir menenangkan tanpa banyak bicara. Kami saling menjaga dengan cara yang sederhana.
Kadang hanya lewat pertanyaan, “Kamu baik-baik saja?”. Kadang lewat pelukan yang datang tanpa diminta. Kadang hanya lewat genggaman tangan ketika salah satu dari kami mulai merasa takut.
Dan perlahan saya memahami:
mungkin inilah arti sebenarnya dari menikah. Bukan hidup tanpa masalah. Tetapi tetap memilih berjalan bersama di tengah masalah.
Banyak pasangan mungkin mampu bertahan saat hidup sedang mudah. Tetapi tidak semua mampu tetap saling mencintai ketika doa mereka belum dijawab sesuai harapan.
Dan sejauh ini, itulah yang sedang kami pelajari. Tentang bagaimana tetap menjadi “kita” di tengah rasa kecewa yang datang berkali-kali.
Tentang bagaimana menjaga cinta agar tidak kalah oleh penantian.
Tentang bagaimana tetap melihat pasangan sebagai rumah, bukan sebagai sumber luka.
Karena pada akhirnya, anak memang hadiah yang sangat kami harapkan. Tetapi perjalanan ini membuat kami sadar akan satu hal penting:
pernikahan kami tidak boleh hanya berdiri di atas hadir atau tidak hadirnya seorang anak.
Pernikahan kami harus tetap hidup karena cinta. Dan selama cinta itu masih ada, kami percaya kami masih punya alasan untuk bertahan bersama.
Penulis LM Azhar Sa’ban
Bersambung ➡️ Belajar Bahagia Ditengah Ketidakpastian …..
Baca bagian sebelumnya:













Komentar