“Surat untuk Pejuang Dua Garis Merah”
Untuk kamu yang hari ini kembali melihat satu garis.
Untuk kamu yang diam-diam menangis di kamar mandi setelah berpura-pura kuat sepanjang hari.
Untuk kamu yang tersenyum ketika orang lain bertanya tentang anak, padahal di dalam hati ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.
Tulisan ini untukmu.
Aku tahu perjalanan ini tidak mudah. Ada hari-hari ketika kamu merasa baik-baik saja. Tetapi ada juga hari ketika hal kecil saja bisa membuat hati runtuh seketika.
Melihat bayi orang lain. Mendengar kabar kehamilan teman. Datang ke acara keluarga. Atau sekadar menjawab pertanyaan sederhana: “Kapan punya anak?”.
Dan yang paling melelahkan dari semuanya adalah ketika kamu harus terus terlihat kuat. Padahal tidak ada yang benar-benar tahu seberapa sering kamu berbicara dengan Tuhan dalam tangis yang diam-diam.
Tidak ada yang tahu berapa banyak doa yang sudah kamu ulang setiap malam. Tidak ada yang tahu betapa lelahnya berharap lalu kecewa berkali-kali.
Menjadi pejuang dua garis merah memang seperti berjalan di lorong panjang yang tidak selalu punya jawaban pasti. Kadang kamu penuh keyakinan. Kadang kamu takut berharap terlalu tinggi karena tidak ingin jatuh terlalu sakit lagi.
Aku memahami itu. Karena kami juga pernah berada di titik ketika hidup terasa sangat berat.
Ada malam ketika kami bertanya-tanya apakah kami cukup kuat untuk terus menjalani semuanya. Ada hari ketika kami merasa tertinggal dari orang-orang di sekitar kami. Ada momen ketika rumah terasa terlalu sunyi dan hati terasa terlalu penuh.
Tetapi, perlahan kami belajar satu hal: lelah bukan berarti menyerah.
Kamu boleh lelah. Boleh menangis. Boleh merasa kecewa. Boleh merasa iri sesaat. Itu tidak membuatmu menjadi manusia yang buruk.
Karena kamu sedang berharap untuk sesuatu yang sangat kamu cintai bahkan sebelum ia hadir. Dan itu adalah bentuk cinta yang sangat besar.
Untuk para istri yang merasa tubuhnya sedang gagal, tolong dengarkan ini baik-baik: kamu tidak kurang sebagai seorang perempuan hanya karena belum menjadi ibu.
Nilaimu tidak ditentukan oleh seberapa cepat kamu hamil. Kamu tetap berharga. Tetap dicintai. Tetap pantas dipeluk dengan utuh.
Dan untuk para suami yang diam-diam memendam semuanya sendiri: kamu juga tidak harus selalu kuat.
Tidak apa-apa kalau hatimu lelah. Tidak apa-apa kalau kamu bingung harus bagaimana. Tidak apa-apa kalau suatu malam kamu menangis diam-diam setelah semua orang tidur.
Karena lelaki juga manusia. Dan rasa sakit tidak memilih jenis kelamin.
Perjalanan ini memang berat. Tetapi tolong jangan biarkan penantian membuatmu membenci dirimu sendiri.
Jangan merasa hidupmu gagal hanya karena jalanmu berbeda dari orang lain. Karena setiap rumah punya waktunya masing-masing.
Ada yang cepat dipeluk bahagia. Ada yang harus menunggu lebih lama. Dan tidak ada satu pun perjuangan yang sia-sia di mata Tuhan.
Kalau hari ini kamu merasa dunia terlalu bising dengan pertanyaan orang-orang, tidak apa-apa untuk beristirahat sejenak.
Kalau hari ini hatimu terlalu penuh, tidak apa-apa untuk menangis.
Kalau hari ini kamu belum mampu terlihat kuat, tidak apa-apa untuk jujur bahwa kamu sedang lelah.
Sebab terkadang, bentuk keberanian terbesar bukan tentang bertahan tanpa air mata. Melainkan tetap melanjutkan hidup meski hati berkali-kali patah.
Aku tidak tahu bagaimana akhir perjalananmu.
Aku juga tidak tahu bagaimana akhir perjalanan kami.
Tetapi satu hal yang ingin aku katakan: kamu tidak sendirian. Di luar sana ada begitu banyak pasangan yang sedang berjalan dalam sunyi yang sama.
Begitu banyak suami dan istri yang masih terus mengetuk pintu langit dengan doa yang belum selesai.
Dan kalau hari ini kamu masih bertahan, percayalah… itu sudah luar biasa.
Karena tidak semua orang mampu tetap menjaga cinta di tengah penantian yang panjang.
Maka untuk hari ini, peluk dirimu sedikit lebih lembut. Peluk pasanganmu sedikit lebih erat. Dan jika belum ada jawaban yang datang hari ini, semoga Tuhan setidaknya menghadirkan kekuatan untuk kembali melanjutkan esok hari.
Sebab, selama hati masih mampu berharap, selalu ada kemungkinan bahwa keajaiban sedang berjalan pelan menuju rumahmu.
Penulis: LM Azhar Sa’ban
Bersambung ➡️ Kamu Tidak Sendiri …..
Baca bagian sebelumnya:















Komentar