Baubau
Perumdam Baubau (Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Semerbak Molagina Kota Baubau) mulai menjalankan langkah terukur, sistematis, dan bertahap untuk mengatasi persoalan layanan air bersih yang menahun (telah berlangsung bertahun-tahun), terutama menyangkut kualitas dan kuantitas air di wilayah Zona 1. Upaya Perumdam Baubau tersebut, kini difokuskan pada pengoperasian sumber air Lahelo, serta eksplorasi sejumlah mata air baru, guna meningkatkan debit layanan kepada masyarakat.
Direktur Perumdam Tirta Semerbak Molagina Kota Baubau, Joni Munadi Awal menjelaskan, program perbaikan jaringan transmisi utama sumber air Lahelo saat ini sudah memasuki tahap operasional. Program tersebut sebelumnya sempat terkendala persoalan spesifikasi teknis pipa yang tidak sesuai dengan kondisi alam di lapangan, sehingga Balai terkait turun melakukan perbaikan dengan penggantian pipa dari spesifikasi HDPE menjadi GIG sepanjang sekitar 4 hingga 5 kilometer.
Lahelo Jadi Harapan Baru Zona 1
Menurut Joni, kehadiran sumber air Lahelo menjadi harapan besar bagi pelanggan di Zona 1, yang selama ini mengalami keterbatasan debit air akibat hanya mengandalkan sumber air Uwe Balanga melalui sistem pompanisasi. Berbeda dengan sistem tersebut, Lahelo menggunakan gravitasi, sehingga dinilai lebih efisien dan mampu membantu memperkuat suplai air bersih tanpa bergantung pada pompa.
Selain Lahelo, Perumdam juga telah mengidentifikasi tiga sumber air baru di wilayah Sorawolio, yakni sumber air Kogawuna dengan estimasi kapasitas 20 liter per detik, Tilombuanagadi sekitar 30 liter per detik, serta sumber air Gata dengan kapasitas mencapai 36 liter per detik.
“Ketiga sumber air tersebut diproyeksikan masuk dalam peta operasi layanan Zona 1, untuk memperkuat distribusi air bersih secara bertahap,” jelasnya.
Debit Air Diproyeksi Mendekati Layanan 24 Jam
Apabila seluruh sumber air tersebut berhasil dipadukan dengan Lahelo, total tambahan debit diperkirakan mencapai sekitar 110 liter per detik. Kondisi itu diyakini dapat mengatasi persoalan distribusi air di Zona 1, yang selama ini mengalami durasi layanan antara 12 hari hingga dua pekan sekali. Perumdam optimistis pelayanan air bersih nantinya dapat mendekati pola distribusi 24 jam secara bertahap.
Joni menambahkan, cakupan Zona 1 memang tergolong sangat luas karena melayani tiga kecamatan sekaligus, mulai dari wilayah Kecamatan Betoambari seperti Labalawa, Waborobo, Katobengke, dan Lipu, kemudian Kecamatan Murhum meliputi Melai, Baadia, Wajo, Lamangga hingga Tanganapada, serta sebagian wilayah Kecamatan Batupoaro.
“Luasnya wilayah layanan tersebut menjadi salah satu faktor utama tingginya kebutuhan debit air di Zona 1,” katanya.
Zona 3 Juga Mulai Dipetakan
Tidak hanya fokus pada Zona 1, Perumdam juga mulai memetakan potensi pengembangan sumber air untuk Zona 3. Saat ini telah diidentifikasi sumber air Warumbia dengan kapasitas sekitar 20 liter per detik, dan sumber air Kajaa sebesar 20 liter per detik. Kedua sumber tersebut diproyeksikan mendukung layanan wilayah Kalia-Lia hingga Pulau Makassar, yang saat ini masih mengandalkan sistem pompanisasi dari Wamembe, Kelurahan Kantalai, Kecamatan Lea-Lea.
“Eksplorasi sumber air baru tersebut diharapkan dapat memperluas cakupan pelayanan hingga kawasan Jembatan Tona dan Palabusa. Sekaligus, mengurangi ketergantungan terhadap sistem pompanisasi yang selama ini membutuhkan biaya operasional cukup besar,” ulasnya.
Program Disusun Bertahap dan Terukur
Perumdam menegaskan seluruh langkah penanganan krisis air bersih tersebut telah disusun dalam program jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang, sejak proses seleksi direktur perusahaan daerah itu berlangsung. Tahapan awal saat ini dimulai dari survei lapangan oleh tim perencanaan internal PDAM, dilanjutkan dengan penyusunan kajian teknis, sebelum diajukan kepada Dinas PUPR Kota Baubau, dan Pemerintah Kota, untuk mendapatkan legitimasi serta dukungan anggaran.
Menurut Joni, proyek pengembangan sumber air membutuhkan investasi besar, sehingga tidak dapat sepenuhnya ditangani Perumdam sendiri.
“Dukungan pemerintah daerah, pemerintah provinsi, Balai melalui APBN, hingga instansi teknis lainnya, menjadi faktor penting. Agar pengembangan jaringan distribusi dan eksplorasi sumber air dapat direalisasikan dalam skema penganggaran tahun 2027 hingga 2028,” ujarnya.
Perumdam Minta Masyarakat Bijak Gunakan Air
Terkait keluhan kualitas air, Perumdam mengakui masih terdapat sejumlah kendala di lapangan, namun proses pengolahan dan sterilisasi air terus dilakukan melalui instalasi pengolahan air untuk menjaga mutu layanan. Sementara untuk persoalan kuantitas, terutama di Zona 1, Perumdam meminta masyarakat memahami kondisi geografis dan keterbatasan sumber air yang selama ini menjadi tantangan utama pelayanan.
“Dengan masuknya sumber air Lahelo dalam peta operasi layanan secara bertahap, insyaAllah kita optimistis distribusi air di Zona 1 akan semakin membaik pada akhir tahun 2026 atau paling lambat awal 2027. Masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak, sembari menunggu proses pengembangan sumber-sumber air baru berjalan optimal,” pintanya.
(Redaksi)
Baca juga:















Komentar