BAU-BAU
Festival Keraton dan Masyarakat Adat ASEAN VI Polima yang digelar di Kota Bau-Bau Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) resmi dibuka, Selasa (19/11/19) di stadion Betoambari. Dihadiri delegasi Keraton Kerajaan Kesultanan lintas Negara Asia, se Nusantara, yang membawa kebesaran, estetika dan elegansi budaya masing-masing, bukti kejayaan, keluruhan Kerajaan, Kesulatanan dimasa lampau. Festival yang juga dihadiri beberapa unsur Kementerian Koordinator, Kementerian Pariwisata RI ini digelar 18-21 November 2019, apik dikemas dalam beberapa kemasan rangkaian acara: gala dinner, musyawarah raja/sultan se Nusantara, pembukaan FKMA VI Polima, tarian kolosal, karnaval budaya, pagelaran seni dan budaya, napaktilas nusantara/santiago, peka kande-kandea, pagelaran seni dan budaya, city tour, dan penutupan.
Gubernur Sultra Alimazi tak nampak hadir dalam pembukaan FKMA VI Polima, namun diwakili Pj Sekretaris Daerah (Sekda Sultra) La Ode Mustari, yang menganggap FKMA sebagai momentum strategis untuk mengenalkan kekayaan khazanah budaya kerajaan, kesultanan dan masyarakat adat, sebagai salah satu warisan kejayaan, peradaban dunia. Sekaligus juga kata Mustari, menjadi wahana untuk memperkuat hubungan kerjasama internasional, khususnya Negara-Negara ASEAN.
Menurut Mustari, penyelenggaraan FKMA VI Polima di Kota Bau-Bau, selaras dengan salah satu program prioritas Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara yakni ‘Sultra Beriman dan Berbudaya’.
Sultra Berbudaya kata dia, adalah kebijakan yang bertujuan mengaktualisasi nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, melestarikan adat istiadat setiap kelompok masyarakat, serta memenuhi dan menyelamatkan warisan budaya daerah, sebagai akar budaya bangsa.
Melalui Mustari, Alimazi berharap, penyelenggaraan FKMA dapat memberikan ruang bagi pemerintah, dan masyarakat, untuk mempromosikan kekayaan budaya Kesultanan Buton, serta potensi lainnya. Sehingga, memberi nilai tambah bagi pembangunan daerah.
Baginya suatu kehormatan, Kota Bau-Bau dipercayakan sebagai tuan rumah penyelenggara Festival bertaraf internasional. Merupakan suatu berkah, kehormatan dan istimewa.
Mustari yakin, sebagai tuan rumah, Pemerintah Kota Bau-Bau telah mempersiapkan dengan baik, demi suksesnya event iternasional tersebut.
Wali Kota Bau-Bau Dr AS Tamrin MH dalam kata sambutannya, menjelaskan, Polima (PO-5) disematkan dalam FKMA VI (FKMA VI Polima, red), sebagai upaya untuk memberikan kesadaran terhadap generasi penerus tentang adanya warisan leluhur yang patut ditauladani, terpenting diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai, dalam rangka merevitalisasi kembali mental dan moral yang saat ini sudah parah, perlu dilakukan upaya mengangkat budaya daerah.
“Kita harus jujur, saat ini mental dan moral tanpa perlu disebutkan bagaimana modelnya, sudah rusak. Polima (PO-5, red) memiliki landasan filosofis Sarapataanguna. Sehingga, nilai-nilai tersebut yang ingin diangkat, dan dipadukan dengan suasana kekinian, sebagai makna yang terkandung dalam penyelengaraan FKMA Polima,” jelasnya.
Ketua Forum Silarurahmi Kesultanan Nusantara (FSKN) Sultan Sepuh XIV Pra Arief Natadiningrat mengungkapkan penghormatan kepada para Raja dan Sultan yang menghadiri FKMA VI Polima. Menurutnya, menjadi kebanggaan tersendiri, dapat menyaksikan adat, tradisi dan budaya, sejarah yang ada di Kota Bau-Bau, yang masih terpelihara hingga kini. Bahkan kata dia, Kota Bau-Bau sangat berpotensi menjadi destinasi wisata budaya, religius, dan kuliner.
Melalui momentum FKMA, Pra Arief Natadiningrat berharap, dapat meningkatkan Kota Bau-Bau sebagai Kota Budaya dan Pariwisata, yang ramai dikunjungi wisatawan, dalam negeri maupun mancanegara.
Dalam kata sambutannya kala itu, Pra Arief Natadiningrat memastikan, Keraton-Keraton yang ada di Indonesia merupakan puncak kebudayaan, benteng terakhir pelestarian kebudayaan, yang harus dilindungi dan dilestarikan. Iapun berharap akan lahirnya Undang-Undang tentang Keraton.
“Dari Kota Bau-Bau lah Undang-Undang tersebut diusulkan. Kehidupan berbudaya, adat dan tradisi harus terus dipelihara dan dilestarikan. Sehingga, ada kedamaian dan kesejahteraan dimasa yang akan datang,” tegas Pra Arief Natadiningrat. Suasana pembukaan FKMA VI Polima semakin semarak saat 700 siswa menampilkan eksotisme tari, serta drama kolosal yang mengisahkan jiwa ksatria, kesaktian Sultan Murhum saat melawan La Bolontio.
Tak lama setelah itu, tampil 30 kontingen karnaval budaya dari masing-masing Keraton Kesultanan yang hadir, juga diramaikan hadirnya beberapa Kerukunan Keluarga etnis/suku Bangsa Indonesia, masyarakat (berdomisili, red) di Kota Bau-Bau, yang berpakaian adat, serta menampilkan atraksi budaya masing-masing.
Dalam pembukaan FKMA VI Polima juga dilakukan serah terima cenderamata dari dan kepada Pemerintah Kota Bau-Bau selaku tuan rumah dengan FSKN.
[RED]













Komentar