La Ode Ahmad Monianse menyimak keluhan warga
Baubau
Kesabaran warga yang bermukim di jalan Bhakti ABRI Kelurahan Bukit Wolio Indah (BWI) Kecamatan Wolio Kota Baubau kian berbatas. Pemblokiran jalan pun sempar terjadi, karena air yang menggenang tepat di depan rumah mereka sepertinya sudah semakin membuat tidak nyaman.
Lagi lagi tamu tak diundang itu hadir kembali, Selasa (9/11). Namun, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) tampaknya belum bisa bergerak cepat.
Salah seorang warga yang rumahnya terkena dampak genangan air, Sandi Iskandar, menyayangkan belum adanya langkah konkrit dan solutif dari Pemerintah Kota Baubau.
“Sampai kapan mau begini trus. Air sudah sampe masuk kedalam halaman, garasi, bahkan dalam rumah,” curhatnya.
Wakil Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse, menyempatkan diri melihat langsung kondisi genangan air yang telah sekian tahun belum mampu diatasi hingga tuntas. Menurut Sandi Iskandar, di lokasi, Monianse langsung menghubungi instansi terkait untuk segera merespon, memberikan solusi mengatasi agar genangan air tidak terjadi lagi dan lagi.
Tak lama berselang blokir jalan langsung dibuka. Kondisi arus lalulintas pun kembali normal, meskipun dalam kondisi jalan bergenangan air, bak kolam ikan.
https://www.kasamea.com/alkisah-negeri-po-5-genangan-air-bikin-hidup-warganya-tidak-nyaman/
Sebelumnya, Kasamea.com memberitakan, masih jauh panggang dari api, harapan akan suasana nyaman itu. Alkisah warga yang hidup menetap di Negeri PO-5.
Realita yang terjadi di Jalan Bhakti ABRI BWI, warganya tak bisa menikmati fasilitas jalan raya yang nyaman. Sekian tahun sudah, setiap musim penghujan mereka masih harus berurusan dengan genangan air. Bak penyakit yang terus kambuh atau kumat lagi dan lagi.
Terjadi kembali, Selasa (9/11) siang, hujan yang turun cukup deras akibatnya kembali menggenangi jalan itu. Air bahkan merembes ke halaman, garasi, teras, bahkan ke dalam rumah, tempat usaha warga, yang tentu saja sangat merugikan.
Rupanya Pemerintah Kota Baubau tak tinggal diam. Sebelumnya, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), beberapa bulan lalu telah membuat sebuah sumur resapan. Proyeksinya agar tak nampak lagi “batang hidungnya” genangan air.
Namun ironi, bukannya mengatasi masalah tanpa masalah, proyek dengan anggaran belasan atau puluhan juta rupiah tersebut rupanya bukan solusi terbaik bagi warga, sebab kondisinya tak jauh berbeda dengan sebelum adanya sumur resapan tersebut. Genangan air tetap saja akrab berlama-lama bersama warga sekitar.
Salah seorang warga, Sandi Iskandar mengatakan, Ia bersama warga setempat sangat mengapresiasi, berterimakasih kepada instansi terkait yang sudah menjawab keluh kesah mereka. Meskipun sumur resapan belum mampu mengatasi ketidakny⁵amanan yang hadir bak tamu tak diundang disetiap musim hujan.
“Saya pernah sampaikan ke pihak dinas, supaya dipertimbangkan untuk bangun saja drainase, dari pada sumur resapan. Kan buktinya tidak mampu mengatasi masalah. Sampai sekarang kalau sudah hujan deras dan agak lama, air masih masuk sampai ke dalam rumah kami. Begitu juga dengan tetangga disini,” ungkapnya.
Senasib dengan Sandi Iskandar, Awal, pemilik toko bahan bangunan yang tempat usahanya juga kerap menjadi langganan rembesan air, juga mengungkapkan keluh kesah. Terlebih, genangan air ini sangat berdampak buruk pada usaha yang menjadi satu-satunya harapan mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
“Kemarin dan barusan tadi kita pel lagi dan kita lap bersihkan sampai kering. Itu pak masih ada bekas air dan tanahnya. Kasian tempat usaha kami,” kata Awal, tampak sedih. Sembari menunjukkan sisa basah dan kotor dibawah barang dagangannya.
Warga lainnya, Alan, karyawan bangsal penjualan kayu, menambahkan, genangan air baru bisa surut membutuhkan waktu sampai dua jam lebih. Itupun, sudah menggenangi sampai ke kayu yang mereka jual.
Belum lagi cipratan air dari putaran roda kendaraan yang lewat, yang terkadang tetap melaju tanpa hati.
“Basah kita punya kayu pak. Tapi kita mau bikin apa kasian. Air hujan tetap tergenang berjam-jam meskipun sudah ada sumur resapan. Mudah-mudahan ada solusi lain dari pemerintah, supaya bisa lebih nyaman,” ungkap pemuda ini, berharap ada alternatif kebijakan lain dari pemerintahan yang terus menggaungkan PO-5 ini.
Pantauan Kasamea.com, di sekitar jalan raya langganan genangan air ini terdapat beberapa rumah warga, sebuah taman kanak-kanak, masjid, usaha rumah kos, juga warung sembako. Yang tentu sangat terdampak karena genangan air tersebut.
Semoga PO-5 yang digaung-gaungkan Pemkot di tanah barakati ini, bisa terus berbanding lurus implementasinya dalam memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakatnya. Agar Baubau tercinta senantiasa bisa menjadi tempat tinggal dan mencari makan yang nyaman senyaman-nyamannya. Karena sejatinya pemerintah adalah melayani rakyat, bukan penguasa yang leluasa memetik rente.
(Red)












Komentar